Tahun Baru dan Momentum Akuntansi Keluarga

328

RADARSEMARANG.ID, Tahun baru adalah momentum penting untuk perencanaan kebutuhan dan impian keluarga. Tidak banyak keluarga yang menuliskan dengan baik apalagi memetakannya untuk satu tahun kedepan. Bahkan masih banyak yang beranggapan mencatat setiap pendapatan dan pengeluaran keluarga hanyalah budaya orang-orang pelit. Akibatnya banyak sumber daya keuangan keluarga tersita untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang sifatnya konsumtif, sumber defisit keluarga juga tidak teridentifikasi dengan baik karena tidak tercatat dengan baik.

Akuntansi keluarga dapat dilakukan dengan mencatat setiap ativitas penerimaan dan pengeluaran keluarga sehingga dapat menghasilkan informasi surplus atau defisit. Selain itu juga sebagai alat check dan balance terhadap capaian tujuan jangka pendek/panjang keluarga. Alasan pentingnya akuntansi keluarga adalah melindungi harta bukan hanya dari aksi pencurian tetapi juga dari kehilangan nilai dan penyalahgunaan misalnya perilaku konsumtif, mubadzir dan berlebihan, atau disfungsi tata kelola yang menyebabkan hilangnya harta yang sudah dimiliki. Oleh karena itu diperlukan langkah sederhana untuk memulai akuntansi keluarga diawal tahun ini (mengutip dari buku sakinah finance, 2018.

Pertama, menetapkan tujuan, kebutuhan dan impian keluarga. Setiap awal tahun merupakan waktu yang tepat untuk menetapkan dan mengevaluasi tujuan jangka panjang/menengah keluarga (5-10 tahun) dan menyusun kembali impian setahun ke depan. Hal yang perlu didiskusikan bersama anggota keluarga dengan memetakan kebutuhan prioritas : a) Kebutuhan primer (necesitty/dharuriyah) yaitu kebutuhan untuk melindungi agama, jiwa, akal, keturunan dan harta, b) Kebutuhan sekunder (needs/hajiyyat) yaitu apa-apa yang mengurangi beban hidup seseorang seperti kendaraan yang dipakai atau rumah yang nyaman, 3) Kebutuhan pelengkap kehidupan (barang mewah/tertiary/tahsinniyat) yaitu segala sesuatu yang memperindah, melengkapi dan menyempurnakan kehidupan. Setelah diperoleh skala prioritas kebutuhan primer, sekunder, tersier selanjutnya dicatat dalam satu buku untuk memudahkan pencapaiannya.

Kedua, menyusun neraca awal dan budgeting. Neraca awal ini untuk mengetahui nilai asset dan kewajiban keluarga kita. Budgeting berguna untuk mengetahui batas kemampuan keluarga dibandingkan dengan daftar kewajiban dan keinginan yang sering tak terbatas. Dengan penetapan anggaran, pendapatan dan belanja keluarga kita bisa lebih mengatur arah kondisi keuangan setahun ke depan.

Ketiga, perencanaan keuangan keluarga. Tahapan terpentingnya pertama adalah mengidentifikasi pendapatan, pendapatan harus dipastikan dari sumber yang bersih/ halal. Karena sebagus apapun pencatatan akuntansinya akan sia-sia jika pendapatan bersumber dari yang tidak bersih/ tidak halal. Kedua adalah memetakan kebutuhan primer, sekunder, dan tersier, ketiga adalah mengelola surplus sebagai kondisi ideal dan bagaimana menyiasati kondisi defisit dan keempat contingency pan yaitu mempersiapkan diri menghadapi ketidakpastian atau risiko yang tidak kita inginkan misalnya dengan sharing risiko dengan skema asuransi/takaful.

Keempat, otomatisasi pengeluaran. Pengaturan rutin keuangan keluarga dapat menggunakan fasilitas autodebit atas rekening bank yang kita tunjuk misalnya untuk cicilan pembiayaan rutin bulanan keluarga dan asuransi.
Kelima, membuat catatan harian penerimaan dan pengeluaran keluarga. Tahapan ini adalah yang paling sulit untuk diimplementasikan karena komitmen dan disiplin sangat diperlukan agar menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Diperlukan pengelompokan pengeluaran, selanjutnya diperlukan evaluasi dan pencocokan dengan budget bulanan/tahunan.

Keenam, membuat laporan keuangan keluarga. Laporan keuangan berupa neraca sederhana dan arus kas sangat diperlukan untuk check terhadap pencapaian tujuan jangka menengah/Panjang keluarga, dasar perhitungan zakat bagi keluarga muslim, mendeteksi dini perilaku korupsi yang dilakukan oleh anggota keluarga.

Ketujuh, audit keuangan keluarga. Tujuan audit ini untuk memeriksa arus lalu lintas keuangan keluarga selama 1 tahun penuh, antara lain sebagai berikut : a) apakah ada transaksi uang masuk dan uang keluar yang bersentuhan dengan riba, haram, subhat? b) apakah sudah dipastikan barang yang dibeli dan diterima adalah yang halal dan thoyib, c) apakah ada transaksi yang diam-diam dilakukan oleh suami/istri/anak/orangtua berkaitan dengan utang piutang, c) apakah ada pengeluaran yang mubadzir d) apakah ada utang, zakat dan kewajiban yang belum dibayarkan, e) apakah ada piutang yang belum diterima dengan selayaknya, f) apakah ada impian keluarga yang harus dicapai lebih cepat atau di undur waktunya?

Selamat mengawali tahun baru dengan akuntansi keluarga, membudayakan mencatat setiap penerimaan/pengeluaran, mencatat kebutuhan dan impian keluarga. Impian yang tertulis akan menjadi pengingat (constant reminder), menjadi motivasi untuk mewujudkannya dengan cara yang bersih dan halal sehingga ada kontribusi keluarga kita untuk mencegah perilaku korupsi di negara kita tercinta.

Wakil Dekan II Fakultas Ekonomi Unissula, Trainer Sakinah Finance, Pengurus Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Wilayah Jawa Tengah