Panasnya Penyakit Bisa Diobati, Panasnya Hati…

425
BAEHAQI-Direktur Jawa Pos Radar Semarang
BAEHAQI-Direktur Jawa Pos Radar Semarang

RADARSEMARANG.ID, Kemarin saya mengingatkan teman-teman karyawan Jawa Pos Radar Kudus dan Radar Semarang. Akhir-akhir ini banyak orang yang sakit panas. Jangan cemas. Itu bisa diobati. Sekalipun panasnya terkait ISPA (infeksi saluran pernafasan akut), tipes, maupun DBD (demam berdarah dengue).
Kebanyakan penyakit ISPA dikarenakan virus. Gejalanya antara lain demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri otot. Dibiarkan saja kalau masa inkubasinya telah selesai akan mereda dengan sendirinya. Untuk mengatasi demamnya cukup dengan paracetamol. Kalau infeksinya karena bakteri baru dibutuhkan antibiotik.

Tipes yang gejalanya hampir sama juga demikian. Orang yang terkena tipes biasanya kehilangan nafsu makan, lemah, dan sakit perut. Penyakit ini karena bakteri salmonella yang pada musim penghujan seperti ini gampang berkembang dan menyerang manusia. Obat utamanya antibiotik untuk membunuh bakteri. Ini urusan dokter.

Penyakit demam berdarah dengue juga menyebabkan panas tinggi, sakit kepala, dan nyeri di seluruh tubuh. Penyebabnya virus dengue yang bisa menyerang manusia melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Kalau masa inkubasinya selesai, gejala juga mereda. Persoalannya apakah pasien mampu bertahan. Sedangkan penyakit ini bisa menurunkan trombosit dalam waktu yang sangat singkat.

Panas, sakit kepala, dan nyeri yang diakibatkan penyakit tersebut sama-sama bisa diatasi dengan obat penurun panas. Lainnya tergantung kondisi yang menyertai masing-masing penyakit tersebut. Tentu dokter yang lebih mengatahui.
Saya bukan ahli kesehatan. Tapi merasa penting untuk menyarankan agar terhindar dari ketiga penyakit yang gejalanya antara lain sama-sama panas tinggi. Yang paling bisa dilakukan adalah menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Juga meningkatkan kekebalan tubuh dengan mengonsumsi makanan tinggi kalori, protein, serta vitamin. Gunakan waktu tidak bekerja untuk beristirahat serta mengurangi kegiatan di luar rumah.

Musim penghujan seperti sekarang rawan bagi kesehatan.
Saya mengatakan, panas yang menyertai penyakit-penyakit tersebut tidak perlu dirisaukan karena bisa disembuhkan. Yang perlu dicemaskan adalah panas yang satu ini. Tidak bisa disembuhkan dengan obat apapun. Yaitu panasnya hati. Panase srengenge iso disonggo wong akeh (panasnya matahari bisa dirasakan orang banyak). Kalau panasnya hati? Dirasakan sendiri.

Belakangan saya tertarik untuk mengaji mengenai hati ini pada Gus Bahak (KH Bahauddin Nursalim) dari Narukan, Kragan, Rembang. Beliau kiai muda ahli tafsir. Murid KH Mamoen Zubair dan KH Nursalim (ayahnya). Banyak disukai anak-anak muda karena guyonannya yang renyah. Bahkan ilmu tasawuf yang berat sekalipun bisa menjadi enteng dan gampang dipahami. Saya suka menyimak pengajiannya juga karena guyonannya itu.
Saya belum pernah berguru langsung. Bahkan bertemu pun belum. Tetapi sering menyimak cemarahnya yang sudah diunggah ke media. Kemarin Kepala Biro Radar Kudus di Rembang Ali Mahmudi juga menayangkan petikan pengajiannnya di story WA.

Di ilmu tasawuf, katanya, tidak ada bab sombong. Sebenarnya tidak ada orang yang benar-benar sombong. Kalau Anda mengatakan orang lain sombong karena Anda ingin dihormati. Perhatikan saja. Banyak orang yang tidak kamu kenal berlalu lalang tanpa menyapa. “Anda bilang sombong apa nggak? Nggak kan?” Tanya Gus Bahak yang dijawab sendiri. “Tapi orang yang kamu kenal lewat tanpa menyapa, kamu katakan sombong.”

Orang kikir juga begitu. Anda mengatakan orang lain kikir karena Anda berharap darinya. Banyak orang kaya raya, tidak pernah Anda katakan kikir kalau Anda tidak berharap darinya. Tetapi teman sendiri Anda katakan kikir karena Anda berharap pemberian darinya. Kikir dan sombong lantas menjadi tidak obyektif. Sifat itu hanya definisi menurut penilaian orang yang mengatakannya.

Orang menilai orang lain dengan penilaian buruk karena diri mereka sendiri. Mereka berharap orang lain baik sesuai keinginannya. Gus Bahak menyebut tamak. Kalau tidak sesuai, dikatakan buruk. Anda mengatakan orang tidak adil karena berharap pada orang itu. Demikian juga Anda mengatakan orang kasar, keras kepala, temperamental, pendendam, egois, malas, dan sifat-sifat buruk lainnya.

Inti semuanya itu pada hati. Sesungguhnya hati itu lembut. Sejuk seperti air. Itulah hati yang ikhlas. Tapi, bisa menjadi keras. Bahkan melebihi batu. Bisa menjadi panas melebihi api. Itulah hati yang tamak. Ganasnya bisa melebihi ISPA, tipes, dan DBD. Obat paten manapun tidak ada yang bisa menyebuhkannya. (hq@jawapos.co.id)

Tinggalkan Balasan