alexametrics


Tonjolkan Upaya Positif dan Bukan Hitamnya

Rekomendasi

Menarik

RADARSEMARSNG.ID – Sejak Covid-19 mewabah di negeri ini, rasanya tidak separanioid belakangan ini. Ketakutan saya meningkat tajam seiring dengan merajalelanya kasus Covid-19 di Kudus. Sampai-sampai harus tes dua kali dalam tiga hari. Yaitu, 2 dan 4 Juni lalu.

Tanggal 2 Juni, sehari menjelang ulang tahun ke-19 Radar Kudus, saya perintahkan seluruh karyawan Radar Kudus yang berkantor di Jalan Lingkar Utara Kudus untuk melakukan swab antigen. Saya yang sudah yakin sehat harus ikut serta untuk menyemangati karyawan. Hasilnya negatif.

Hari itu juga saya perintahkan seluruh karyawan Radar Semarang yang berkantor di Jalan Veteran 55 untuk melakukan hal yang sama. Namun baru mendapat jadwal dari salah satu klinik swasta dua hari berikutnya. Saya ikut tes juga. Alhamdulillah hasilnya juga negatif.

Tes dua kali dalam tiga hari itu saja belum cukup. Saya harus berburu vaksinasi. Alhamdulillah, Sabtu, 5 Juni, mendapat kesempatan dari Rumah Sakit Keluarga Sehat Pati yang pelaksanaannya di Klinik Graha Dipo yang sama-sama milik dr. Benny. Empat anak saya ikut sertakan. Para karyawan Radar Kudus dan Radar Semarang sudah terlebih dahulu melakukan imunisasi di berbagai tempat.

Jujur kebijakan itu saya keluarkan karena saking parnonya (baca: paranoidnya) saya. Saya termasuk orang Kudus. Lahir dan besar di Kota Kretek. Kini bekerja di kabupaten yang ditempati dua dari sembilan Walisongo. Sehari-hari mesti wira-wiri. Saya berkantor juga di Semarang. Juga harus mengunjungi kantor-kantor biro di Jepara, Pati, Rembang, Grobogan, Pekalongan, dan Magelang.

Rasanya tidak tega. Kudus menjadi bulan-bulanan netizen dari seluruh penjuru wilayah. Termasuk oleh masyarakat Kudus sendiri. Kasus Covid di Kudus memang memerah. Namun konsentrasi penyebutan setiap saat dari sisi negatifnya saja membuat telinga juga merah. Rasanya juga ingin naik pitam ketika disebut Kudus menghitam. Seolah-olah Kudus tidak lagi layak huni.

Orang luar daerah takut masuk Kudus, itu baik. Situasinya memang masih pendemi. Apalagi korbannya yang tercatat (sekali lagi yang tercatat) meningkat. Yang saya tidak rela Kudus dikesankan sebagai daerah yang sangat menakutkan. Nyatanya saya yang tinggal di Kudus masih bisa hidup normal dengan protokol kesehatan yang ketat.

Kudus menyumbang perekonomian nasional yang cukup besar. Jangan sampai hancur karena Covid. Banyak upaya yang dilakukan Pemerintah Kudus yang positif. Sayang, kalau sisi positif itu hilang begitu saja. Untuk itu, saya selalu berpikir bagaimana menonjolkan upaya-upaya positif tersebut di media.

Lebaran lalu semua daerah di seluruh Indonesia diketati. Penyekatan dilakukan di mana-mana. Banyak jalan yang diblokir. Polisi dan tentara ikut berjaga. Kendaraan pemudik diputar balik. Namun demikian, masyarakat menanggapinya secara wajar. Kondisi Kudus sekarang juga seperti situasi di berbagai daerah Lebaran lalu itu Setelah Lebaran, kasus Covid di mana-mana meningkat tajam. Banyak rumah sakit yang penuh. Namun tidak menimbulkan kepanikan.

Yang saya tidak habis pikir, begitu kasus Covid di Kudus meningkat, masyarakat heboh. Pemerintah panik. Berbagai kebijakan diambil. Diumumkan secara terbuka. Dilaksanakan secara demonstratif.

Orang luar Kudus, bahkan orang Kudus sendiri, yang tidak mengetahui kondisi sebenarnya, bereforia. Memanfaatkan media sosial yang ada.

Penutupan jalan masuk kota di seberang Terminal Jati Kudus dari arah Semarang viral. Caption-nya bernada sama. Kudus lock down. Padahal kenyataannya hanya jalan itu saja yang ditutup. Orang yang masuk kota pun masih bisa lewat jalan lingkar, kemudian melalui jalan lain yang cukup banyak.

Penuhnya rumah sakit menambah kepanikan. Apalagi setelah di-blow up-nya pasien yang dirujuk ke luar daerah. Padahal di mana-mana kenyataan seperti ini juga ada. Penyalahan pengelolaan rumah sakit oleh pejabat yang lebih atas semakin membuat eforia netizen. Seolah-olah Pemerintah Kudus tidak lagi mampu menangani kasus Covid.

Belakangan tentara dan polisi di-BKO-kan di Kudus. Mobilitasnya ditangkap netizen dan diekspose seperti di medan perang. Konvoi tentara dan polisi dengan sirine meraung-raung menghiasi medsos setiap saat. Belum lagi pera pejabat yang wira-wiri ke Kudus dengan kawalan dan iringan sirine juga.

Oleh medsos, keberadaan aparat di desa-desa ditonjol-tonjolkan. Lock down di beberapa kampung yang kasus covidnya menambah kesan seolah-olah seluruh Kudus betul-betul di-lock down. Kebijakan Di Rumah Saja selama dua hari tanggal 5 dan 6 Juni kemarin menambah kesan merinding. Kebijakan seperti itu pernah dilakukan di Jateng yang kebetulan saat itu terjadi banjir besar yang seolah-olah menenggelamkan Kota Semarang. Orang tidak keluar rumah karena banjir itu.

Yang terbaru, warga yang positif Covid akan dirawat di Donohudan, Solo. Mereka akan dijemput paksa oleh aparat keamanan. Di satu sisi lebijakan ini baik, karena terbatasnya rumah sakit. Di sisi lain akan semakin menakutkan warga. Bisa jadi, mereka tidak mau lagi terbuka akan kondisinya. Banyak orang yang memilih isolasi mandiri di rumah. Karena lebih nyaman.

Secara pribadi, saya menganggap baik semua kebijakan yang diambil oleh Pemerintah Kudus, Pemprov Jateng, dan pemerintah pusat. Namun lebih penting dari semua itu adalah sosialisasi prokes. Saya melihat di mana-mana, terutama di desa-desa pelaksanaan prokes belum seperti yang diharapkan. Saya tahu persis ada seorang ibu yang meninggal. Suaminya positif Covid. Orang itu masih menerima pentakziah. Berjabat tangan.

Pelaksanaan prokes itulah yang mestinya ditonjolkan dan digencarkan di seluruh lapisan. Karena banyak orang tidak bergejala yang ketika dites ternyata positif. Kalau mereka tidak mentaati prokes akan sangat berbahaya. Fakta sudah membuktikan klaster keluarga ada di mana-mana. Mereka hanya isolasi mandiri di rumah.

Maka, baik kiranya semua warga yang positif harus melakukan isolasi di tempat yang sudah ditentukan dengan perawatan oleh pemerintah. Hal ini sudah semestinya, dan tidak perlu diheboh-hebohkan.

Kita semua sedang berupaya membangkitkan masyarakat dari pandemi korona. Kita sedang berusaha meningkatkan perekonomian yang hancur lebur. Jangan sampai daya-upaya itu sia-sia hanya karena eforia netizen. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Terbaru

Populer