Bidik Milenial, Kedai Kopi Terus Menjamur

177
Oleh : Kartikowati S.Si
Oleh : Kartikowati S.Si

RADARSEMARANG.ID, KOPI merupakan minuman populer di dunia, termasuk Indonesia. Sebagai salah satu negara penghasil kopi berkualitas, tak heran jika peminatnya semakin meningkat dari waktu ke waktu. Minum kopi lekat dengan ritual mengawali hari oleh kaum bapak atau orang tua. Namun saat ini tren nongkrong sambil ‘ngopi’ sudah menjadi gaya hidup sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya kaum milenial. Kebiasaan minum kopi mulai bergeser dari yang hanya dilakukan di rumah, berpindah ke warung kopi pinggir jalan hingga ke kedai kopi modern.

Kopi merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia. Sumber devisa, penyedia lapangan kerja dan sumber penghasilan bagi petani serta pelaku ekonomi lainnya. Kopi tidak hanya dinikmati di dalam negeri namun menjadi primadona di pasar luar negeri. Bahkan Indonesia menjadi negara ke empat di dunia sebagai eksporter kopi setelah Brazil, Vietnam dan Kolombia. Indonesia mengekspor kopi mencapai 279.961 ton atau senilai 815,93 juta US$ pada tahun 2018.

Berdasarkan publikasi Statistik Kopi Indonesia tahun 2018 (BPS), luas areal perkebunan kopi diperkirakan mencapai 1.235.798 hektare. Terdiri atas perkebunan rakyat, perkebunan besar negara dan swasta. Luas areal ini berkurang dari tahun sebelumnya yang seluas 1.238.466 hektare. Sumatera Selatan merupakan provinsi dengan areal kopi terluas yaitu 250.913 hektare pada tahun 2018 atau 20,30 persen dari total luas areal kopi di Indonesia.

Seiring dengan berkurangnya luas areal serta pengaruh curah hujan mengakibatkan berkurang pula produksi kopi nasional. Produksi kopi nasional tahun 2018 sebesar 713.921 ton, menurun dari produksi tahun sebelumnya sebesar  716.089 ton. Daerah penghasil kopi terbanyak berasal dari perkebunan kopi rakyat di Provinsi Sumatera Selatan yang mencapai 184.168 ton atau sekitar 25,80 persen dari total produksi nasional.

Tingkat konsumsi kopi nasional cenderung meningkat dengan pertumbuhan sekitar 8 persen tiap tahun dengan seiring berkembangnya bisnis kopi di dalam negeri. Menurut hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2019, pemuda Indonesia diperkirakan sebesar 64,19 juta jiwa atau seperempat dari total penduduk Indonesia. Tingginya jumlah pemuda serta gaya hidup masyarakat yang menjadikan kedai kopi sebagai tempat berkumpul dan bersosialisasi menunjang alasan konsumsi kopi di kalangan milenial semakin meningkat.

Kedai kopi bukan sekadar tempat menikmati kopi, namun nyamannya suasana membuat milenial merasa di rumah sendiri. Banyak di antaranya yang berkunjung untuk meeting atau menyelesaikan pekerjaannya. Melalui aroma kopi mampu membangkitkan “moodbooster” hingga menghasilkan produktivitas lebih baik. Berdasarkan penelitian, dengan mengonsumsi tiga hingga empat cangkir kopi sehari diyakini dapat mengurangi risiko penyakit jantung serta menurunkan risiko kematian dini. Namun konsumsi kopi dapat menimbulkan efek ketergantungan, sehingga penikmat kopi sulit menghentikan kebiasaan minum kopi.

Minum kopi bukan hanya sebagai pereda rasa kantuk, namun telah menjadi gaya hidup kaum milenial. Tanpa menghilangkan rasa pahit sifat aslinya, kedai kopi menawarkan berbagai racikan spesial. Kedai kopi berlomba-lomba menarik hati milenial dengan menyuguhkan beragam menu yang bervariasi, lebih inovatif, harga ramah serta menonjolkan interior dan tatanan ruangan yang nyaman dengan fasilitas free wifi.

Meningkatnya konsumsi kopi nasional, menjadikan kedai kopi mempunyai prospek menjanjikan ke depannya. Dengan ditunjang pasokan bahan baku kopi yang melimpah, menjamurnya kedai kopi dapat meningkatkan konsumsi hasil olahan biji kopi nasional. Menyikapi naik turunnya harga kopi di tingkat dunia, kedai kopi mampu menjadi solusi untuk menaikkan nilai jual komoditas kopi. Kehadiran kedai kopi diharapkan mampu mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif komoditas kopi baik di pasar dalam negeri maupun luar negeri. (smd1/lis)

 

Statistisi Pertama BPS Kabupaten Semarang





Tinggalkan Balasan