Cemoohan Justru Pelecut untuk Berprestasi

155
RAIH PRESTASI : Sulastri dan Adhe Priya Affandy dengan medali yang berhasil diraih Affandy dalam berbagai kejuaraan olahraga. (ORMA SARI YULIANINGRUM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RAIH PRESTASI : Sulastri dan Adhe Priya Affandy dengan medali yang berhasil diraih Affandy dalam berbagai kejuaraan olahraga. (ORMA SARI YULIANINGRUM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Kehidupan Sulastri berubah 180 derajat, ketika lima tahun lalu dokter dan psikolog memvonis putera sulungnya mengidap mental retardation atau lebih dikenal dengan tunagrahita. Ia tak menyangka Adhe Priya Affandy, anaknya yang selama ini tampak ceria dan baik-baik saja itu ternyata memiliki intelligence quotient (IQ) di angka 70. Jauh di bawah rata-rata IQ anak pada umumnya.

Siang itu, Sulastri tak henti-hentinya menyeka air mata. Ingatan tentang perjuangan yang dilalui begitu menguras emosi. Kala itu, berita buruk yang pertama kali menghampiri ialah ketika Affandy dinyatakan tidak naik kelas. Awalnya, ia berpikir Affandy hanya perlu belajar lebih giat lagi. Namun, ternyata masalahnya tak sesederhana itu ketika setahun kemudian berita buruk itu kembali hadir. Affandy harus tinggal kelas lagi. Itu membuatnya berpikir keras. Ia merasa anaknya ada masalah.

Lewat keberanian yang besar, ia berkonsultasi ke dokter dan psikolog. Meski kabar buruk itu tak berubah menjadi baik, tapi paling tidak ia tahu penanganan apa yang harus diberikan kepada sang buah hati. Sejak saat itulah, Sulastri meninggalkan pekerjaan dan mengerahkan seluruh perhatiannya untuk Affandy.

Lima tahun lalu, sejak Affandy pindah sekolah ke Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC) Semarang, Sulastri langsung memutar otak. Ia beranggapan, jika Affandy lemah dalam hal inteligensi, maka di bidang lainnya harus unggul. Ia kemudian mengarahkan ke olahraga tenis meja.

“Semua perjuangan akan saya lakukan demi Affandy. Meski harus mengantarnya latihan empat kali seminggu dengan jarak dari rumah ke tempat latihan yang jauh dan menempuh waktu satu jam, saya tidak masalah asalkan itu demi kebaikannya,” ungkap ibu dua anak itu kepada Jawa Pos Radar Semarang Jumat (20/12).

Perjuangan Sulastri tak hanya soal waktu dan tenaga. Memiliki anak berkebutuhan khusus membuatnya harus berbesar hati. Menerima cemoohan yang terlontar. Pernah suatu hari salah seorang tetangganya berkata bahwa Affandy lebih baik tak bersekolah saja. Saat itu, perasaannya jelas terluka, tapi tak ada jalan lain selain membuktikan bahwa anak yang lahir pada 21 Oktober 2002 itu juga bisa berprestasi dan berguna seperti anak-anak lainnya.

Siapa sangka bahwa pembuktian itu benar terjadi. Affandy yang saat ini duduk di bangku kelas 2 SMA SLB mampu meraih berbagai prestasi membanggakan di bidang olahraga. Prestasi terbarunya di tahun ini adalah mampu meraih juara 3 tingkat Provinsi Jawa Tengah dalam kejuaraan National Paralympic Comeette. Tak hanya di cabang tenis meja, Affandy juga berprestasi di cabang futsal dan lari maraton. Ia pernah memenangi turnamen futsal se-Kota Semarang. Mampu finish di jarak 10 kilometer pada ajang Borobudhur Marathon 2016.

Kini, Sulastri sedang memperketat latihan Affandy untuk menghadapi kejuaraan-kejuaraan mendatang. Segala hal akan ia lakukan agar sang buah hati bisa berprestasi. Bahkan saat mood dan semangat Affandy kendor, ia akan melakukan seribu cara untuk kembali memulihkannya. Salah satunya dengan memberikan makanan favoritnya. Menurut pengakuan Affandy, hanya sang bundalah yang tahu cara mengembalikan mood-nya dalam berlatih.

“Dulu saya sering menangis kalau mengingat keadaan Affandy. Tapi kemudian saya bangkit karena kalau ibunya tidak semangat, anaknya jelas tidak semangat juga. Jadi, bagi saya kunci untuk menjadi ibu dari anak berkebutuhan khusus adalah berusaha dan semangat,” papar perempuan berusia 38 tahun itu dengan senyum penuh semangat. (nor/lis)