Mading Ajari Siswa Bijak di Medsos

850
FASILITASI SISWA : Kepala SMPN 32 Semarang Bekal Wisnu Tomo bersama siswa menikmati majalah dinding yang masih eksis di era digital.(IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
FASILITASI SISWA : Kepala SMPN 32 Semarang Bekal Wisnu Tomo bersama siswa menikmati majalah dinding yang masih eksis di era digital.(IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID BERAGAM karya siswa mulai dari puisi, cerpen, pantun, gambar, dan lainnya masih terpampang di majalah dinding (mading) di SMP Negeri 38 Semarang. Bahkan, banyak siswa yang sengaja meluangkan waktu untuk membaca karya teman-temannya tersebut.

Dealova, siswa kelas VI (tujuh) SMPN 38 Semarang mengaku senang menjadi bagian pengisi konten mading. Menurutnya, mading berhasil memaksanya mengeksplor ide-ide kreatifnya. “Sekali mencoba, saya ketagihan. Jadi ingin terus berkarya,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia mengungkapkan, hal yang membuatnya ketagihan adalah rasa bangga karena karyanya dipajang. Apalagi ketika mengetahui karyanya dibaca siswa lain. “Senang sekali melihat siswa berkerumun di depan mading. Apalagi sebagian dari mereka menunjuk karya saya yang dipajang di mading itu. Berarti karya saya dibaca,” ucapnya.

Hal senada disampaikan Maulida, salah satu tim jurnalis “Mading Estila” milik SMPN 38 Semarang. Ia mengaku beberapa kali mengisi mading di sekolahnya. “Saya bisa membagikan pengetahuan dan wawasan ke siswa lain. Meski sedikit, tapi saya bangga dan senang,” bebernya.

Dealova dan Maulida bukan tidak mengenal media sosial (medsos). Mereka bahkan aktif di medsos. Namun tetap tak ingin berhenti mengisi mading di sekolahnya. Menurut mereka justru sering menulis di mading, sehingga menjadi kreatif di medsos. “Kami ingin mading terus ada. Jangan hilang. Itu media kami mengekspresikan ide-ide,” kata mereka.

Zidan, salah satu peserta ekstrakulikuler jurnalistik SMPN 38 Semarang mengaku belum pernah mengisi mading. Ia justru tetarik dengan mading, karena membantunya mengetahui hal-hal baru. “Karena itu saya bergabung di ekstrakulikuler jurnalistik. Saya ingin berlatih. Supaya bisa menulis seperti teman-teman,” ujarnya.

Koordinator Kegiatan Literasi dan Mading SMPN 38 Semarang Sri Winarni menuturkan sejauh ini ekstrakulikuler yang diampunya tak pernah sepi peminat. Menurutnya, tiap tahun selalu ada regenerasi. “Tak kalah dengan ekstrakulikuler lain. Bahkan peserta lebih antusias ketika saya tugasi mengisi mading,” ungkapnya.

Ia membentuk tim jurnalis sebagai pengelola mading. Personelnya ada sepuluh siswa. Tim tersebut sebagai pengisi mading. Namun, tetap menerima karya-karya dari luar tim tersebut. “Dari luar tim banyak juga yang mengirim. Rasanya mading memang masih dibutuhkan dan menjadi wadah menampung ekspresi siswa,” katanya.

Ia melanjutkan, mading harus tetap ada di era digital. Sebab, dapat melatih siswa berkarya untuk banyak orang. Ia mengajak siswanya bagaimana menulis agar bisa diterima banyak orang.

“Dari mading, akan membuat siswa lebih bijak ketika di media sosial. Tidak sembarangan. Mading bisa menjadi media melatih mereka menjadi pengguna media sosial yang cerdas,” imbuhnya.

SMPN 38 Semarang menerbitkan Majalah Estila sekali tiap semester. Menurutnya, majalah tersebut memuat semua karya yang pernah dipasang di mading.

“Isinya karya-karya siswa. Guru juga. Majalah tersebut dibagikan gratis ke orangtua siswa ketika penerimaan rapor. Ini kami lakukan sebagai upaya mengapresiasi siswa yang berkarya agar terus termotivasi,” pungkasnya. (nra/ida)





Tinggalkan Balasan