Tak Ada Antiseptik Karbol pun Jadi

350
BAEHAQI-Direktur Jawa Pos Radar Semarang
BAEHAQI-Direktur Jawa Pos Radar Semarang

RADARSEMARANG.ID – Heboh. Itulah yang terjadi minggu kemarin. Sekolah diliburkan. Karyawan dirumahkan. Kegiatan dibatalkan. Rekreasi ditiadakan. Pengajian ditunda. Jumatan tidak diselenggarakan. Itu semua akibat mewabahnya virus korona.

Tidak ada yang berani protes. Semua samikna wa’athokna (Kami mendengar dan kami mematuhi). Korban korona terus bertambah. Update sampai Sabtu lalu, sudah 450 orang terjangkit. Sebanyak 38 penderita meninggal. Di antaranya di Solo dan Semarang.

Serangan virus mematikan kepada penduduk sebenarnya bukan kali ini saja. Sebelumnya ada MERS (Middle-East respiratory syndrome dan SARS (severe acute respiratory syndrome). Keduanya dari golongan corona virus, sama dengan Covid-19. Juga pernah ada AI (Asian influenza).

Beberapa penyakit lain juga disebabkan virus. Seperti, pilek, flu, cacar air, chikungunya, demam berdarah dengue (DBD), hepatisis B dan C, rabies, rubella, zika, polio, ebola, dan HIV/AIDS. Namun, upaya penanggulangannya tak seheboh sekarang.

Saya, keluarga, dan seluruh karyawan Radar Kudus dan Radar Semarang ikut berjibaku. Menghentikan penyebaran virus yang juga disebut Covid-19 itu. Paling seru upaya mendapatkan antiseptik. Cairan yang diyakini bisa membunuh virus mematikan itu sebelum masuk ke tubuh manusia.

Minggu lalu itu, antiseptik seolah menghilang dari pasar dalam waktu sekejap. Keluarga dan karyawan berburu meskipun harganya melambung. Saya termasuk beruntung. Di rumah ada empat botol antiseptik bermerek. Sisa dari rumah sakit ketika ada anggota keluarga yang dirawat di sana.

Tanggal 16 Maret saya instruksikan agar seluruh kegiatan perusahaan yang bersifat masal dibatalkan. Di Radar Semarang ada road show Kampung Hebat yang menurut agenda berlangsung kemarin. Biasanya dihadiri wali kota, para pejabat Pemkot Semarang, serta sekitar 3.000 – 5.000 warga. Di bulan April ada yang lebih besar lagi.

Saya minta di seluruh kantor Radar Kudus dan Radar Semarang (total delapan kantor) disediakan antiseptik. Karyawan bergerak. Ada yang mendapatkan. Ada yang harus inden. Tapi ada yang tidak mendapatkan sama sekali. Yang terakhir ini berkreasi. Menggunakan karbol. Ada yang menggunakan pemutih pakaian. Produk itu dicampur air. Untuk mencuci tangan. Lucu juga. Tapi, mereka sudah bangga.

Banyak orang yang tidak tahu perbedaan antiseptik dengan disinfektan. Ada persamaan dan perbedaan. Baik bahan maupun kegunaan. Biasanya, antiseptik untuk jaringan hidup seperti kulit. Sedangkan disinfektan untuk benda mati. Di rumah sakit jelas. Tubuh pasien dibersihkan dengan antiseptik. Peralatannya dengan disinfektan. Aneh kalau disinfektan untuk mencuci tangan. Bisa iritasi.

Banyak kejadian salah kaprah. Salah yang tidak disalahkan. Situasinya memungkinkan. Emosional.

Di tempat-tempat umum ada penyemprotan disinfektan. Baik kantor, taman, maupun angkutan umum. Sebelum ada korona, penyemprotan seperti itu untuk membunuh bakteri dan kuman. Sekarang untuk melawan virus korona. Mudah-mudahan bahan yang disemprotkan kali ini sudah dipertimbangkan bisa membunuh virus.

Upaya memberantas korona betul-betul dramatik. Sampai-sampai peribadatan yang memungkinkan berkumpulnya banyak orang dibatasi. Seingat saya, sepanjang hidup belum pernah ada jumatan ditiadakan. Saya pun merasa aneh. Bukan karena tidak patuh. Hanya semata-mata tidak biasa sengaja meninggalkannya.

Jumat lalu itu saya kebetulan berada di Semarang. Tetap melaksanakan salat Jumat. Di masjid Perhutani Jateng. Jamaahnya penuh. Ada tambahan tikar di halaman. Karpet tetap digelar. Ada makanan dan minuman untuk jamaah. Disediakan antiseptik di beberapa titik.

Saya mengamankan diri dengan ketat. Tidak bersalaman dan tidak berhadapan dengan orang lain. Mencuci tangan dengan antiseptik juga.

Khotib mengingatkan, mati itu kuasa Allah. Sebelum ada korona juga sudah ada kematian. Alquran surat Almulk ayat 2 mengingatkan, Tuhan yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Mati itu takdir Allah. Namun kita harus berusaha.

Secara pribadi saya masih melakukan kegiatan seperti biasa. Jumat itu juga masih berolah raga jalan pagi di Simpang Lima. Delapan kali putaran. Di sana ada apel BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kota Semarang. Dua pejabat pemkot menyalami. Berbeda dari biasa. Menggunakan siku.

Di sudut alun-alun itu ada larangan. Tidak boleh berjualan dan melakukan kegiatan antara tanggal 17 – 30 Maret 2020. Itu bagian dari pembatasan kegiatan masal di semua tempat. Kita wajib mengikuti. Tujuannya satu. Agar virus korona tidak semakin meluas. (hq@jawapos.co.id)

 

Tinggalkan Balasan