Hidup Normal dengan Protokol Ketat

364
BAEHAQI-Direktur Jawa Pos Radar Semarang
BAEHAQI-Direktur Jawa Pos Radar Semarang

RADARSEMARANG.ID – Banyak orang heran. Kenapa dalam stuasi pandemi Covid-19 seperti ini saya masih keluyuran. Bertemu banyak orang. Di berbagai kota lagi. Manajer Keuangan Radar Kudus Etty Muyassaroh nyaris tak percaya ketika saya mengatakan akan tetap mengantar semua parsel lebaran untuk karyawan. “Tetap diantar sendiri? Dalam situasi seperti ini?” tanyanya.

Parsel itu telah rutin dikeluarkan perusahaan menjelang Idul Fitri untuk seluruh karyawan Radar Kudus dan Radar Semarang serta menjelang Natal khusus untuk yang beragama Nasrani. Secara pribadi saya berinisiatif mengantarnya ke rumah mereka. Di 18 kota/kabupaten.

Sampai kemarin (17/5/2020) sudah sekitar 70 parsel mendarat di 70 alamat. Mulai dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, Grobogan, Demak, Kota Semarang, Kendal, Batang, serta Kota dan Kabupaten Pekalongan. Masih sekitar 55 parsel lagi untuk karyawan yang tingal di Kabupaten dan Kota Semarang, Salatiga, Kabupaten dan Kota Magelang, Temanggung, serta Wonosobo.

Dengan berkeliling ke 125 tempat, saya bisa menangkap apa saja di masyarakat. Misalnya, ada kampung yang kalau malam sepi. Tapi ada masih banyak tarawih berjamaah. Kalau sore ada jalan yang lengang. Tapi masih banyak jalan yang berjubel orang jualan takjil.

Sebelum pandemi korona pengiriman parsel seperti itu biasa saja. Saya hanya ingin bertemu keluarga karyawan meskipun hanya semenit. Tidak masuk rumah. Apalagi ngobrol di ruang tamu sampai menghabiskan hidangan. Itu nikmatnya sudah luar biasa. Mudah-mudahan mendapat hikmah silaturrahim yang disebut-sebut para kiai.

Itulah yang membuat saya mantap tetap mengantar parsel untuk karyawan. Tentu dengan protokol yang ketat. Mengenakan masker, memakai hand sanitizer, dan menjaga jarak.

Saya ingin menunjukkan saya takut korona. Tapi tidak sampai ketakutan. Tidak sampai tidak berani melakukan apa saja. Saya ingin hidup normal di tengah pandemi korona. Hidup dengan melakukan apa saja dengan protokol yang ketat.

Bagi saya, mengantar parsel itu malah menjadi hiburan tersendiri. Betapa hidup ini sudah terlalu membosankan. Sebagian besar orang tinggal di rumah melulu. Hanya makan dan tidur. Bisa-bisa nanti muncul masalah baru. Obesitas berjamaah.

Anak ragil saya sampai tak tahan. Sesekali dia ambil sepeda. Keliling perumahan. Sendirian. Untuk membunuh rasa bosan itu. Anak-anak sekolah lainnya juga pasti bete. Sampai sekarang masih diliburkan. Masuknya belum tentu. Demikian juga karyawan. Baik ASN maupun swasta. Bisa jadi kelak mereka stres bersama.

Kita sudah tahu. Pandemi korona masih akan lama. Virusnya sudah menjadi penduduk Indonesia. Tidak bisa diusir lagi ke Wuhan, tempat asalnya. Kita yang harus menyesuaikan dengan kebiasaan-kebiasaan baru. Baik di rumah, kantor, dan di mana saja. Kebiasaan hidup di tengah pandemi korona. Hidup yang efekif dan efisien.

Dalam rumah tangga membiasakan masak sendiri. Berbelanja di warung atau pasar tradisional. Menggunakan air, listrik, dan gas, seirit mungkin. Berbusana tidak sekali pakai. Tidak keluar rumah bila tidak amat perlu.

Di perusahaan, pemerintahan, dan lembaga, tidak perlu banyak acara seremoni yang menghabiskan uang. Tidak melakukan perjalanan dinas bersama-sama. Menggunakan AC yang tidak dingin-dingin amat. Membatasi penerangan secukupnya.

Sejak sebelum Ramadan saya telah menekankan di perusahaan bahwa kondisi sekarang ini luar biasa. Saya menyampaikannya serius. Sampai-sampai harus berkeliling. Membrifing karyawan di semua kantor biro. Agar mereka sadar. Harus hidup lebih hemat.

Kemarin saya harus membuat skenario baru perusahaan agar tetap hidup tanpa mengurangi tenaga kerja. Tanpa memotong gajinya. Sulitnya luar biasa.

Sudah dua hari manajer keuangan, baik di Radar Kudus maupun Radar Semarang, bekerja keras mencermati kondisi keuangan. Proyeksi dibedah ulang. Pendapatan dibikin prognosis. Pembiayaan dipangkasi. “Perusahaan harus berjalan dengan biaya yang seminimal mungkin,” kata saya.

Saya melihat banyak cara yang tidak efektif. Termasuk yang dilakukan oleh pemerintah. Penyediaan alat cuci tangan di mana-mana ternyata sekarang pada nganggur. Semprot-semprot jalan, taman, dan angkutan juga berhenti dengan sendirinya. Sekarang gencar dilakukan pemeriksaan suhu badan di jalan-jalan. Tentu saja tidak efektif. Orang yang suhu badannya di atas 38 derajat Celsius tentu sudah tidak keluar rumah.

Cara kerja juga harus dievaluasi. Selama ini perusahaan mengikuti anjuran pemerintah. Sebagian karyawan WFH (work from home) alias kerja dari rumah. Itu menjadi tidak produktif. Kalau terlalu lama, karyawan bisa tumpul.

Yang lebih berbahaya lagi adalah orang yang bekerja di sektor informal. Selama ini mereka juga ikut libur. Itu harus diberi jalan agar bergerak lagi.

Saya berpikir setelah lebaran segalanya harus berjalan normal dengan protokol ketat. (hq@jawapos.co.id)





Tinggalkan Balasan