Kapasitas 22 Penumpang, Angkutan Feeder Sepi Peminat

Penumpang Feeder Trans Semarang bisa bersantai bahkan tidur-tiduran karena sekali jalan hanya terisi 5-6 orang dari kapasitas 22 penumpang. (Ida Fadilah/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID – Anda sudah pernah naik angkutan Feeder? Jika belum, sekali-kali mencoba. Angkutan yang dirilis Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi 6 Desember 2019 silam ini memiliki fasilitas seperti travel pribadi. Dilengkapi AC, musik, jok yang luas dan bersih, serta pelayanan yang apik. Feeder menggunakan armada Elf long chasis yang cukup lapang. Sayang, transportasi masal yang dikelola BLU Trans Semarang ini kurang diminati warga.

Siang itu, Jawa Pos Radar Semarang mencoba Feeder 2. Rutenya,  Pasar Bangetayu-Lamper Tengah-Soekarno Hatta-Taman Bangetayu. Meski armada Feeder berkapasitas 22 penumpang, namun hari itu hanya ada tiga penumpang dewasa dan dua penumpang anak. Praktis, transportasi masal yang disubsidi APBD Kota Semarang itu kelihatan ngglondang alias tidak terisi.

Pengemudi Feeder Trans Semarang Supardi mengatakan, setiap keberangkatan dirinya hanya membawa lima sampai enam penumpang.  “Membawa lima penumpang saja sudah bagus. Biasanya yang paling banyak anak sekolah. Tapi kalau libur begini ya semakin sepi,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Meski blusukan, Feeder tidak bisa berhenti di sembarang tempat. Angkutan ini hanya berhenti di halte Feeder. “Meski berhenti tiga meter dari halte ya tidak boleh. Harus sesuai halte, karena kita dipantau melalui GPS. Kalau tidak tertib, ya apa bedanya dengan angkot?” katanya.

Yudi Waluyo, salah satu penumpang yang membawa dua anaknya mengatakan, ia naik Feeder hanya untuk jalan-jalan. “Ini kali kedua saya naik Feeder, cuma jalan-jalan saja keliling. Anak saya senang karena seperti mobil pribadi, sepi dan nyaman,” tuturnya.

Bahkan saking sepi, sang anak bisa sambil tiduran di jok panjang Feeder. Ia mengaku memilih naik Feeder karena tarifnya sangat murah. Untuk penumpang umum, jauh dekat Rp 3.500, sedangkan untuk penumpang pelajar, mahasiswa, anak-anak dan veteran hanya Rp 1.000. Jam operasional dimulai pukul 05.30-17.45. Namun khusus selama pandemi korona dipersingkat mulai pukul 06.00-15.00.

Saat ini, sudah ada dua rute. Untuk Feeder 1 melewati PRPP-Ngaliyan. Setiap rute dilayani 24 unit armada Elf long chasis. Angkutan Feeder hadir sebagai alat transportasi penunjang, khususnya di rute-rute yang tidak dilewati BRT Trans Semarang.

Kurang diminatinya armada Feeder ini disorot kalangan dewan. Ketua Fraksi PKB DPRD Kota Semarang M Sodri menilai rute yang dilalui Feeder bukan di permukiman padat penduduk. Sehingga Feeder kerap ngglondang. “Feeder hanya mondar-mandir di jalanan tanpa penumpang. Terkesan asal melaju sesuai trip tanpa upaya sungguh-sungguh melayani warga,” kata Sodri.

Karena itu, ia meminta rute Feeder dibenahi. Misalnya, di wilayah Kecamatan Genuk Menurutnya, permukiman di Genuk sangat padat seharusnya masuk dalam pemikiran pengembangan transportasi yang mendukung peran BRT Trans Semarang ini. “Di sana kawasan padat penduduk, namun Feeder tidak ada sama sekali, ini seharusnya dipikirkan,” tuturnya.

Plt Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Trans Semarang Hendrix Setiawan mengatakan, dua koridor Feeder menjangkau wilayah yang belum dilewati bus BRT Trans Semarang. Misalnya, daerah perkampungan ataupun perumahan yang akses jalannya kecil.

Feeder, lanjut Hendrix, adalah layanan dari Pemerintah Kota Semarang, melalui BLU Trans Semarang untuk memudahkan transportasi massal warga Semarang. Dari Feeder ini, lanjut dia, masyarakat yang tinggal di wilayah pinggiran atau perumahan bisa terkoneksi dengan Trans Semarang. “Feeder ini terkoneksi langsung dengan Trans Semarang. Misalnya, Feeder 1 konek dengan Trans Semarang koridor I dan 7,” tuturnya.

Total armada yang digunakan untuk dua koridor ini adalah 44 armada dengan masing-masing koridor Feeder memiliki dua armada cadangan. Juni nanti, lanjut Hendrix, Trans Semarang akan menambah satu lagi koridor Feeder yang akan melayani daerah Gunungpati dan BSB.

“Koridor Feeder ini akan terkoneksi Trans Semarang, koridor 4, 6, dan 8. Tahun 2021 juga akan menambah satu lagi, dari Penggaron sampai Sumur Jurang Gunungpati via Klipang. Tujuannya tentu agar aksesbilitas masyarakat lebih mudah,” tambahnya.

Disinggung menganai okupansi atau keterisian dua koridor Feeder yang telah berjalan? Ia mengakui  belum masih yang digunakan masyarakat. Hendrix mengaku sampai saat ini pihaknya terus melakukan sosialisasi agar warga menggunakan moda transportasi ini. “Okupansi per hari untuk dua koridor ini mencapai 1.500 penumpang. Pada Sabtu-Minggu biasanya paling ramai.”

Hendrik menambahkan, rute yang sudah ditentukan untuk Feeder itu sejauh ini berdasarkan RPJMD. Juga berdasarkan kajian akademis. “Jadi kita tidak bisa seenaknya saja menentukan rute dari Feeder itu sendiri,” kata Hendrik.

Untuk menambah rute, ke depan tentunya harus berdasarkan kajian akademis terlebih dahulu. Sampai Februari 2020 lalu, jumlah halte untuk Feeder 1 yang sudah terbangun 17 titik. Sedangkan untuk jumlah rambu yang terpasang 20 buah. Sedangkan untuk Feeder 2 halte yang sudah terbangun 8 titik, dan rambu yang terpasang 43 buah.

Pakar Trasportasi Unika Soegijapranata Djoko Setijowarno menilai Pemerintah Kota Semarang belum memiliki master plan angkutan umum. Padahal, adanya master plan sangat penting. Yakni, meningkatkan minat masyarakat serta untuk mengetahui wilayah Kota Semarang yang belum terjangkau pelayanan angkutan umum.

“Saya prihatin melihat Feeder, permasalahan Kota Semarang itu tampaknya belum punya master plan angkutan umum. Mereka hanya punya master plan transportasi. Beda dengan angkutan umum,” ungkap Djoko kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

“Dulu punya tahun 2005, tapi itu kan sudah lama, saya yang membuat atas biaya anggaran APBD Provinsi. Waktu itu lewat Badan Litbang Provinsi Jateng,” tambahnya.

Ia mengatakan, sepinya penumpang Feeder karena kurang sosialisasi. Selain itu, karena banyak rute di Kota Semarang yang belum terlayani. ” Dulu itu ada bus dari Plamongan ke PRPP, sekarang tidak ada,” katanya.

Karena itu, langkah yang harus dilakukan Pemkot Semarang adalah membuat master plan angkutan umum Kota Semarang. “Kalau sudah membuat itu (master plan), nanti tahapan-tahapannya akan kelihatan di mana saja yang akan dibuka rute,” ujarnya.

Djoko melihat peminat angkutan umum di Jalan Pemuda cukup banyak. Menurutnya, hal tersebut ke depannya akan bagus ketika rute banyak diarahkan ke Pasar Johar yang pembangunannya telah selesai. “Dulu orang itu banyak berangkat ke Pasar Johar. Banyumanik ke Pasar Johar, Mangkang ke Pasar Johar, meski bus banyak tapi kan lahan juga luas. Ada ikonnya juga, dekat dengan Kota Lama, sehingga berkaitan dengan pariwisata,” ujarnya. (den/ifa/ewb/mha/aro)





Tinggalkan Balasan