alexametrics


Pegang Tiga Kunci Mendidik Logika, Etika, Estetika

Kepala SMP Negeri 10 Semarang Erwan Rachmat

Rekomendasi

Menarik

RADARSEMARANG.ID – Tugas guru tak sekadar menyampaikan materi pelajaran kepada anak didiknya. Tapi juga dituntut kreatif dan inovatif. Sehingga apa yang disampaikan bisa diterima dengan mudah. Tuntutan guru juga tak sebatas mencerdaskan dari sisi akademik, tapi juga etitut, perilaku dan akhlak anak didik.

Erwan Rachmat adalah guru yang menekankan logika, etika, dan estetika dalam mendidik. Bagi Kepala SMP Negeri 10 Semarang ini, tiga hal tersebut merupakan kunci yang harus dipegang. “Semakin logikanya bagus, keberhasilan hidupnya semakin tinggi. Termasuk etika dan estetika juga harus menjadi satu padu,” ujarnya.

Tiga prinsip mendidik Erwan itu didapat dari pengalamannya selama menjadi guru dari satu sekolah ke sekolah lain.”Kalau kita membangun logika etika dan estetika, pasti kita jaya. Aturan iya, keindahan perlu diciptakan, logika perlu dibangun. Sehingga tiga itu terkumpul menjadi partikal yang bagus,” ujarnya.

Menurutnya, menjadi seorang guru tidak harus melulu mengajarkan kompetensi dasar yang ada di kurikulum. Guru harus lebih banyak menanamkan karakter yang baik. Sehingga ke depan, siswa akan menjadi generasi yang betul-betul berkarakter. “Tapi kalau guru hanya sekadar menyuapi, ya pendidikan tidak akan maju terus,” katanya.

Pria kelahiran Semarang 15 Januari 1958 itu, juga tak bosan memberikan masukan kepada para guru agar terus berinovasi. Sebab, jika hanya sebatas memberi materi dalam kurikulum saja, ilmu pengetahuan sudah final. Semua sudah ada di internet.

“Kecerdasan buatan sudah banyak. Otak manusia saja kalah. Tapi kita tidak hanya mengandalkan itu. Maka kita andalkan logika etika dan estetika,” tegasnya.

“Kadang guru terlalu ideal. Tapi setelah diuji, juga ada yang hasil UKG terlalu rendah. Guru itu harus sadar diri tentang hakekat guru. Murid yang baik pasti dihasilkan dari guru yang baik,” katanya.

Menurutnya, metode pembelajaran yang efektif, guru harus mengenal betul karakter murid. Bukan menjejali murid dengan materi yang dipahami guru saja. “Ketika murid senang dengan pembelajaran visual, tapi kita justru memberikan dengan cara kinestetik, maka akan sulit masuk,” terangnya.

Erwan pun tidak melulu memberikan materi dengan konsep logika. Sebab, kalau banyak materi pasti akan lupa. Dia lebih banyak praktik.

Baginya, menjadi guru bijak akan lebih bisa diterima dan disegani ketimbang menjadi guru killer. “Jangan terlalu keras memberikan hukuman terhadap mereka, sebab itu nantinya akan membekas,” terangnya.

Pihaknya juga berpesan, kepada para calon guru yang perlu ditanamkan betul adalah penguasaan teknologi dan ilmu pengetahuan.

“Tetapi yang lebih penting lagi, bagaimana mereka sebagai calon guru karakternya harus kuat. Jangan sampai hanya dapat di satu sisi saja. Teknologi tinggi tapi kedisiplinan dan kejujuran kurang. Kerja samanya kurang. Percuma,” tandasnya.

Rutin Puasa Senin dan Kamis

Bagi Erwan Rachmat, perjalanan untuk menjadi kepala sekolah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Hal yang paling utama adalah rajin belajar, beribadah dan rajin puasa Senin dan Kamis. “Sejak kecil sudah terbangun dengan itu,” katanya.

Sebenarnya, ketiak kecil, diakui Erwan, ia sedikit bandel dan sering berkelahi. Lingkungan pergaulan dekat dengan aktivitas perjudian dan mabuk-mabukan. Bahkan, jumlah anak yang sekolah lebih sedikit dibanding yang tidak sekolah.

Meski demikian, sifat bandel tersebut tidak berlanjut hingga usia remaja. Ketika duduk di bangku SMP telah terbesit untuk menata masa depan yang lebih baik. “Saya kan di Krobokan. Ketika kelas 3 SMP saya sadar, kalau nanti saya melanjutkan ke STM, SMA, saya tambah nakal. Akhirnya saya melanjutkan ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri di Semarang,” terangnya.

“Saya lulus tahun 1987 dari SPG, tahun 1990 saya baru kuliah, di S1 karena tidak punya biaya,” tuturnya.

Sambil kuliah di Jurusan Bahasa Indonesia IKIP Semarang (sekarang Universitas Negeri Semarang, red), Erwan nyambi bekerja. Ia menjadi guru tidak tetap di sekolah negeri dan swasta. Setelah menyandang gelar sarjana, ia tetap mengajar di sekolah dan lembaga bimbingan belajar. Selain itu juga memberi les Pendidikan ke siswa SD. “Saya berangkat pagi, pulang petang pendapatan pas pasan,” katanya.

Pada 1997, Erwan diterima menjadi PNS. Ia ditugaskan menjadi pengajar Bahasa Indonesia di SMP Negeri 18 Semarang. Di sekolah ini, ia karirnya mulai naik. Bahkan ia pernah menjabat sebagai wakil kepala sekolah. Baru di 2016, ia pindah ke SMP Negeri 10 Semarang. Jabatannya telah menjadi kepala sekolah. “Awalnya juga tidak menyangka bisa menjadi guru, dan saya dulu dikenal sebagai guru yang galak,” ujarnya. (mha/zal/ton/bas)

 

Terbaru

Populer