Mading Bangkitkan Minat Siswa Berkarya Tulis

Nasib Mading Sekolah di Era Digital

376
TETAP EKSIS : Siswa SMP Negeri I Semarang tetap membaca mading yang dikelola sekolah hingga kini.(DEWI AKMALAH/JAWA POS RADAR SEMARANG) 
TETAP EKSIS : Siswa SMP Negeri I Semarang tetap membaca mading yang dikelola sekolah hingga kini.(DEWI AKMALAH/JAWA POS RADAR SEMARANG) 

RADARSEMARANG.ID Majalah dinding (Mading) yang pernah berjaya di sekolah, telah mengantarkan banyak siswa yang hobi menulis semakin terasah skill menulis karya ilmiah atau lainnya. Tapi di era digital, semua tergantikan dengan teknologi. Generasi digital native, masihkah melirik mading?

PADA eranya, mading dianggap sebagai sesuatu yang sangat membanggakan. Sebab hanya karya siswa terpilihlah yang bisa masuk dalam mading tersebut. Bahkan, banyak anak dibuat penasaran dengan hasil karya yang dipasang di mading. Saat ini, banyak sekolah lebih membudayakan penggunaan website untuk mempublikasikan karya siswa.

Tapi di SMP Negeri 1 Semarang, masih membuktikan eksistensi mading hingga sekarang. Memiliki tiga mading besar di lingkungan sekolah. Bahkan, siswa milenial ini masih dapat mengetahui apa itu mading dan bagaimana rupa dan bentuknya. Keadaannya pun masih terawat. Setiap satu bulan sekali atau untuk memperingati hari khusus, karya yang ada di mading akan diperbaharui sesuai dengan tema yang ditentukan.

Kepala SMP Negeri 1 Semarang Nining Sulistyoningsih menegaskan masih mempertahankan kebiasaan siswa untuk membaca secara konvensional baik dari buku ataupun mading. Meski digempur dengan berbagai macam teknologi pembelajaran kekinian, sudah kodratnya siswa belajar menggunakan buku atau media non digital.
Tak dipungkiri, dirinya juga tetap mendukung digitalisasi. Namun, baginya buku dan media konvensional masih memiliki keunggulan khusus. Yakni dapat meningkatkan minat baca dan kesungguhan siswa menyerap ilmu di dalamnya.

“Alhamdulillah, kalau mading besar punya tiga. Kalau yang kecil, hampir setiap kelas punya. Disana akan dipasang karya siswa. Jadi mereka bisa bangga dengan karyanya,” ujarnya.
Selain itu, baginya mading dapat menjadi pendorong semangat siswa untuk menyalurkan ide karya tulis terbaiknya. Baik bentuk puisi, cerpen, komik, dan masih banyak lainnya. Nantinya karya tersebut dapat menginspirasi siswa lain yang membaca untuk berkarya. Secara tidak langsung, mading dapat menjadi media pembangkit semangat siswa untuk berkarya melalui karya tulisnya.

“Bahkan sudah banyak karya siswa yang kami bukukan. Saat ini, kami punya buku modul pembelajaran, komik belajar, kumpulan puisi, sinopsis, karya ilmiah dan lainnya. Itu semua berasal dari siswa,” lanjutnya.

Sekolahnya juga telah memiliki ekstrakurikuler jurnalistik. Bagi siswa yang tertarik mendalami bidang tersebut, dapat belajar membuat karya tulis yang baik dan benar. Nantinya karya mereka dipasang di mading utama. Sehingga seluruh warga sekolah dapat melihat dan membaca.

“Pokoknya kami selalu mendukung dan menfasilitasi anak-anak untuk berkarya. Tidak hanya menulis, tapi juga membaca. Sehingga semakin banyak literasi yang mereka terima,” pungkasnya.

Sementara itu, pembimbing ekstrakurikuler sekaligus guru bahasa Indonesia SMPN 1 Semarang, Endang Sri Winarsih menuturkan mading masuk dalam kepengurusan ektrakurikulernya. Nantinya setiap sebulan sekali, siswa jurnalistik membuat konsep dan tema untuk mading. Mereka juga dibantu siswa lainnya, membuat karya baik berupa cerita bersambung, cerita pendek, puisi, pantun, komik dan lainnya sesuai tema. Karya yang dihasilkan melalui seleksi dari pihaknya. Yang lolos akan dipasang dalam mading untuk sebulan penuh.

“Kami inginnya anak sekarang tahu bagaimana bentuk mading. Jangan sampai mereka heran, apa itu mading. Sebab terlalu banyak membaca dari gadget saja. Maka dari itu, kami ajak siswa rutin mengisi mading,” ujarnya.

Selain itu, dirinya melihat masih banyak siswa yang berminat membaca mading. Terbukti tiap melintas, mereka selalu menyempatkan diri membaca. Selain itu, minat siswa untuk berkarya melalui tulisan semakin besar. Tiap tahunnya siswa yang bergabung dengan ektrakurikuler jurnalistik selalu bertambah. Tentu saja hal tersebut sangat disyukurinya.

“Dulu yang ikut kelas jurnalistik paling maksimal 5 sampai 7 anak. Sekarang sudah 15 lebih. Alhamdulillah sedikit demi sedikit, jurnalistik kami mulai merangkak naik,” lanjutnya.

Untuk mendorong siswa berkarya, pihaknya rutin mengikutsertakan karya tulis siswa dalam berbagai perlombaan. Meski belum mendapat hasil maksimal, dirinya menganggap langkah tersebut penting untuk membangun semangat dan kepercayaan diri siswa. Sehingga terpacu membuat karya tulis lebih baik lagi. Semakin baik karya mereka, semakin berkualitas pula konten mading di sekolahnya. “Kami tiap tahun ikut lomba buletin dan majalah. Itu semua isinya karya siswa. Semoga ke depannya dapat menjuarai berbagai perlombaan jurnalistik,” harapnya. (akm/ida)

Tinggalkan Balasan