Perampingan Birokrasi dalam Menghadapi Tantangan 2020

578
Endang Sarwiningsih S, SE, MM, Ak
Endang Sarwiningsih S, SE, MM, Ak

“Efisiensi birokrasi mungkin memang merupakan keniscayaan yang tidak bisa dihindari dalam menghadapi tahun-tahun mendatang. Akan tetapi hal ini mungkin akan membawa beberapa konsekuensi. Pemerintah tentunya juga perlu mempertimbangkan dampak dari rencana kebijakan yang akan diambil untuk meningkatkan efisensi melalui reformasi birokrasi ini”.

Oleh : Endang Sarwiningsih S, SE, MM, Ak

RADARSEMARANG.ID, DALAM periode kedua pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kali ini birokrasi kembali menjadi fokus perhatian. Bahkan reformasi birokrasi menjadi satu dari visi utama Presiden Jokowi dalam periode pemerintahan lima tahun keduanya. Bukan hanya di tingkat pusat reformasi birokrasi ini pun akan diwujudkan di tingkat daerah.

Penekanan reformasi birokrasi ini merupakan bentuk upaya presiden Jokowi untuk meningkatkan investasi. Sebab, menurut Presiden Jokowi, investasi asing merupakan kunci bagi Indonesia agar dapat bertahan di tengah ancaman resesi dan ketidakpastian ekonomi global. Oleh karena itu birokrasi harus dapat mendukung investasi.
Perhatian serius presiden Jokowi terhadap tantangan tahun depan (2020) ini bukan hal yang berlebihan. Hal ini mengingat bahwa banyak pengamat yang menyatakan bahwa perekonomian Indonesia tahun 2020 menghadapi banyak tantangan. Kuatnya tekanan eksternal kemungkinan akan membawa pengaruh pada kinerja ekonomi dan bisnis dalam negeri. Hingga JP Morgan, Bank AS, meramal pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini dan tahun depan di bawah 5%. Ramalan paling pesimistis mengenai pertumbuhan Indonesia.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, juga pernah menyatakan bahwa dengan melakukan transformasi dan reformasi birokrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat diharapkan meningkat. Oleh karena itu upaya reformasi birokrasi harus meliputi seluruh instansi pemerintah, karena selama ini kebanyakan pelayanan yang dilakukan dinilai belum efisien. Menurut Sri Mulyani melalui reformasi birokrasi diharapkan lembaga-lembaga negara dapat menjadi semakin efisien, cepat dalam melayani dan memberikan izin.

Dalam hubungannya dengan penerapan reformasi birokrasi ini rencana mulai tahun depan Presiden Jokowi akan memangkas jumlah eselon kementerian yang selama ini dianggap hanya menghambat arus investasi masuk. Presiden Jokowi akan melakukan reformasi birokrasi di tubuh kementerian.

Dalam literatur manajemen kebijakan pemangkasan eselon ini dapat dipandang sebagai penerapan lean manajemen. Lean adalah suatu upaya terus menerus untuk menghilangkan pemborosan dan meningkatkan nilai tambah produk agar memberikan nilai kepada pelanggan. Pada fakta di lapangan konsep lean digambarkan dalam rasio-rasio antara nilai tambah dibandingkan pemborosan.
Lean management (manajemen yang ramping), pada 1980-an hingga 1990-an, sebenarnya sudah menjadi pilar wacana dan praktik bisnis, serta sering menjadi subjek penelitian akademis. Para pemimpin organisasi bisnis besar sudah mulai sadar akan adanya kebutuhan untuk memotong kelebihan overhead manajerial dan pemangkasan hierarki untuk pengambilan keputusan yang lebih cepat, ketika mereka merampingkan dan merestrukturisasi perusahaan mereka.

Beberapa penelitian akademis saat itu menunjukkan bahwa konsep leanness, dan restrukturisasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap praktik manajemen dan sekaligus menunjukkan bukti bahwa praktik ini mampu meningkatkan kinerja organisasi.
Baik penganut teori post-birokrasi dan neoliberal juga sepakat bahwa alasan utama kecenderungan membangun lean management sebenarnya adalah reaksi dari ketidakstabilan lingkungan yang disebabkan oleh pasar yang bergejolak. Turbulensi ini mencakup tingkat persaingan, teknologi yang berubah dengan cepat dan tuntutan masyarakat/konsumen.

Teori lean organisasi telah menunjukan bahwa jumlah level dalam organisasi berhubungan dengan gaya organisasi yang lebih reaktif. Premis birokrasi yang lazim muncul dalam pembahasan terkait teori lean manajemen menujukkan bahwa jumlah level manajemen memiliki hubungan dengan antisipasi masalah produktivitas di masa depan, serta peningkatan kinerja actual.

Literature menunjukkan bahwa keuntungan lain dari managemen yang ramping adalah anggota organisasi lebih terbuka untuk perbaikan dan siap mencari cara-cara baru untuk membuat pekerjaan yang mereka lakukan memiliki dampak pada organisasi. Disamping itu atasan dapat berkomunikasi secara rutin dengan bawahan tentang pekerjaan dan proses yang mereka mereka jalani, sehingga ini mengakibatkan abwahan dapat merasa bahwa mereka diberdayakan untuk membuat keputusan yang lebih baik.

Namun demikian penerapan lean managemen bukan tidak memiliki potensi masalah. Sebab tidak semua angggota organisasi bersedia menerima praktik lean manajemen. Penerapan gaya ini akan membutuhkan banyak kesabaran dan perbaikan total untuk proses kerja. Ini mungkin bukan sesuatu yang nyaman bagi sebagian orang. (*)