Sareh Sumeleh, Acuhkan Pandangan Negatif Orang

Ketua KPU Kendal Hevy Indah Oktria

Hevy Indah Oktria

RADARSEMARANG.ID – Hidup itu sederhana dan simpel. Pertama jangan memusingkan komentar orang yang memfitnah sana sini menjelekkan ke sana kemari tentang dirimu. Kedua jadilah dirimu sendiri yang sesuai kemampuanmu.  Lalu nikmati hidupmu dan syukuri apa yang kamu punya dan jalani apa yang kamu inginkan.

Itulah, prinsip hidup Hevy Indah Oktaria, Ketua KPU Kendal. Menurutnya, bekerja di KPU tentu ada orang yang suka dan tidak suka. Terlebih saat pemilu berlangsung banyak kepentingan yang memang harus menuntutnya profesional.

“Mereka yang tidak suka, tentu karena kepentingannya tidak tersampaikan. Baik kalah atau merasa dirugikan. Kemudian menganggap KPU tidak adil, meskipun kami sudah menjalankan sesuai aturan yang berlaku,” kata Hevy.

Terlebih stigma sebagian masyarakat bahwa KPU selalu terkesan negatif karena dianggap lekat politik transaksional. Sehingga banyak fitnah dan gunjingan yang menyudutkannya. Padahal hal itu tidak benar.

“Kalau saya tidak pernah ambil pusing orang berkomentar seperti apa, karena sudah kebal. Prinsip saya, dua tangan saya tidak akan cukup menutup mulut orang lain untuk berbicara. Tapi Tuhan menciptakan dua tangan cukup untuk menutup kedua telinga saya. Jadi terserah orang mau bilang apa. Dan saya memilih untuk tidak mendengarkannya,” tutur ibu dua anak ini.

Menurutnya sudah menjadi risiko pekerjaan sebagai pelayan publik di KPU untuk menerima kritikan dan cercaan. Tapi sebisa mungkin ia menjalankan tugas dan kewajibannya sesuai aturan yang berlaku. “Sareh dan sumeleh (pasrah) saja sama Yang Maha Kuasa,” akunya.

Pengalamannya, dua periode di KPU Kendal, istri dari Sonakha Yuda Laksono mengaku setiap kali pemilihan berlangsung memang ada orang atau kelompok yang tidak puas dengan hasil keputusan KPU. Terutama dari pihak yang kalah.

“Kalau ancaman jiwa dan keluarga, sampai saat ini tidak pernah. Tapi fitnah itu sudah sering. Bagi saya itu hal wajar, semua saya kembalikan kepada aturan. Jika tetap tidak puas dengan hasil, silakan mengajukan gugatan hukum,” tandasnya.

Namun di balik hal menegangkan kerja di KPU,  alumni Magister Ilmu Politik Undip ini mengaku ada hal menarik. Pertama adalah ia jadi mengetahui politik dan kenal dengan banyak politisi.

“Dapat ilmu baru, yang itu tidak didapat dari kuliah. Bahwa politik itu tidak sekadar partai politik (parpol) dan pemilu saja. Tapi prosesnya, untuk merangkul orang-orang parpol dan berbagai kalangan itu juga politik,” tandasnya.

Politik baginya adalah sesuatu hal yang menarik sosial masyarakat. Makanya ia tak pernah berhenti belajar saat berbicara tentang politik. Ada berbagai peristiwa yang berbeda pengalaman setiap kali masa pemilu berlangsung.

Perihal dukanya di sebagai ketua KPU, Hevy mengaku lebih jarang kumpul bersama keluarga. Terlebih saat mulai proses Pilkada Kendal 2020 ini, lebih sering lembur dan pulang larut malam. “Waktu keluarga lebih sedikit. Tapi untung anak-anak dan suami bisa mau mengerti pekerjaan saya. Jadi kalau pulang larut malam, mereka sudah tahu,” tandasnya.

Untuk menuntaskan hal itu, biasanya ia gantikan dengan di waktu libur bersama suami dan anak-anak di rumah. “Ngabisin waktu di rumah saja, masak masakan kesukaan anak-anak dan suami sembari nonton film. Karena kebetulan hobi saya ini masak dan nonton,” tambahnya.

Dari Teller Bank Jadi Ketua KPU

Sebelum di KPU, Hevy Indah Oktria memiliki pengalaman unik dengan pekerjaannya. Bahkan ia mengalami loncatan yang cukup jauh. Bagaimana tidak, sebelum di KPU Hevy pernah menjadi karyawan di salah satu bank milik BUMN.

Sebelum mengambil Magister Ilmu Politik, ia sarjana ekonomi Undip. Maka, lulus kuliah, Hevy melamar sebagai teller bank. “Alhamdulillah diterima, penempatannya berpindah-pindah. Terakhir paling jauh ditempatkan di Kabupaten Pemalang,” katanya.

Pengalamannya sebagai pegawai bank mengajarkannya bahwa pelayanan harus dilakukan secara baik kepada seluruh nasabah bank. “Itu pula yang saya terapkan saat di KPU. Bagaimana berkomunikasi baik dengan pemilih dan peserta pemilu serta politisi dengan berbagai beda-beda karakter,” tuturnya.

Alasan sering dimutasi itulah, Hevy akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai pegawai bank. Sekitar tahun 2009, ia keluar agar lebih dekat dengan keluarga. “Kebetulan saat itu anak pertama lahir, jadi agar bisa kumpul saya memilih resign dari pekerjaan,” jelasnya.

Sembari merawat anak, Hevy juga mencari pekerjaan yang tidak terpaut jarak terlalu jauh. Sehingga masih bisa menghabiskan waktu bersama keluarga. “Kerja seadanya. Pernah juga kerja di perusahaan periklanan. Pernah ikut LSM di Semarang yang fokus pada pengembangan ide masyarakat,” tuturnya.

Dari kerja dan hidup ala kadarnya, akhir pada 2018 ia melamar sebagai komisioner KPU Kendal. “Alhamdulillah langsung diterima, dan ke dua kali ini saya dipercaya menjadi Ketua KPU Kendal,” akunya.

Menurutnya kerja di KPU bukanlah pekerjaan yang ia impikan sejak awal. Karena ia tidak pernah berpikir untuk terjun ke dunia politik. Tapi saat di KPU, Hevy mengaku banyak mendapatkan pengalaman. “Bisa banyak belajar untuk pengembangan diri dan lebih memberikan manfaat bagi banyak orang,” tambahnya. (bud/lis/bas)





Tinggalkan Balasan