alexametrics


Benda-Benda Cagar Budaya Tak Terurus, Ada yang Hilang Dicuri

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Tak sedikit benda-benda cagar budaya berserakan, tak terurus. Bahkan, ada yang berada di lingkungan rumah warga. Padahal dari benda-benda cagar budaya itu jejak sejarah bakal terungkap.

Di wilayah Kota Semarang hingga saat ini memang belum pernah dijumpai bangunan candi utuh. Tapi di sejumlah tempat telah ditemukan sejumlah batuan yang diduga kuat sebagai bagian dari candi di masa lalu. Wilayah Mijen menyimpan misteri candi masa lalu terbesar.

Sulistiono masih ingat ketika ia kali pertama mendapat kabar adanya batuan-batuan besar berserakan di peternakan ayam pada 2015. Batuan tersebut sebenarnya sudah lama diketahui masyarakat di sekitar peternakan ayam di Dusun Tempel, Kelurahan Jatisari, Kecamatan Mijen, Kota Semarang. Warga Mijen ini lantas menghubungi rekan-rekannya untuk menengok dan memastikan kabar tersebut.

Ternyata benar. Di lokasi peternakan ayam petelur tersebut, ada sejumlah batuan yang diduga kuat sebagai bagian dari sebuah candi. Mulai dari yoni, kemuncak, umpak, arca nandi dan sejumlah batu penyusun dinding candi. Semua dibiarkan begitu saja di salah satu sudut peternakan.

Kini peternakan tersebut sudah tutup. Batuan-batuan candi di dalamnya makin tak terawat. “Kurang terjaga dan terawat yang mengakibatkan situs candi rusak karena korosi cuaca, batuan terkikis dan ditumbuhi lumut serta rumput liar,” jelas Sulistiono, anggota komunitas Jelajah Jawa Kuna (JJK) ini.

Reruntuhan candi di Tempel bukan satu-satunya situs yang pernah dikunjungi JJK di Mijen. Masih ada situs Candi Duduhan di Kelurahan Mijen, yoni di Kelurahan Cangkiran, yoni di Duwet, Kelurahan Tambangan, dan sejumlah tempat lain. Sebagian besar dalam kondisi tak terawat.

Tak jauh di Mijen, batuan candi juga ditemukan di wilayah Kabupaten Kendal. Antara lain situs candi di Desa Trisobo, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, serta Desa Gonoharjo.

Dari berbagai temuan ini, kawasan Mijen, Kota Semarang, dan Boja, Kabupaten Kendal diduga merupakan bekas kawasan permukiman kuno di masa lalu. Berbagai data dan temuan arkeologis memperkuat adanya permukiman di era kerajaan Mataram Kuno pada sekitar abad 8-10 masehi.

Blusukan ke lokasi situs candi juga sering dilakukan Bambang Murdianto bersama komunitas Pecinta Situs dan Watu Candi (Dewa Siwa). Ia tertarik menelusuri jejak, merangkai sejarah hingga kemungkinan keterkaitan antara situs-situs.

“Contohnya banyak situs yang mengelilingi dan menghadap Gunung Ungaran,” tutur petugas perpustakaan Ambarawa ini.

Masih banyak situs-situs ini yang sekarang kondisinya terbengkalai dan memprihatinkan.

Arkeolog Tri Subekso menjelaskan, keberadaan situs Tempel yang berasal dari masa Jawa Kuno ini menunjukkan adanya permukiman masyarakat kuno di kawasan Mijen. Data-data arkeologis ini, lanjutnya, memperkuat bukti tentang sudah adanya wanua-wanua (desa) yang merupakan bagian dari lanskap budaya periode Hindu-Buddha.

“Biasanya, karakteristik terdiri atas rumah-rumah penduduk, bangunan suci yang terdiri atas candi dan petirtaan, serta lahan pertanian,” jelas lulusan Magister Arkeologi Universitas Indonesia ini.

Situs Candi Duduhan dan Trisobo merupakan dua lokasi yang menarik peneliti peninggalan masa klasik. Pada 2015 dan 2018, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Bersama Lembaga Penelitian Perancis untuk Kajian Timur Jauh atau Ecole Francaise d’Extreme-Orient (EFEO) mengekskavasi situs Candi Duduhan dan Trisobo.

Ditemukan struktur candi dari batu bata berupa candi induk dan tiga candi perwara di Duduhan. Candi induk berukuran 9,3 x 9,3 meter. Lebih besar dari ukuran candi terbesar di Gedongsongo. Yoni berukuran besar juga ditemukan di sumuran candi induk.

Pada Juli 2020, tiga batu bagian dari Candi Duduhan raib dicuri. Bukan kali pertama bagian dari percandian kuno abad 8-10 masehi itu jadi incaran maling. Sejak sekitar 1991, fragmen arca Nandi bagian perut, lapik sesaji dan kemuncak dari situs Candi Duduhan, Kelurahan Mijen dipindah ke pertigaan kampung, tak jauh dari kantor Kelurahan Jatibarang. Tepatnya di depan warung mi ayam.

Tapi sejak Selasa 7 Juli 2020 malam, batuan bersejarah tersebut tak lagi berada di lokasi. Dulu, arca Ganesha di situs Candi Duduhan juga pernah dicuri orang. Namun pencurinya berhasil ditangkap. Kini, arca Dewa Ilmu Pengetahuan tersebut disimpan di Museum Ranggawarsita. Sementara tiga bagian candi yang hilang belakangan, tidak sempat diselamatkan ke museum.

Selain di Mijen, batuan yang diduga reruntuhan candi juga ada di Pemakaman Umum Sukolilo, Kelurahan Pleburan, Kecamatan Semarang Selatan. Sejumlah lingga, batuan candi bahkan arca yang sudah tidak utuh masih dijumpai di lokasi ini.

“Fokus Kota Semarang hanya Kota Lama yang peninggalan kolonial. Rata-rata yang peninggalan Hindu Klasik tak diperhatikan, mungkin tak bisa untuk wisata. Seperti di area Sendangguwo, Sendangmulyo, Jangli, Candi dan lainnya,” ujar Bambang.

Sementara itu, di Kabupaten Semarang, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Semarang selalu mendapatkan laporan dari masyarakat terkait temuan benda cagar budaya.

Ketua TACB Kabupaten Semarang Tri Subekso mengatakan, saat ini ada 1.200-an benda cagar budaya yang berhasil didata. Di Kabupaten Semarang sendiri memiliki juga peninggalan bangunan yang membutuhkan waktu lama untuk mengkaji. “Kabupaten Semarang itu memang banyak bangunan kuno. Bahkan kita butuh waktu lama untuk kajian. Terutama untuk struktur bangunan seperti benteng. Kalau benda bagian dari candi itu lebih cepat ketika kajian,”katanya.

Menurut Tri, rata-rata benda-benda bagian dari masa lalu itu sudah terdata. Sehingga tidak pas kalau dikatakan telantar.  “Bisa jadi sudah terdata, namun temuan tersebut disakralkan masyarakat sekitar. Sehingga TACB tidak bisa memindahkan ke museum,”  katanya.

Diakui, memindahkan benda cagar budaya itu tidak gampang. Meskipun TACB memiliki dasar UU. Namun temuan tersebut tetap harus berdasarkan administrasi.

“Misalnya, ditemukan di tanah milik salah satu warga yang sudah resmi. Jika seperti itu tidak mudah langsung diserahkan ke kami. Banyak warga takut berurusan dengan cagar budaya. Sehingga perlu kami edukasi dulu. Di Kabupaten Semarang kalau yang terlantar tidak ada. Paling banyak lebih ke disakralkan. Jadi, tidak kita pindahkan hanya kita pagari,”lanjutnya.

Diakui Tri, saat ini warga Kabupaten Semarang mulai sadar untuk melaporkan temuan benda cagar budaya. Tentu hal ini disambut baik oleh TACB. Temuan tersebut ternyata juga menjadi pelengkap jejak sejarah  desa maupun dusun setempat.  Bahkan beberapa dusun menjadikan temuan tersebut sebagai tempat wisata ziarah leluhur. Tidak heran warga Kabupaten Semarang memang masih menjunjung tinggi budaya yang dimiliki. (ton/ria/aro)

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya