Senior dan Pelatih, Kunci Tekan Ego Pemain Muda

Perlu pengawasan ketat menjaga potensi pemain muda agar tidak meredup karena terkena star syndrome. (Baskoro Septiadi/ Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID – Star Syndrome memang banyak menyasar pemain muda. Mental yang belum stabil dengan karakter diri yang belum terbentuk sempurna membuat mereka tidak kuat menahan sorotan berlebihan dari publik.

Hal inilah yang disadari oleh PSIS Semarang. Dengan materi pemain 50 persen merupakan pemain muda, managemen menaruh perhatian khusus untuk menjaga mental para pemainnya. Sehingga bisa terhindar dari star syndrome tersebut.

CEO PSIS Yoyok Sukawi menuturkan ada cara khusus yang diterapkan klubnya untuk mencegah para pemain mudanya mengalami star syndrome. Salah satunya dengan menjadikan pemain senior sebagai mentor. Selain menjadi rekan bermain, pemain senior tersebut juga mendapat tugas untuk mengawasi dan memandu para juniornya. Sehingga pemain muda dapat belajar bagaimana menghadapi sorotan publik yang berlebihan dari para seniornya.

“Kalau dari kita kunci pemain muda tidak kebablasan merasa jadi bintang ya ada di tangan pemain senior. Karena di tangan mereka, pemain muda dapat menimba ilmu dan pengalaman agar lebih bijaksana mengadapi segala sorotan yang diterima,” ujarnya.

Pihaknya mengaku saat ini keseimbangan antara pemain muda dan senior di timnya berjalan baik. Komunikasi dan kerja sama dari kedua generasi tersebut pun dapat terjaga. Pihaknya berharap pemain muda tersebut dapat terus mengingat tujuan utamanya bermain sepak bola. Sehingga mereka akan terus bekerja keras agar dapat mencapai masa keemasan dalam karir dan memberikan kontribusi maksimal untuk klub.

Alhamdulillah hubungan senior junior di PSIS cukup bagus. Ya semoga saja dalam tiga hingga empat tahun ke depan pemain muda tersebut dapat matang secara karir dan memang menjadi bintang yang seharusnya,” pungkasnya.

Sementara itu Asisten Pelatih PSIS Semarang Imran Nahumarury menambahkan, selain pemain senior, tim pelatih juga memiliki peran penting dalam mengontrol ego pemain muda. Karena bagaimanapun setiap pelatih wajib mengetahui kondisi para pemainnya. Maka, pihaknya menekankan pentingnya penguasaan ilmu psikologi olahraga bagi para pelatih. Sehingga jika memang gejala tersebut ditemukan pada diri pemain, pelatih dapat dengan cepat memberikan tindakan tepat agar gejala tersebut tidak semakin parah.

“Pelatih tidak boleh hanya jago dalam teknis saja. Tapi nonteknis pun harus bisa. Baik cara managemen tim, media, psikologi olahraga dan masih banyak lainnya. Itu semua merupakan ilmu dasar yang harus dikuasai agar dapat menjalankan sebuah klub di era sepak bola modern seperti saat ini,” ujarnya.

Saat ini, lanjutnya, PSIS Semarang sudah memiliki tim pelatih yang mampu memahami psikologi pemain. Ketika gejala star syndrome muncul pada diri pemain Mahesa Jenar, pihaknya dapat langsung memberikan tindakan. Contoh tindakan yang dimaksud seperti mengajak diskusi, memberikan pengarahan, membatasi penggunaan gadget untuk pemain yang bersangkutan dan masih banyak lainnya. Semua itu semata-mata agar dapat mengembalikan mental pemain tersebut agar lebih  membumi dan rendah hati.

“Jadi kita batasi apa yang membuat dia merasa jadi bintang. Salah satunya gadget. Setelah itu kita ajak diskusi apa yang ia rasakan. Kita ingatkan lagi apa tujuannya bermain bola. Setelah itu kita beri instruksi dia agar mau kembali membantu tim dan tidak malas latihan. Biasanya itu cara ampuh mengembalikan mental pemain agar tidak lagi mengalami star syndrome,” ujarnya.

Meskipun butuh penanganan khusus, pihaknya mengingatkan pantang adanya paksaan dan peringatan keras bagi para pemain yang mengalami gejala star syndrome. Pasalnya jika hal tersebut dilakukan, bukannya sembuh sang pemain justru akan melawan. Atau bahkan justru sebaliknya yakni kehilangan kepercayaan diri. Maka, perlu adanya pendekatan yang persuasif. Sehingga pemain muda dapat menyadari kesalahan dan dapat kembali menjadi pemain yang baik dan bekerja keras untuk mencapai masa keemasan mereka.

“Kita selalu ingatkan ke pemain kesuksesan tidak ada yang instan. Semua harus dilalui dengan proses panjang. Maka, kalau ingin menjadi bintang sesungguhnya ya mereka harus kerja keras, latihan tekun dan yang penting tetap rendah hati dan baik pada sesama. Insya Allah jika semua dilakukan, mereka bisa menjadi pemain hebat di masa yang akan datang,” pungkasnya. (akm/lis/bas)

Baca Tulisan Sebelumnya: Star Syndrome Hantui Pemain Muda





Tinggalkan Balasan