Wayang Tenda Bikin Anak-Anak Ketagihan

Wayang Kontemporer, Murah Meriah dan Modern

Wayang Tenda saat menghibur penonton menceritakan cerita modern yang lebih disukai oleh kaum milenial. (Istimewa)

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Jika biasanya wayang identik dengan cerita Mahabarata dan Ramayana, generasi sekarang membuat kreasi baru. Harapannya, wayang tanpa kehilangan ruh, bisa menyesuaikan perkembangan zaman. Tetap dicintai generasi baru yang lebih modern dan milenial.

Adalah Wayang Tenda. Genre wayang yang satu ini, cukup berbeda dengan wayang konvensional. Meski begitu, sudah eksis selama 10 tahun di belantika seni pewayangan. Wayang Tenda lebih menyuguhkan cerita kontemporer atau keluar dari pakem.

Salah satu penggagas Wayang Tenda ini yaitu Khothibul Umam. Pria 34 tahun ini memang tidak memiliki latar belakang seni pewayangan. Meski dengan keterbatasannya, ia mencoba melebarkan seni pewayangan menjadi genre baru.

Cerita Wayang Tenda lebih kepada cerita-cerita fiksi. Selain itu, menyuguhkan cerita kontemporer yang bisa menyesuaikan request penonton. Lantas bagaimana ide Wayang Tenda ini muncul. Bahkan, kini banyak digandrungi kaum milenial.

Umam mengatakan jika pada awalnya, ia gusar dengan infrastruktur seni pewayangan di Kota Semarang yang kala itu sangat minim. Hanya beberapa titik saja tempat untuk bisa menyalurkan atau mengembangkan seni tersebut. Di antaranya di Komplek Subokarti dan Taman Budaya Raden Saleh (TBRS).

“Infrastrukturnya kurang, lalu kami mulai berpikir tentang caranya menciptakan wayang yang murah untuk dipertunjukkan. Bahkan mudah dilakukan. Maka muncullah ide untuk Wayang Tenda tersebut,” ujarnya.

Maklum, selama ini untuk sebuah pertunjukan wayang, biasanya memerlukan budget yang besar. Mulai dari mendatangkan dalang, sinden, gamelan, serta infrasruktur pendukung lainnya. Tentunya faktor itu menjadi kendala utama kenapa seni wayang dewasa ini kurang begitu diminati oleh kaum milenial.

Terlebih ceritanya juga monoton, hanya soal Mahabarata dan Ramayana. Tentunya seni wayang juga harus bisa masuk ke setiap era, seperti saat ini era milenial. Hal itulah yang menjadi dasar munculnya Wayang Tenda.

Umam yang memiliki latar belakang ilmu sastra, kemudian mencoba mengenalkan pagelaran wayang menggunakan konsep minimalis. Menggunakan tenda, ditambah sorot lampu dari dalam tenda. Serta tokoh wayang yang dimunculkan juga mengikuti perkembangan zaman.

Ternyata hal tersebut malah digandrungi oleh kaum milenial, khususnya bagi anak-anak. Karena cerita yang disampaikan juga fiksi, seperti halnya tontonan film kartun di televisi. “Awalnya kami nggak berpikir kalau segmentasinya bakal anak-anak. Tapi semakin kesini, justru malah cocok untuk mereka,” kata dia.

Tenda yang digunakan yaitu Doom, atau yang sering digunakan untuk ngecamp di gunung. Yang menjadi pembeda lain yaitu bahan utama wayang dari kertas, mika, dan kayu. Bentuknya juga dapat disesuaikan keinginan. “Ada robot, naga, monster, piringan terbang (UFO). Ini efektif untuk menarik perhatian audiens yang kebanyakan justru anak-anak,” imbuhnya.

Pertama kali Wayang Tenda Kota Semarang ini justru muncul di Klaten dan Boyolali. Kala itu mereka ingin mengibur anak-anak terdampak erupsi Gunung Merapi. Antusiasme anak-anak mulai terlihat manakala ia yang juga menjadi dalang dalam pertunjukan tersebut memainkan satu persatu wayangnya.

“Nah itu juga salah satu faktor yang bikin cerita Wayang Tenda lebih cenderung ke fable. Tapi kami siap kalau audiens minta dibawakan cerita lainnya,” tuturnya.

Disinggung dengan perkembangan teknologi saat ini yang mempengaruhi anak-anak, Umam mengaku hal tersebut cukup mudah diatasi. Salah satunya adalah dengan pendekatan sebelum pentas.

Tak jarang, dari pendekatan tersebut, digunakan Umam sebagai nama tokoh wayangnya. “Setiap kelompok biasanya ada kayak ketuanya, atau yang paling menonjol. Nah biasanya nanti nama mereka kami jadikan tokoh wayang. Itu juga menarik perhatian,” ujarnya.

Durasi yang dimainkan Wayang Tenda pun tidak lama, hanya satu jam. Kemudian, Wayang Tenda juga bernah mengambil peran dalam penanganan pasca kebakaran Pasar Johar. Wayang Tenda muncul untuk menghibur anak-anak yang tinggal di kawasan Pasar Johar kala itu.

“Pentas pertama itu sukses, berminggu-minggu setelahnya kami mau tampil lagi, tiba-tiba ada ibu-ibu yang nyamperin kemudian ngucapin terimakasih sama kami,” ceritanya.

Dikarenakan dari penuturan orang tua tersebut, anaknya mulai suka dengan seni wayang setelah melihat pertunjukan Wayang Tenda. Saat ini, anggota wayang tenda berjumlah 8 orang yang terdiri atas dua dalang dalam tenda, satu dalang narator, dan lima orang pemusik. Musiknya pun sudah modern dengan alat music gitar, bass, perkusi hingga keyboard. (ewb/ida)

Baca juga: Wayang Ringut Pentaskan Cerita Leluhur, Musiknya dari Penthongan





Tinggalkan Balasan