AKP Ryke Pernah Jadi Penjinak Bom, Kompol Umi Terinspirasi Film Chip’s

AKP Ryke Rhimadhila (kiri) dan Kompol Umi Mardiyah. (M Hariyanto/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Dua sosok polisi wanita (Polwan) ini bisa menjadi inspirasi di HUT ke-74 Bhayangkara, 1 Juli 2020. Keduanya adalah  Wakasatlantas Polrestabes Semarang AKP Ryke Rhimadhila dan Wakapolres Magelang Kota Kompol Umi Mardiyah. Bagi dua polwan ini, berkarir di tengah anggota yang didominasi kaum Adam tidak menjadi masalah. Justru hal itu menjadi tantangan.

AKP Ryke Rhimadhila belum lama menjabat Wakasatlantas Polrestabes Semarang. Sebelum itu, ia sudah berdinas di satuan tersebut. Sehingga sudah tak asing dengan pekerjaan di Satlantas. Biasanya untuk kelancaran pekerjaan, perempuan yang akrab disapa Ryke ini lebih mengutamakan diskusi dengan jajarannya untuk memecahkan setiap permasalahan.  “Menjaga lingkungan pekerjaan, diskusi adalah kunci utama,” kata Ryke kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (30/6/2020).

Meski begitu, Ryke tak segan memberikan teguran kepada anggota yang melakukan pelanggaran maupun kesalahan. “Saya negur lihat-lihat juga. Kalau masih bisa dimaafkan ya sudah ditegur sekali dua kali saja. Kalau ditegur berkali-kali tidak berubah, ya dipanggil secara person untuk kita ajak diskusi, sharing siapa tahu kita bantu. Jadi, di saat seperti itu kita bisa menempatkan diri sebagai ibu, tapi ada kalanya saya sebagai kakak buat mereka. Kadang juga sebagai teman. Ini keluarga utama, jadi jam 06.00 pagi sampai sore kita di sini,” jelas perempuan kelahiran Jember, 31 Mei 1984 ini.

Putri kedua pasangan Suroso dan Diah Ernawati ini dilahirkan dari keluarga Polri. Ayahnya anggota Polri dari Tamtama. Sebelum menjadi anggota Polri, Ryke sempat menempuh pendidikan di Universitas Negeri Jember (Unej) mengambil S1 jurusan hukum.”Dulu setelah lulus SMA, saya pengin jadi polisi. Cuma papa saya bilang kuliah dulu saja. Akhirnya saya kuliah,” ceritanya.

Setelah lulus kuliah, Ryke mendaftar di Akademi Kepolisian (Akpol) dari Sumber Sarjana untuk menjadi taruna. Berbekal kepandaian dan fisiknya, Ryke diterima di Akpol pada 2007.

“Lulus Akpol saya ditempatkan di Brimob Kelapa Dua  Depok, di Unit Gegana. Saya sempat bertanya, kenapa dari 66 taruni, hanya dua orang, saya dan senior yang ke Brimob? Padahal lainnya ke polisi umum. Tapi, saya pasrah saja, ya mungkin itu sudah jalan Tuhan,” ceritanya.

Di Gegana, Ryke ditempatkan di penjinak bom. Di sinilah Ryke mendapat tantangan baru. Saat itu, dari 3.000 anggota Brimob, yang Polwan hanya 32 orang.

“Kepemimpinan saya diasah di sana, bagaimana cara saya handle anggota dan pekerjaan lain? Bagaimana cara saya bersikap kepada bawahan, dan sikap jadi seorang pemimpin,” terangnya.

Lima tahun di Gegana, Ryke memiliki pengalaman sebagai penjinak bom, terjun payung dan ikut tim penembak. Menurutnya, kesan mendalam yang sampai saat ini tak terlupakan adalah banyaknya support dari para senior di Brimob.  “Saya bisa melihat senior ini memosisikan tidak sebagai seorang pemimpin, tetapi sebagai kakak, jadi lebih enak,” katanya.

Setelah bergabung di Brimob, Ryke masuk PTIK. Selanjutnya, dia mendapat amanah sebagai pengasuh taruni Akpol selama dua tahun. Baru pada 2017, ia bergabung di Satlantas Polrestabes Semarang.

“Dulu saya di Dikyasa dan Kanit Regident, sekarang di Wakasatlantas Polrestabes Semarang. Banyak sekali senior yang saya temui, semua hebat-hebat. Wakapolda Jateng Bapak Abioso itu bareng di Gegana Brimob, dan Pak Ardi (Kasatlantas Polrestabes Semarang) senior yang banyak mengajarkan saya,” ujarnya.

Terkait program di Satlantas, Ryke mengatakan sama dengan program Kasatlantas utamanya Kapolrestabes Semarang, yakni menciptakan Kamseltibkarlantas di Kota Semarang.  “Bagaimana cara kita menjamin rasa aman terhadap pengendara maupun orang yang menggunakan jalan sebagai fasilitas kehidupan sehari-hari. Imbauan kepada masyarakat, boleh mengendarai sepeda motor tapi harus punya SIM dan mematuhi aturan berlalulintas,” tegasnya.

Terinspirasi Serial Chip’s

Beda lagi kisah Kompol Umi Mardiyah, Wakapolres Magelang Kota yang dilantik pada 14 April 2020 silam. Umi mengaku, secara pribadi, dirinya memang sangat ingin jadi polisi wanita sejak SMA. Ia mengagumi peran polisi wanita dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

“Saya terinspirasi film serial TV Chip’s. Sosok polisi sangat humanis, pahlawan, dan gagah,” kata mantan Wakapolres Karanganyar ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Umi mengakui, kodratnya sebagai wanita tidak pernah ditinggalkannya meski tugas berat selalu dijalaninya sehari-hari. Baginya, tugas di rumah dan di kantor adalah sama, yakni harus penuh tanggungjawab.

“Tugas rumah tangga sudah dibagi-bagi, karena anak-anak sudah dewasa semua. Sehingga tugas negara tidak ada masalah, karena anak dan suami sudah paham,” ujar istri Nur Hidayat ini sambil tersenyum.

Dalam menjaga keharmonisan rumah tangga, Umi selalu mengedepankan rasa menghormati dan menghargai. Sebab, menurut Umi, doa dan pesan dari suami merupakan bekal utama dalam bertugas.

“Yang paling utama, saya menghormati, menghargai dan percaya pada suami saya. Saya juga meminta izin dan restunya bila akan melakukan tugas maupun sekolah. Begitu juga sebaliknya,” imbuh ibu dua putri ini.

Saat ditanya tentang  cita-cita tertinggi dalam kepolisian, Umi mengaku hampir tidak punya. Sebab, menurut Umi, dirinya menyadari kemampuan dan kompetensi serta aturan baku di Polri.

“Sehingga saya menikmati segala jabatan yang diamanahkan kepada saya serta berusaha seoptimal mungkin menjalankan tugas. Untuk jabatan saat ini merupakan bagian dari siklus yang memungkinkan saya duduki,” imbuh perempuan kelahiran Sukoharjo, 31 Desember 1964 ini. (mha/had/aro/bas)





Tinggalkan Balasan