Museum BPK Lebih Post Modern

173
AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG MODERN : Pengelola Museum BPK memanfaatkan teknologi mutakhir agar tidak diabaikan generasi milenial dan bisa menjadi tempat edukatif bagi pelajar.
AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG MODERN : Pengelola Museum BPK memanfaatkan teknologi mutakhir agar tidak diabaikan generasi milenial dan bisa menjadi tempat edukatif bagi pelajar.

RADARSEMARANG.ID, PERUBAHAN cepat ditangkap oleh Museum Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang berlokasi di Jalan Diponegoro Nomor 1, Kota Magelang. Museum BPK yang diresmikan pada 4 Desember 1997 dan dibuka untuk umum pada 1999 ini, semula hanya memiliki dua ruang pamer museum seluas 270 m2, dengan memanfaatkan bekas kantor BPK.

AGUS HADIANTO/RADARSEMARANG.ID

Kini, setelah mengalami renovasi besar-besaran pada tahun 2016, Museum BPK bertransformasi menjadi museum post modern. Perubahan ini terlihat dengan luasnya bangunan museum menjadi 3.880 m2 dan memiliki 18 ruang. Bahkan, museum BPK memiliki ruang audio visual, ruang interactive floor, dan ruang informasi berbasis teknologi, dan hal lainnya. Museum BPK dibuka dan diresmikan kembali pada Januari 2017.

Perubahan ini berimbas pada naiknya tingkat kunjungan ke Museum BPK. Dulu, satu bulan hanya ada puluhan pengunjung, tiap tahunnya hanya menyentuh angka 4.000 an saja. Setelah renovasi, pengunjung tiap bulannya mencapai angka 500-an atau tiap tahun mencapai 40.000 orang.

Petugas Museum BPK, Sri Wahyuni, saat ditemui Jumat (11/10) lalu, mengajak Jawa Pos Radar Semarang berkeliling dan menunjukkan koleksi museum. “Setelah perluasan dan renovasi, jumlah pengunjung berkisar diatas 40.000 orang tiap tahunnya. Bahkan untuk kunjungan tahun 2019 ini hingga per bulan September, kunjungan mencapai 46.036 orang,” ujar Yuni –sapaan akrab Wahyuni- bangga.

Yuni merinci jumlah kunjungan pada tahun 2014 mencapai 5.639 orang, tahun 2015 sebanyak 6.032 orang, 2016 terdapat 2.398 orang, tahun 2017 melonjak menjadi 44.373 orang, dan tahun 2018 meningkat menjadi 46.437 orang. “Untuk tahun 2016 sedikit, karena pada Juni-Desember museum ditutup untuk renovasi besar-besaran,” katanya.

Yuni memaparkan bahwa perubahan besar dengan memanfaatkan teknologi terlihat dalam ruangan museum BPK, yakni ruang lobi dan ruang audio visual. Ruang lobi, terdapat interactive floor yang memuat informasi tentang keberadaan kantor-kantor BPK di seluruh provinsi di Indonesia dan kantor pusat di Jakarta. Interactive floor ini, didesain berbentuk pulau-pulau yang ada di Indonesia dengan bertandakan lambang merah dan biru.

“Jika menginjak warna biru, akan muncul kantor lokasi kantor pusat BPK beserta informasi di dalamnya. Sedang warna merah diinjak sesuai pulau-nya, akan muncul informasi kantor BPK di provinsi-provinsi. Ini membuat anak-anak tertarik,” terangnya.

Selain ruang lobi yang memukau, Yuni menjabarkan, pengunjung dimanjakan dengan ruang audio visual, yang menampilkan cuplikan mengenai tugas dan hasil pemeriksaan BPK. Selain itu, ruang ini menampilkan tiga film pendek mengenai isu penting yang telah diperiksa BPK. Ketiga film pendek tersebut antara lain berjudul Cerita Kami, yang diilhami dari hasil pemeriksaan BPK atas pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah. Film kedua berjudul Kertas Si Omas yang diilhami dari pemeriksaan atas penanganan Tenaga Kerja Indonesia. Dan film ketiga berjudul Uang Rujak Emak, diilhami dari hasil pemeriksaan atas pengelolaan ibadah haji. “Jadi memang kami memadukan teknologi dalam memberikan informasi tentang tugas dan kewenangan BPK di dalam museum ini,” ucapnya.

Yuni mengungkapkan, pihaknya menyadari bahwa Museum BPK yang sudah bagus, belum tentu dapat menarik pengunjung jika tidak dipromosikan secara maksimal. Untuk itu, pihaknya telah berusaha menarik minat pengunjung dengan menerapkan beberapa langkah pemasaran yaitu ke luar dan ke dalam.

Pihaknya melakukan kegiatan door to door ke sekolah-sekolah, baik jenjang TK hingga perguruan tinggi, untuk mengikuti agenda-agenda pameran dan menerapkan program Museum Goes to School. “Kami mendatangi sekolah dan berbagi cerita serta mempresentasikan koleksi museum. Program ini sudah berlangsung sejak tahun 2018 lalu yang berimbas pada kenaikan pengunjung sangat signifikan,” imbuhnya.

Yuni menuturkan, untuk program promosi ke dalam, pihaknya merevitalisasi koleksi museum, menambah koleksi, meningkatkan kapasitas pemandu museum, dan rutin mengadakan kegiatan yang diadakan di dalam lingkungan Museum BPK, yaitu membuat panggung acara musik, pentas tari, lomba mewarnai, bedah buku, nonton bareng dan diskusi film.

“Selain itu kami memfasilitasi kegiatan yang diadakan oleh komunitas yang tidak bernilai promosi sekalipun. Kami fasilitasi gratis. Banyak yang memanfaatkan fasilitas ini, seperti Universitas Tidar untuk kegiatan akademik atau diskusi, serta komunitas lainnya,” imbuhnya.

Yuni memaparkan, kemajuan BPK menjadi museum post modern akhirnya diganjar dengan penghargaan Abhiwara pada 5 Oktober 2019 di Kabupaten Kebumen. Museum BPK, menurut Yuni, melalui penghargaan tersebut dipercaya meraih Juara 1 untuk Kategori Daya Tarik Wisata yang dikelola oleh Pemerintah/BUMD/BUMS.

Alhamdulillah, sesuai keinginan pimpinan saat akan merenovasi museum agar kami menjadi sarana rekreasi. Kami dalam dua tahun berturut-turut, ditunjuk mewakili Pemkot Magelang dalam ajang Penghargaan Abhiwara Pariwisata Provinsi Jateng. Penghargaan ini diberikan kepada para penggiat pariwisata di wilayah Provinsi Jateng,” jelasnya.

Lain halnya dengan Museum Batik Pekalongan yang terletak di Jalan Jetayu nomor 1 Kota Pekalongan, masih menjadi magnet wisatawan lokal maupun mancanegara. “Saya sering berkunjung ke Museum Batik ini, sudah dua kali. Pas anak saya masih TK dan sekarang sudah di MI,” kata Aam, warga Batang yang ke museum bareng anaknya, Sabtu (12/10) kemarin.

Staf Promosi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pekalongan, Gandi, mengungkapkan selain masyarakat umum, banyak dari kalangan pelajar yang berkunjung. Apalagi saat musim sekolah, hampir setiap waktu ada kunjungan ke Museum Batik Pekalongan.

“Di museum batik ini, tidak sekedar menikmati koleksi atau belajar tentang sejarah batik. Namun juga ada workshop membatik di ruang paling belakang. Mulai dari mencanting, mengecap, dan teknik mencolet atau mewarnai batik. Hasil produknya bisa dibawa pulang,” jelasnya.

Diakuinya, pengelola Museum Batik Pekalongan memanfaatkan teknologi hanya sebatas memanfaatkan media sosial untuk promosi museum. “Hasilnya, sejak didirikan tahun 2006, setiap tahun ada peningkatan kunjungan kurang lebih 10 persen,” kata Kepala Museum Batik Pekalongan, Bambang Saptono.

Untuk terus meningkatkan minat masyarakat terhadap sejarah batik, pengelola bekerjasama dengan berbagai komunitas baik penggiat batik maupun komunitas kreatif lainnya. Yang dirangkum dengan berbagai konsep dan tema acara dari pameran event musikal pertunjukan seni yang mengangkat isu kekinian. Sayangnya pendapatan museum belum ada peningkatan. “Tahun ini kami akui target baru mencapai mencapai 52 persen. Kami juga berharap, museum batik lebih modern dan berjiwa muda,” serunya.

Sedangkan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) yang berlokasi di Jalan Perintis Kemerdekaan 275, Srondol, Semarang ini didirikan sejak tahun 1990. Museum ini, menyimpan dokumentasi rekor dunia Indonesia, kumpulan bahan jamu, alat pembuat jamu, dan alat operasional kantor dan promosi sejak 1918. Namun mulai tahun 2017 mengubah konsepnya lebih modern. “Museum ini didirikan perusahaan Jamu Jago. Semangatnya untuk pengabdian kebudayaan perusahaan jamu tertua di Indonesia,” kata Senior Manager MURI, Sri Widayati.

Menurutnya, semula museum jamu bergabung dengan tempat produksi. Namun, setelah ada gedung sendiri, museum dipindahkan dan diperbaharui konsepnya pada 2017. “Kami ubah konsepnya lebih modern. Kami harus mengikuti perkembangan zaman. Selama ini kesannya meseum selalu dianggap kuno,” ujarnya.

Kini, MURI dan Jamu Jago telah dilengkapi dengan fasilitas Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR). “Pengunjung tinggal download di hp, aplikasinya MURI Augmented Reality untuk menikmati foto dengan teknologi AR itu,” jelasnya.

Beberapa catatan dan dokumentasi rekor-dunia Indonesia kini dikemas dalam bentuk digital. Tersedia dua komputer touchscreen di dalam museum yang dapat digunakan untuk mengakses catatan rekor tersebut. “Yah ada lebih dari 9 ribu rekor yang tercatat. Dengan keterbatasan tempat, kami sediakan bentuk digitalnya,” kata Sri.

Selama 5 tahun terakhir pengunjung museum mengalami peningkatan meski tidak signifikan. Setiap minggu ada 200–300 pengunjung. “Biasanya pengunjung berombongan.,” ujarnya. (had/han/mg5/mg7/mg8/ida)