Revolusi Industri 4.0, Peluang Sekaligus Ancaman

154
Yenny Kumalasari T *)
Yenny Kumalasari T *)

RADARSEMARANG.ID, REVOLUSI Industri 4.0 adalah era di mana hadirnya teknologi canggih yang memiliki peran besar dalam kehidupan manusia. Teknologi yang berpotensi mengubah cara hidup ini di antaranya adalah Internet of Things, Artificial Intelligence, Human-Machine Interface, Mechine Learnings, dan 3D Printing. Berikut beberapa perubahan yang belum pernah disaksikan sebelumnya dan akan segera mendominasi kehidupan manusia. Pertama, interoperabilitas antarperangkat yang berbeda. Interoperabilitas merupakan kemampuan mesin, perangkat dan manusia untuk saling terhubung dan berkomunikasi melalui media Internet of Things. Kedua, meningkatnya transparansi informasi berkat kemampuan pengolahan data dalam jumlah yang besar tanpa ada batasan-batasan tertentu. Ketiga, kemampuan artificial intelligence dalam melakukan tugas-tugas kognitif yang melebihi kemampuan manusia. Teknologi yang berbasis komputer mempunyai kelebihan karena bekerja lebih cepat, akurat dan memakan biaya yang lebih sedikit. Namun, kemajuan teknologi informasi dan robotik dalam kecepatan yang tidak terpikirkan sebelumnya tidak hanya membawa dampak positif bagi pertumbuhan perusahaan atau perekonomian suatu negara tetapi juga dampak negatif yang dapat menimbulkan gejolak sosial, misalnya peningkatan angkat pengangguran dan kemiskinan.

Bagi masyarakat Indonesia, dampak revolusi industri 4.0. sudah dapat disaksikan saat ini. Orang tidak perlu lagi keluar rumah untuk membeli keperluan sehari-hari, cukup dengan menggunakan aplikasi Go-food, Grab, Tokopedia, Bukalapak sehingga menghemat waktu dan uang. Super market dan mall mengaku jumlah pelanggan yang datang berbelanja mengalami penurunan yang tajam dan sebagian terancam gulung tikar. Super market besar seperti Matahari, Ramayana dan Giant dilaporkan telah menutup sebagian outlet mereka karena pelanggan yang semakin sepi. Kebiasaan berbelanja secara daring telah mengubah pola hidup masyarakat kita. Di sisi lain, kemajuan teknologi industri telah menciptakan lapangan kerja baru dan profesi baru. Bagi mereka yang ingin bekerja secara fleksibel tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu dapat melakukan usaha mereka tanpa harus bekerja dalam suatu gedung perkantoran. Beberapa waktu yang lalu ada sempat terlontar ide untuk mengizinkan pegawai negeri bekerja di rumah tanpa harus masuk kantor.

Wacana tentang revolusi industri 4.0 yang terus menerus menggema di ruang kuliah, seminar, dan juga di ruangan-ruangan rapat perusahaan atau pemerintah telah menimbulkan antusiasme yang besar dan pada saat yang sama juga memberi perasaan takut di sebagian masyarakat Indonesia. Saat menghadiri Industrial Summit di Jakarta Convention Center pada tanggal 5 April 2018, Presiden Jokowi mengatakan bahwa Indonesia harus mengantisipasi kedatangan Industri 4.0 dengan bijak karena perubahan akan terjadi 10 kali lebih cepat dan dampaknya 300 kali lebih luas. Bagaimana tidak, perkembangan artificial intelegence (AI) dan machine learning diyakini akan menghilangkan berbagai pekerjaan yang dikenal saat ini seperti analis saham, akuntan, teller bank, dan bahkan guru dan dosen juga mungkin tidak dibutuhkan lagi. Bagi Indonesia yang akan segera mengalami bonus demografi, berkurangnya jenis-jenis pekerjaan tersebut dapat memicu masalah-masalah sosial sehingga perlu merancang strategi yang tepat untuk mengambil keuntungan dari revolusi 4.0.

Di antara berbagai teknologi yang menopang revolusi industri 4.0, perkembangan AI yang paling banyak memicu kekhawatiran dan perdebatan. Tidak hanya mengancam keberadaan pekerjaan tradisional yang ada saat ini, lebih dari itu bahkan mengancam eksistensi umat manusia. Elon Musk, seorang yang banyak terlibat dalam pengembangan AI, dalam berbagai kesempatan menyuarakan kecemasannya tentang perkembangan AI yang tidak terkendali yang berpotensi menyingkirkan eksistensi manusia. Dia menyarankan kerja sama internasional untuk membatasi penggunaan AI sehingga tidak jatuh pada seorang pemimpin negara yang otoriter.

Menurut para ahli yang berkecimpung dalam pengembangan AI, teknologi AI yang ada saat ini masih dalam tahap pengembangan sehingga lebih tepat dikatakan sebagai AI yang sempit (narrow AI) atau AI yang lemah (weak AI). Artinya, teknologi ini masih terbatas penggunannya pada tugas-tugas yang sempit seperti mesin pencari Google atau mobil tanpa pengemudi. Ketika AI telah mencapai puncak perkembangannya suatu waktu di masa yang akan datang, kemampuan AI akan melebihi manusia dan berpotensi membawa malapetaka bagi umat manusia. Misalnya, di tangan seorang pemimpin negara  yang tidak bertanggung jawab senjata-senjata pembunuh masal yang diprogram dengan AI dapat memicu perang AI yang dapat melenyapkan sebagian populasi manusia. Dalam suatu interview dengan BBC tahun 2004, Stephen Hawking mengatakan bahwa AI yang telah mengalami perkembangan penuh dapat menebar ancaman atas keberadaan umat manusia karena mampu melakukan sesuatu atas kemauan sendiri dan manusia akan segera tersingkir.

Mengingat ancaman dan sekaligus peluang yang muncul dari Revolusi Industri 4.0, sudah seharusnya kita memikirkan lebih mendalam langkah-langkah antisipatif agar kemajuan teknologi dapat diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Potensi bahaya yang mengancam umat manusia harus ditekan sekecil mungkin dan jika memungkinkan dihilangkan sama sekali. Industri di Indonesia akan semakin produktif dan dapat bersaing dengan Negara-negara lain jika mampu mengimplementasikan revolusi industri 4.0. Masyarakat perlu untuk meningkatkan kemampuan dalam belajar dan skill yang mampu bersaing dan dibutuhkan dalam revolusi industri ini. Perubahan dalam revolusi industri ini merupakan suatu hal yang tidak terhindarkan. Masyarakat akan mendapat manfaat yang besar saat dapat beradaptasi dalam revolusi industri ini. (*)

 

*) Mahasiswa Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Soegijapranata