Potensi Surya Jateng Cukup Besar

360

RADARSEMARANG.ID, DIREKTUR Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, potensi energi surya di Jateng cukup besar yakni 4,05-5 kWh/kWp per hari. Ini di atas rata-rata Indonesia sebesar 3,75 kWh/kWp. Beberapa negara dengan potensi energi surya yang hanya separonya Indonesia, ia katakan, bisa memanfaatkannya dengan menghasilkan listrik hingga puluhan gigaWatt.

“Seperti di Jerman. Sehingga dengan potensi yang sangat besar di Indonesia, akan sangat disayangkan jika tidak digunakan,” katanya.

Itu potensi Indonesia. Di Jawa Tengah, ia mencoba memetakan penggunaan solar rooftop, terdapat potensi sebesar 2.444 kWp dari 21 kantor provinsi dan Dinas di Jawa Tengah serta pemerintah kota Semarang. Sementara jika 33 kantor bupati/walikota di Jawa Tengah turut dimanfaatkan, maka akan ada potensi sebesar 4.345 kWp.

”Untuk seluruh bangunan rumah, data rumah berdasar peta 2014, potensi teknis dari 9.066.300 rumah mencapai 110 gigawatt,” ujarnya membeberkan hasil itung-itungannya.
Selain potensi yang cukup besar, pemanfaatan energi surya juga sudah menjadi tren di dunia. Ditambah dengan harga teknologi yang semakin terjangkau. Diprediksikan, harganya akan terus menurun beberapa waktu ke depan. Dengan demikian, tidak ada kata tidak untuk memulai menggunakan tenaga surya sebagai sumber listrik.
Meski demikian, ia mengakui biaya pemasangan untuk kebutuhan rumah tangga yang masih cukup tinggi. Namun, ia menganggapnya sebagai investasi, karena keuntungan yang didapat akan lebih besar.

Sekali pasang, menikmati kemudian. Karena tidak ada biaya lagi untuk selanjutnya. Hanya perlu dilakukan perawatan yang sebenarya tidak terlalu rumit. Yakni pembersihan secara berkala pada penel surya dari debu. Jadi, memang tidak membutuhkan skill besar dan bisa dilakukan siapapun.

Hanya saja, ketika dalam skala besar misal ukuran 20 KwP, 30 KwP dan 100 KwP, yang biasa dipasang pada gedung pemerintahan, akan sedikit berbeda perawatannya. Sebab tidak hanya panel surya, tetapi ada inverter yang cukup besar dan instalasi lisrik.

”Kalau skala bersar ini saya menyarankan untuk membentuk unit teknis. Bisa terdiri dari beberapa orang tenaga terampil yang sudah dilatih untuk perawatan. Dimana mereka bisa merawat secara berkala. Megecek. Kalau ada sesuatu yang rusak mereka bisa menyelesaikan,” ujarnya.

Untuk panel surya, ia katakan, sejauh ini kerusakan memang jarang terjadi. Bahkan dari pabrikan rata-rata memberikan garansi hingga 25 tahun, bisa lebih. Setelah waktu tersebut pun bukan berarti sudah tidak berfungsi. Masih. Hanya saja mengalami penurunan efisiensi.

Namun demikian, ia tamnahkan, untuk kerusakan inverter maupun kontroler sangat dimungkinkan. Namanya saja barang elektronik. Sehingga memang harus dipastikan ada sparepart untuk mengganti ketika terjadi kerusakan. ”Yang penting barang apapun ada dari berbagai merk, ini harus dipastikan penyedia itu memiliki after service. Dengan demikian kalau rusak bisa diganti,” kata dia.

Masih terkait PLTS atap di gedung pemerintahan, ia menekankan, standarnya memang harus dipersiapkan. Termasuk dalam peraturan lelangnya. Perlu disebutkan jaminan after service. (sga/ida)