Yang Belajar Anak, Yang Repot Orang Tua

782
Aldion Soeprijono saat mendampingi dua anaknya belajar daring di rumahnya. (Nurchamim/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID – Selama pandemi Covid-19, semua pembelajaran di sekolah menggunakan daring (dalam jaringan). Praktis, setiap orang tua siswa harus menyediakan gadget, laptop, termasuk paket internet. Tak hanya itu, orang tua juga harus mendampingi putra-putrinya selama pembelajaran online. Inilah yang merepotkan. Khususnya, orang tua yang gaptek maupun sibuk bekerja.

Pasangan Liana Widiastuti dan Mustofa merasakan betul repotnya pembelajaran daring. Sebagai karyawan swasta yang masuk kerja pagi hingga sore, membuat dirinya harus bisa mengatur waktu dalam mendampingi anaknya selama pembelajaran daring.

Tak hanya soal waktu, teknologi juga menjadi masalah tersendiri. Kebanyakan masih awam dalam menggunakan IT. Bagi Liana, pelajaran menjadi ribet dan merepotkan. Materi tanpa ada penjelasan susah.

“Penjelasan sudah tidak nyandak, boros biaya lagi,” kata orang tua Alvaro Tofalia Khairullah, siswa SD Negeri Pedurungan Tengah 02 Semarang ini.

Ia mengaku tidak suka pembelajaran menggunakan daring. Sebab, bukan anak yang belajar, justru orang tuanya. Kebanyakan anak belum memahami materi yang diberikan secara online. Yang biasanya bisa bekerja cepat, kali ini harus diganggu mengurus sekolah anak. Tak hanya ia, banyak dari teman-temannya juga mengeluh, kerjaan jadi terganggu.

Wis pokoknya enak belajar di sekolah. Pembelajarang daring ini justru tugas guru pindah ke orang tua siswa. Kami yang jadi repot,” keluhnya.

Keluhan senda disampaikan pasangan suami istri Aldion Soeprijono dan Nurmasari Widyastuti. Menurut mereka, pembelajaran daring memang ada plus minusnya. Beban dari pembelajaran hampir 75 persen kembali lagi ke orang tua. Bagaimanapun anak yang dididik di rumah butuh pendamping dalam pembelajaran. Tidak bisa dilepas sama sekali dari fungsi guru sebagai tutor dan fasilitator untuk memberi materi pembelajaran. Sedangkan orang tua lebih kepada pelaksanaannya, yakni memberi pengarahan atas pembelajaran yang disampaikan oleh guru.

Meski Pemerintah Kota Semarang telah memfasilitasi guru dengan membuat video YouTube untuk pelajaran kelas 1 sampai 6, dan materi dari guru, namun orang tua tetap harus melakukan pendampingan. Baginya, kendala utamanya adalah bagi orang tua yang bekerja. Sehingga waktu untuk mendampingi putra-putrinya akan terganggu. Apalagi bagi mereka yang anak-anaknya tidak diberikan fasilitas handphone ataupun laptop sendiri. Pasti kesulitannya akan bertambah lagi.

Selama belajar dari rumah tanpa pendampingan orang tua yang bekerja, anak-anak seolah jadi libur tanpa ada kegiatan yang bisa terkendali. Pembelajarannya hanya bisa dilakukan pada malam hari saat orang tua sudah pulang bekerja. Memang, lanjutnya, solusinya adalah dengan membuat rangkuman dari buku-buku yang ada dibuat dengan menulis sendiri oleh anak dan membaca lalu dikumpulkan kepada orang tua, ini cukup membantu.

“Beda halnya jika si anak diberi fasilitas laptop dan jaringan WiFi di rumah, dan ada yang bisa mengawasi mereka bisa dibuatkan dengan menonton YouTube yang ada, lalu diberikan soal-soal yang bisa dikerjakan sambil didampingi,” ujar orang tua Chalyaiswara Nareshwari kelas 5 dan Awahita Daneshwari kelas 3 SD Lab School Unnes Semarang ini.

Meski begitu, bagi mereka yang terpenuhi fasilitas, namun pendampingnya tidak mengerti tentang pelajaran sekolah, juga menjadi kendala.

Tak dipungkiri, kerinduan anak-anak terhadap sekolah tatap muka sudah sangat dirasakan. Sebab, sudah hampir lima bulan mereka menjalani pembelajaran daring. Beberapa anak sudah mulai bosan belajar dari rumah. Menurut Aldion, solusinya adalah guru melakukan pembelajaran secara video call.  Hal itu sangat membantu bagi anak-anak. Sebab, di situ mereka bisa melihat teman-temannya. Dengan begitu, ini menjadi salah satu cara untuk menghilangkan kebosanan dan melepas rindu terhadap teman-temannya.

“Pertemuan virtual dengan guru dan teman sekelas mungkin tidak harus setiap hari dilakukan, tapi kadang seminggu sekali pun sebetulnya tidak masalah,” jelas konsultan pajak akuntan, dosen, praktisi, dan desainer ini.

Selain itu, bisa juga dilakukan setiap Sabtu atau Minggu. Beberapa sekolah yang ada juga melakukan parenting terhadap siswa dan orang tua untuk mengetahui kendala yang dialami selama sekolah daring ini. Pertemuan parenting biasanya dilakukan dengan media zoom.

Pembelajaran daring juga dialami Ariyani, warga Semarang Selatan. Mulai Senin sampai Jumat, ia harus mendampingi dua putrinya belajar daring di sekolahnya SD IT Bina Amal 01 Semarang. Pukul 07.00, ia sudah stand by di depan laptop. Yang jadi masalah, kerap pembelajaran daring dengan aplikasi Google Class Room dua putrinya dilakukan dalam waktu bersamaan. Praktis, ia harus bergantian mengikuti pembelajaran di dua kelas.

Wis pokoknya repot. Mending saya antar jemput anak ke sekolah ketimbang belajar daring begini. Ini saya seperti guru saja. Anak saya kelas 2 dan 4, belajarnya pakai tiga aplikasi, yang repot orang tuanya,” keluhnya.

Bahkan, karena tak kenal aplikasi yang dipakai, Ariyani harus bolak-balik belajar ke sejumlah temannya. Tak hanya itu, ia juga harus menambah biaya paket internet. Sebab, dalam sehari, pembelajaran daring bisa sampai 4 jam. Mulai pukul 07.00-11.00. “Tambah boros beli paket internetnya. Karena saya pakai tetring dari handphone,” katanya.

Diakui, selama pelajaran daring, kedua putrinya harus terus didampingi. Tanpa pendampingan, dipastikan kedua putrinya akan kesulitan. Selain itu, juga akan boring. “Pernah saya tinggal sebentar, anak saya malah main sendiri. Pernah juga ngambek nggak mau belajar. Kalau sudah begitu, saya tambah repot. Padahal saya masih harus merawat si kecil,” keluh ibu tiga anak ini.

Tak hanya orang tua siswa, kesulitan pembelajaran daring ini juga dialami pihak sekolah. Seperti di SD Negeri Pedurungan Tengah 02 Semarang. Meski pihak sekolah sangat mendukung, namun orang tua masih banyak yang belum paham. Apalagi di awal tahun ajaran baru, khususnya siswa kelas 1.

Guru kelas 1 SDN Pedurungan 01, Putri Nor Kholifah mengaku, pembelajaran daring ada sisi baik dan buruk. Banyak orang tua yang memandang selama daring guru dianggap tidak mengajar, hanya memberikan tugas saja. Padahal mereka justru kerja dua kali. Guru juga kesulitan mengajar siswa lantaran tidak bertatap muka secara langsung. Ditambah lagi, dengan usia rata-rata 7 tahun, sangat sulit untuk bisa berkomunikasi dengan mereka.“Walaupun sekolah di rumah, guru tetap membimbing. Stand by,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Diakui, selama daring, guru harus double kerja. Ia harus dua kali lipat mengoreksi tugas siswa. Berbeda ketika belajar di sekolah. Bisa selesai dengan cepat. Di sini peran guru tak tergantikan.

Dalam memberikan tugas, Putri mengaku harus membuat konten yang unik dan mudah, supaya siswa bisa memahami pelajaran yang disampaikan. Siswa kelas 1 cenderung lebih menyukai visual. Untuk itu, ia membuat konsep yang menarik agar anak bisa tertarik.

Selain itu, yang terpenting pelajaran tidak memberatkan orang tua siswa. Sebab, siswa SD harus mendapat bimbingan full dari orang tua.

Berbeda dengan siswa SMP dan SMA. Jika tidak dalam pengawasan dan bimbingan, anak tidak bisa memahami pelajaran yang disampaikan. Mengajar dengan metode ini diakuinya memang sulit. Apalagi SD merupakan sumber ilmu dasar. Semua pembelajaran dari sini, mulai dari membaca, menulis, dan berhitung. Jika orang tua tidak konsen pada tugas, maka saat menerangkan pelajaran ke anak akan susah. Ditambah, jika anak malas baca buku, maka pembelajaran akan ngadat. Untuk itu, tetap harus ada komunikasi.

Di SDN Pedurungan Tengah 02, pembelajaran dilakukan dengan menggunakan Google Class Room, baik materi dan penugasan. Putri mengatakan nilai siswa kelas 1 cenderung bagus, namun jika kelas 5 dan 6 standar. Hal itu disebabkan jika orang tua tidak paham, maka anak hanya bisa mengerjakan sesuai yang dia tahu.  Meski tanpa diawasi guru, Putri selalu memberikan peringatan untuk dikerjakan sendiri dan kejujuran. Bukan dikerjakan orang tuanya. Sebab, nilai itu bukan yang utama. Selain itu, ia tidak hanya menggunakan metode di-click ketik, tapi harus ada tulisan tangan. Hal tersebut menunjukkan keseriusan anak dalam belajar. Artinya, meski di rumah harus anak sendiri yang mengerjakan, bukan orang tua.

Baginya, belajar di rumah juga membuat orang tua paham bagaimana kompetensi anak yang sebenarnya. Namun, dengan begitu membuatnya perkewuh ketika menyampaikan pesan melalui orang tua. “Menyampaikan ke orang tua itu susah,” akunya.

Ketika belajar di sekolah, siswa sudah seperti anak sendiri. Jika tidak bisa, dihadapi sampai bisa. Anak-anak tidak akan tersinggung. Selain itu, di sekolah anak dipacu semangat oleh teman-temannya. Siswa belajar bukan hanya dengan guru, namun bisa melalui siswa lain. Sementara cara orang tua mengajari ke anak beda. Jika orang tua leleh luweh, maka anak hanya menghadap orang tua, buku dan HP.

“Dulu anak-anak mau belajar sama teman sekolahnya, jadi gak semua sama guru. Justru pakai bahasa nonformal malah lebih bisa. Kalau sama orang tua ewuh perkewuh,” imbuhnya.

Selain melalui Google Class Room, Putri memberikan penugasan melalui pesan suara atau voice note. Setelah itu, ia minta feedback dari anak-anak. Cara komunikasi seperti itu terus dilakukan guna membuatnya mengenal siswa-siswanya.

Pembelajaran yang dilakukan tidak bisa selesai dalam sehari. Jika orang tua siswa bekerja, maka waktu belajar anak menyesuaikan orang tua. Guru harus fleksibel, untuk itu cara atap muka menggunakan aplikasi seperti zoom tidak bisa dilakukan. Bahkan, demi memaklumi pekerjaan orang tua, tidak ada tenggat waktu. Deadline dilakukan di akhir Minggu.

Tak dipungkiri, orang tua juga mengeluh dan stres. Putri terus memberikan motivasi dan semangat. Tak sedikit orang tua yang bingung menggunakan aplikasi. Untuk itu, ia tak hanya membimbing siswa, namun juga orang tua. “Saya tahu bagaimana perasaan orang tua. Sudah capek kerja, harus ngajarin anak, masih ngerjain plus mengirim tugas. Semua terkena dampak,” akunya.

Diakui, meski mayoritas warga memiliki handphone, namun masih ada orang tua siswa yang tidak punya. Demi bisa mengikuti pelajaran, siswa tersebut pinjam handphone tetangga untuk komunikasi dengan guru. Kata Putri, tugas diprint-kan kemudian guru berkomunikasi melalui tetangga. Barulah siswa ke sekolah untuk mengambil tugas.

Butuh Adaptasi dan Kurikulum Baru

Pembelajaran daring menjadi solusi antisipasi  penyebaran Covid-19. Tetapi ada sejumlah konsekuensi yang perlu diperhatikan.  Untuk pembelajaran daring  siswa SMP atau SMA berjalan relatif lebih baik. Persoalan yang terjadi masih relatif normal. Tetapi pembelajaran daring untuk anak-anak usia TK dan SD menjadi persoalan tersendiri.

Pengamat Pendidikan Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) Ngasbun Edgar mengatakan, pembelajaran daring siswa SD kelas rendah, termasuk anak TK, sudah pasti menjadi beban tersendiri bagi orang tua siswa. Kebanyakan kasus,  justru orang tua yang harus meng-handle tugas-tugas anaknya. Yang menjadi persoalan, tidak setiap orang tua mempunyai waktu banyak untuk menemani anak belajar.“Ini yang menjadi persoalan serius, apalagi orang tua banyak yang disibukkan oleh pekerjaan sehari-hari,” ujarnya.

Fenomena itu, tambahnya, membuat pembelajaran daring, terutama anak TK dan SD sangat kurang efektif. Tetapi, dalam situasi yang belum stabil seperti sekarang, memaksakan sekolah tatap muka sama saja dengan mempertaruhkan keselamatan dan keberlangsungan hidup generasi penerus kita. Sangat berisiko dan berbahaya.“Saya termasuk yang meragukan efektivitas pembelajaran daring kepada anak SD apalagi TK. Tapi karena kondisi yang memaksa ya mau bagaimana lagi,” ujarnya.

Ngasbun berharap, perlu segera dilakukan adaptasi kurikulum dengan segala perangkatnya. Termasuk memberikan kecakapan baru kepada anak-anak untuk mampu beradaptasi dengan pola kehidupan yang baru. Satu sisi ia menyambut baik dengan alokasi dana BOS yang mulai digunakan untuk pembiayaan operasional sekolah, seperti pembelian kuota. Ketika operasional sekolah ada peralihan dari penggunaan dana untuk mencukupi kebutuhan alat tulis-menulis ke pemenuhan sarana internet dan IT, sudah seharusnya ada penyesuaian. “Maka menurut saya perlu diatur dengan regulasi yang jelas, agar  sekolah dan guru juga aman dalam menggunakannya,” tambahnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Gunawan Saptogiri mengatakan, untuk pembelajaran model daring memang membutuhkan kebiasaan baru. Pihaknya sudah mengumpulkan semua kepala sekolah dan memberikan pemahaman terkait dengan penggunaan dana BOS yang  bisa dipakai untuk pembelian pulsa bagi guru dan siswa.  “Sudah kita undang kepala sekolah dan sudah saya keluarkan surat edaran, jadi BOS bisa digunakan untuk guru dan siswa,” katanya. (ifa/fth/aro)