Pemasukan Nihil, Harus Bayar Gaji dan Sediakan THR

New Home Spa Semarang memasang pengumuman libur atau tutup sementara. (Adennyar Wycksono/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Pandemi virus Covid-19 yang sudah merambah ke Jateng ternyata membuat dunia hiburan terpukul. Apalagi Pemerintah Kota Semarang, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, mengeluarkan surat edaran agar menutup tempat usahanya.

Sejumlah tempat usaha spa dan massage di Kota Semarang memilih tutup sementara. Allegria Family Spa yang berada di jalan KS Tubun, Sekayu, Semarang salah satunya. Tempat spa ini memilih tutup sementara demi mendukung serta mematuhi himbauan pemerintah. Papan bertuliskan Allegria family spa terpasang besar di depan tempat bangunan yang tertutup rapat. Tak ada aktivitas dan terlihat sepi

Demi mendukung Program pemerintah tentang peningkatan kewaspadaan terhadap resiko penularan virus korona Allegria family spa tutup sementata mulai Kamis 19 Maret. Dan akan buka lagi Senin 30 Maret 2020. “Sudah tutup sementara dan tidak lagi beraktifitas,” kata seorang warga, Ahmad Rofiq.

HN dari New Home Spa Semarang mengungkapkan, surat edaran surat edaran dari Disbudpar Kota Semarang kali pertama muncul pada 19 Maret lalu yang ditunjukkan kepada pemilik usaha Spa dan Massage untuk menutup usahanya 14 hari kedepan. Disusul surat edaran kedua pada 27 Maret yang memperpanjang penutupan tempat hiburan juga 14 hari kedepan atau sampai waktu yang belum bisa tentukan.”Sebenarnya penutupan usaha sementara ini membuat kami drop dari sisi pendapatan ataupun omzet perusahaan,” kata HN yang enggan disebutkan nama lengkapnya.

Padahal sebelum dikeluarkannya surat, omzet sudah turun hingga 50 persen. Kini lebih terdampak lagi dengan korona. “Saat itu kita masih berlakukan standar kesehatan yang ketat, mulai dari pengecekan suhu terapis, karyawan, hingga tamu. Mereka juga wajib memakai hand sanitizer, jika suhunya lebih dari 38 derajat, tamu, karyawan atau terapis kami minta untuk pulang. Kita juga lakukan penyemprotan disinfektan setiap hari,” tambahnya.

Menjalankan usaha ini terasa berat karena tidak ada pemasukan. tetapi harus membayar gaji 20 karyawan, serta dalam waktu dekat harus membayar Tunjangan Hari Raya (THR). “Meskipun keuangan perusahaan tidak sehat, bahkan harus nombok, kita tetap mendukung upaya Pemkot Semarang untuk mencegah korona,” tegasnya.

Kendati kondisinya tidak menentu, kata HN, para terapisnya tidak boleh menerima booking out selama pandemi korona. Total New Home Spa memiliki 27 terapis dengan sistem rekan kerja.

“Statusnya bukan karyawan, tapi rekan kerja. Memang mereka paling teriak ngga ada pemasukan karena bayaran yang didapat murni dari tamu. Namun saya tegaskan jika terapis ditempat kami tidak diperbolehkan untuk menerima bookingan selama pandemi korona,” tuturnya.

Artinya jika melanggar, perusahaan bisa memutus hubungan kerja para terapis ini. HN mengaku setiap hari mengecek keberadaan terapis yang ada di New Home Spa melalui grup WhatsApp. “Kita cek setiap hari. Harapannya buat mereka juga, agar sehat dan ketika keadaan sudah membaik mereka bisa benar-benar fit untuk bekerja,” jelasnya.

Kendati demikian, HN menyayangkan keluarnya surat edaran pertama hanya untuk usaha Spa and Massage. Sementara untuk tempat hiburan lain masih dibolehkan buka.”Mungkin pertimbangannya Spa menyentuh orang langsung, saya maklumi ini karena sebuah kebijakan pasti sudah direncanakan secara matang,” pungkasnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, ketika mencoba datang ke New Home Spa, memang tidak ada aktivitas yang berarti. Hanya ada beberapa sekuriti yang bergantian berjaga dan membersihkan panti pijat yang sudah dikenal dikalangan pencinta dunia hiburan di Kota Semarang ini.

Beda halnya dengan Babyface Karaoke, sebelum muncul surat edaran kedua dari Pemkot Semarang. Karaoke menengah keatas ini sudah memilih meliburkan usahanya terlebih dahulu untuk mencegah penularan virus korona.

“Manajemen mikirnya adalah untuk menjaga kesehatan staf, tamu, dan pekerja lainnya termasuk LC (ladies companion alias pemandu karaoke), akhirnya kami memilih untuk tutup,” kata Asisten Marketing Manager Babyface Karaoke, Anggita Setya Dara.

Selain faktor kesehatan, lanjut dia, sepinya tamu menjadi salah satu pertimbangan perusahaan untuk menutup sementara usahanya. Apalagi Babyface dikenal sebagai salah satu karaoke eksekutif di Kota Semarang. “Tamu ada, tapi tetap ada penurunan,” ucapnya.

Anggi juga menegaskan perusahaan tidak mengizinkan LC Babyface bekerja atau memandu lagu di tempat lain. Secara tegas Anggi, mengaku perusahaan tidak mengijinkan LC Babyface bekerja atau memandu lagu ditempat lain. Selain faktor kesehatan, perjanjian kerja yang dilakukan pihak management dan LC menyebutkan, nyambi tempat lain tidak diperkenankan.”Kita ada kontraknya, kalau yang melanggarnya pasti akan kena sanksi,” tuturnya.

Saat ini, lanjut dia, para LC yang belum pulang kampung, difasilitasi manajemen untuk tinggal di mess. Sementara untuk yang sudah pulang kampung, diimbau untuk menaati peraturan pemerintah dan menjaga kesehatan.”Setiap hari ada monitoring, kalau yang di mess ya tinggal di mess tidak boleh keluar,” tuturnya.

Ketua umum Paguyuban Entertainment Semarang (Pager Semar) Indarto, mengatakan jika surat edaran pertama dari Disbudpar memang tidak melarang tempat karaoke untuk tutup sementara. “Namun melihat situasi, banyak karaoke yang punya pasar eksekutif memilih tutup dan terdampak. Untuk karaoke keluarga masih buka seperti biasa,” tambahnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, karaoke keluarga di daerah Tri Lomba Juang Semarang, Jumat (26/3/2020) malam masih beroperasional seperti biasa. Namun setiap tamu yang datang, diwajibkan untuk menerapkan standar kesehatan, misalnya pengecekan suhu dan penggunaan hand sanitizer.

“Meski karaoke keluarga buka, dan belum ada imbauan tutup. Omzet tetap mengalami penurunan, jujur kita mendukung upaya pemerintah untuk menekan penyebaran virus korona,” katanya.

Jika diharuskan tutup, Indarto mengaku tetap akan mematuhi aturan pemerintah. Namun yang harus dipikirkan adalah untuk membayar gaji karyawan dan THR jelang lebaran nanti.

Meski begitu Kepala Disbudpar Kota Semarang, Indriyasari melalui Kabid Industri Pariwisata, Samsul Bahri Siregar mengharapkan seluruh aktivitas aktivitas pariwisata ataupun hiburan di Kota Semarang harus tutup sementara selama 14 hari kedepan mulai Sabtu (28/3/2020) dengan nomor B/947/556/III/2020.”Kami minta agar karaoke, tempat permainan, bioskop, panti pijat, spa mulai hari ini harus tutup sementara untuk mencegah penyebaran virus korona,” katanya.

Bahkan, kata Samsul, dinas sudah berkoordinasi dengan pihak terkait seperti Satpol PP dan Kepolisian untuk melakukan tindakan dan pemantauan jika ada tempat hiburan yang masih nekat buka setelah menerima surat edaran dari dinas. “Kita ada tim yang memantau, melalui Satpol PP dan Polisi jika ada yang masih buka bisa ditertibkan,” tambahnya. (den/fth/ida/bas)





Tinggalkan Balasan