Karyawan Terpaksa ‘Ngarit’ untuk Kebutuhan Pakan Satwa

Kebun Binatang Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Grafis: Ibnu/Jawa Pos Radar Semarang

RADARSEMARANG.IDPandemi  Covid-19 mengakibatkan penutupan sejumlah kebun binatang di Jateng sejak Maret 2020 silam. Di antaranya, Dolphins Center di Batang dan Semarang Zoo di Kota Semarang. Praktis, kebun binatang tidak ada pemasukan dari penjualan tiket pengunjung. Hal ini membuat pengelola kebun binatang kesulitan dalam pemeliharaan satwa.

Sejak 23 Maret 2020, Taman Safari Indonesia Dolphins Center di Batang ditutup menyusul adanya pandemi Covid-19. Praktis, tak ada satu wisatawan pun yang datang. Pemasukan dari pengunjung pun nol. Sumber keuangan hanya datang dari subsidi Taman Safari Indonesia.

Nah, di tengah keterbatasan dana ini, Dolphins Center tetap menjaga stabilitas pakan satwa yang ada. Para karyawan setempat pun punya tugas tambahan, yaitu mencari rumput alias ngarit untuk pakan satwa koleksi kebun binatang ini. Ada puluhan hewan yang perlu mendapatkan asupan makanan. Mayoritas adalah hewan herbivora.

“Kami punya tanaman-tanaman sebagai pakan hewan yang diambilkan dari lahan yang ada. Ketahanan pangannya masih bisa,” kata Manager Operasional Batang Dolphins Center Oct Bagus Wijawa Danu kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pengelola Dolphins Center pun lebih banyak memanfaatkan tanaman yang ada di sekitar. Seperti rumput yang terlihat sengaja ditinggikan untuk dibuat pakan satwa. Serta menanam pepohonan seperti pisang.

“Kondisi kandang saat ini tidak ada perubahan. Kami lakukan kegiatan seperti hari-hari biasa. Kami masuk untuk memberi makan, membersihkan kandang dan merawat satwa. Sementara kegiatan normal sebelumnya adalah merawat, memberi makan, membersihkan kandang dan mengurus pengunjung. Sekarang ada tambahan kerjanya, biasanya melayani pengunjung sekarang ngarit. Kami mencari alternatif pakan di sepanjang lingkungan kita,” ucapnya.

Menurutnya ketahanan pakan satwa saat ini masih mencukupi hingga empat bulan ke depan. Salah satu faktornya adalah ketersediaan jerami di Batang yang melimpah usai panen. Mereka bisa mengambil semaunya, bebas di sawah-sawah. Terkadang masyarakat punya perhatian khusus. Mereka ikut membantu ngarit. “Pak ini boleh diambil? Diambil saja. Ya, sudah kami ngarit bareng-bareng,” cerita Danu sambil tersenyum.

Dikatakan, kondisi hewan saat ini dalam keadaan sehat. Aktivitas mereka masih tetap seperti biasa. Hanya tidak ada pengunjung saja. Sekarang karyawan dibatasi. Ada piket harian. Setiap satu hari sekali ganti orang, dan keeper untuk memberi makan dan merawat.

Selama pandemi Covid-19, anggaran untuk pakan ada pengurangan sekitar 10 persen. Danu menjelaskan, jika pengelola punya standar porsi pakannya tersendiri. Karena hewan tidak boleh terlalu gemuk dan kurus. Pengelolaan pakan tersebut tetap terkoordinasi dengan pusat.

Sebagian pakan yang ada dibeli dari luar, seperti rumput gajah dan ikan. Pengelola selalu mengusahakan ketahanan pangan agar tetap kuat. Walaupun dengan mengurangi biaya, dan terkadang ada yang menyumbang.

Bantuan juga datang dari penyuplai pakan satwa. Mereka menggratiskan pakan untuk Sabtu dan Minggu. Donasi seperti itu dirasa sangat membantu.”Kalau ada pecinta satwa yang ingin mendonasikan apapun kami terima dengan senang hati,” katanya.

Akibat pandemi ini, rencana pengembangan Dolphins Center menjadi Taman Safari Jawa Tengah juga terpaksa ditunda, karena kondisi yang tidak memungkinkan. Sesuai rencana, seharusnya Mei 2020 ini, pembangunan sudah mulai dilakukan. Pengelola saat ini hanya fokus untuk merawat puluhan satwa yang ada.

“Proyek ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan. Sesuai jadwal bulan Mei seharusnya pembangunan sudah akan dimulai. Lebih baik mengurus hewan terlebih dahulu daripada pembangunan untuk melebarkan sayap,” sambung Oct. Bagus Wijawa Danu.

Rencana tersebut tertunda hingga waktu yang tidak dapat dipastikan, karena munculnya pandemi korona. Padahal dudukan gapura pintu masuk Taman Safari Jawa Tengah sudah selesai dikerjakan. Lokasinya di pertigaan Mal Pelayanan Publik. Dudukan tersebut bakal diletakkan gading besar, ciri khas Taman Safari.

Dolphins Center direncanakan menjadi Taman Safari keempat di Indonesia yang berada di tepi Pantai Sigandu. Saat ini, luasan Dolphins Center 5 hektare, dan akan ditambah lahan seluas 15 hektare. Pembangunan bakal dilakukan bertahap hingga tiga tahun ke depan. Anggaran yang akan dikeluarkan sekitar Rp 22 miliar. Ke depan pengembangan Dolphins Center menjadi river Safari. Pengunjung bisa naik perahu sambil melihat bintang di sepanjang aliran.

“Kami menjalin kerja sama investasi dengan Taman Safari Indonesia. Nilainya juga cukup tinggi. Rencana tiga tahun ke depan sekitar Rp 22 miliar,” kata Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Batang Wahyu Budi Santoso.

Sementara itu, pengelola Taman Margasatwa Mangkang atau Semarang Zoo menegaskan, stok pangan di kebun binatang pelat merah tersebut aman hingga dua sampai tiga bulan ke depan.

Plt Direktur Semarang Zoo Samsul Bahri Siregar mengatakan, meski tidak ada pemasukan selama Semarang Zoo tutup, stok pangan satwa masih aman. Selain itu, tidak ada wacana mengorbankan hewan lain seperti rusa dan sapi untuk hewan pemakan daging di Semarang Zoo.

“Stok pangan kami aman dua sampai tiga bulan meskipun tidak ada pemasukan dari penjualan tiket. Kami tegaskan tidak ada hewan yang akan dikorbankan,” katanya saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang.

Samsul menjelaskan, pada Januari lalu, izin Semarang Zoo sebagai lembaga konservasi (LK) telah dikantongi. Sehingga tidak mungkin ada hewan yang dikorbankan. Semarang Zoo, lanjut dia, juga masih memiliki sisa anggaran untuk memberi makan aneka satwa yang dimiliki. “Kita sudah punya izin LK, susah prosesnya. Nggak mungkin sebagai lembaga konservasi mengorbankan koleksinya untuk hewan lainnya,” tegasnya.

Selain dari sisa anggaran, Samsul mengaku belum lama ini mendapatkan bantuan dari Perhimpunan Kebun Binatang Indonesia (PKBI) berupa 300 kg daging ayam, 10 ton rumput, dan 10 sak pelet. “Porsi makanan hewan kita berikan seperti biasa. Semarang Zoo juga terbantu, sumbangan dari donatur ataupun pencipta satwa,”tegasnya.

Sebagai lembaga konservasi, lanjut dia, kehidupan ataupun kesehatan semua satwa yang ada menjadi perhatian. Dalam sebulan, sedikitnya menghabiskan 1,2 ton daging ayam, atau sehari rata-rata 30 -34 kilogram ayam. Selain itu, 5 sampai 6 kilogram daging sapi dalam sehari, dan 30 ton rumput dalam sebulan.

“Jumlah ini untuk 286 hewan dari berbagai spesies, 12 harimau, 36 buaya, 2 singa, burung pemakan daging, dan buah serta rumput untuk hewan mamalia,” bebernya.

Samsul mengaku belum tahu sampai kapan Semarang Zoo akan ditutup. Yang jelas, kata dia, perusahaan daerah milik Pemkot Semarang ini telah mengalami berbagai perubahan sejak status UPTD beralih. “Keuangan kami mandiri, Dari penjualan tiket misalnya, digunakan untuk biaya pakan hewan dan gaji karyawan,” katanya.

Meski tidak digelontor dana segar dari Pemkot Semarang, perlahan wajah Semarang Zoo mulai berubah. Misalnya, keamanan satwa dan pengunjung dengan perbaikan kandang, penambahan wahana baru, pintu masuk yang menggunakan sistem elektronik, hingga penambahan satwa seperti unta. Meski tak jarang masih ditemui beberapa kandang yang berkarat dengan perbaikan seadanya. “Kita bangun terus misalnya kandang dan wahana, izin LK kan sudah keluar, sehingga  kita juga bisa menukar satwa,” paparnya.

“Konsep pembangunan akan terus dimatangkan sampai pandemi selesai,” tambahnya.

Pantauan koran ini, di sisi utara Kebun Binatang Mangkang sedang dibangun wahana permainan baru dari pihak ketiga atau investor. Sayangnya Samsul enggan membeber secara rinci nilai investasi dan jenis wahana yang ada. “Kalau wahana baru jangan dibeberkan dulu, masih rahasia,” katanya. (yan/den/aro/bas)





Tinggalkan Balasan