Kearifan Lokal untuk Perlindungan Air di Jawa Tengah

573

RADARSEMARANG.ID, KETERSEDIAAN air bersih yang berkelanjutan merupakan tujuan keenam SDGs. Dalam RPJMN 2015-2019 ditargetkan peningkatan akses terhadap layanan air minum menjadi 100 persen. Sampai tahun 2019 akses air bersih di Jawa Tengah 90 persen, belum mampu memberikan akses air bersih untuk seluruh masyarakat.

Potensi air permukaan di Jawa Tengah 65,13 miliar m3/th dan air tanah 7,49 miliar m3/th yang tersebar di 31 cekungan air tanah (CAT). Tetapi 1.319 desa di 287 kecamatan rawan kekeringan sehingga potensi yang besar belum menjamin ketersediaan air bagi seluruh wilayah.

Bahkan menurut Purnama (2008) pada 2020 hanya Karanganyar, Banjarnegara dan Wonosobo yang potensi airnya aman sedangkan lainnya dalam level waspada-kritis.

Masalah air bersih bukan hanya menyangkut jumlah namun juga kualitas air. Meskipun 53,03 miliar m3 air permukaan belum terpakai tetapi dari segi kualitas perlu dikaji apakah masih layak dikonsumsi (tercemar/tidak). Demikian juga dengan air tanah, apakah cadangannya terukur dan bagaimana kemampuan untuk mengambil air tanah tersebut. Persebaran air yang tidak merata juga menjadi masalah tersendiri, sebagian wilayah kaya air sedang lainnya sangat minim seperti di Blora, Grobogan dan Kebumen karena secara geohidrologi termasuk daerah non-CAT.

Mengatasi permasalah air bukan hanya tanggung jawab pemerintah tetapi menjadi tanggung jawab bersama karena batas CAT dan sungai bisa lintas kabupaten dan provinsi. Karena rumitnya, peran serta masyarakat sangat dibutuhkan di antaranya dengan melakukan perlindungan sumber air. Dukungan masyarakat sebenarnya sudah mengakar di beberapa wilayah melalui kearifan lokal. Sayangnya kearifan lokal mulai ditinggalkan karena modernisasi yang menciptakan homogenisasi dan menghilangkan karakter lokal. Alam dan manusia itu unik dengan topografi, morfologi, geologi dan iklim yang berbeda sehingga tidak bisa diperlakukan secara seragam.

Kearifan lokal di beberapa wilayah di Jawa Tengah memiliki peranan penting dalam konservasi air. Di Segoromulyo, Pamotan, Rembang terdapat kearifan lokal berupa gugur gunung dan tamarjan (Purwanto, 2018). Tamarjan merupakan tampungan air di depan rumah untuk menampung air hujan dan merupakan tindakan preventif untuk mengurangi dampak kekeringan. Gugur gunung dilakukan dengan merawat pohon-pohon berusia puluhan tahun yang ada di pemakaman sehingga sumber mata air terbesar di desa ini masih terjaga debitnya.

Di Kendal Ngisor, Banyubiru, Semarang terdapat nyadran kali dan gunung (Setyaningsih dkk, 2019). Nyadran kali dilakukan dengan membersihkan 4 mata air dusun yaitu Pecak, Petung, Puthek dan Dusun. Pantangan membuat lahan pertanian dan menebang pohon di lereng gunung dalam nyadran gunung termasuk upaya untuk menjaga fungsi ekologis lereng sebagai daerah resapan. Dengan kearifan lokal kebutuhan air masyarakat dapat terpenuhi dari empat mata air dusun.

Kearifan lokal di Ngrancah, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang mampu meningkatkan kualitas ekologi desa (Tajudin, 2017). Sebelum  2010 Ngrancah termasuk wilayah rawan kekeringan dengan 115 ha lahan kritis. Dengan mempertimbangkan karakteristik lahan dikembangkan reboisasi menggunakan tanaman semusim seperti sengon, suren dan kopi.

Dalam waktu 10 tahun penghijauan yang dilakukan berhasil menambah jumlah mata air dari 10 menjadi 22 titik sehingga saat ini Ngrancah terbebas dari kekeringan.

Dengan melihat manfaat dari kearifan lokal maka menjadi tugas bersama agar kearifan lokal yang bernilai positif bagi lingkungan dapat dilestarikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Pewarisan tersebut selama ini dilakukan melalui kegiatan nonformal sehingga pada masa mendatang kearifan lokal dapat diwariskan dengan dukungan lembaga formal. Dengan adanya peran masyarakat yang bersinergi dengan program konservasi air Pemerintah Provinsi Jawa Tengah diharapkan pada masa mendatang tujuan untuk meningkatkan 100 persen akses air bersih bagi masyarakat di daerah perkotaan maupun pedesaan bisa tercapai. (*)

 

Geografi UNNES