Tersadar di Makam Sunan Drajat

234
BAEHAQI-Direktur Jawa Pos Radar Semarang
BAEHAQI-Direktur Jawa Pos Radar Semarang

RADARSEMARANG.ID-Dua hari lagi kita memasuki tahun baru 2020. Apa yang harus kita lakukan? Hanya mengalir begitu saja? Seperti air di sungai? Tidak ada keinginan apa-apa? Atau menebar mimpi? Berusaha meraih segudang prestasi?

Mumpung tahun belum berganti saya introspeksi. Melihat ke belakang. Mencermati keadaan sekarang. Dan, menatap masa depan. Memang klise. Apalagi kondisi tidak muda lagi. Umur saya hampir berkepala 6. Sudah uzur bagi rata-rata orang. Kewartawanan saya sudah mencapai 35 tahun. Alhamdulillah sampai sekarang belum dipensiun. Entah tahun 2020.

Bahwa sekarang masih diberi kesehatan itu perlu disyukuri. Sehari kemarin saya manfaatkan untuk perjalanan ritual. Estafet dari makam wali ke makam wali lainnya di Jawa Timur (Tulisan ini saya kirim di sela perjalanan). Ingin mendapatkan suasana heneng, hening, hanung (dalam diam akan dicapai keheningan dan dalam keheningan akan tercapai jalan kebebasan mulia) seperti yang diajarkan Sunan Drajat. Insya’Allah hari ini berlanjut di Jawa Tengah.

Selama perjalanan itu, kadang-kadang tersenyum. Sering juga merasa sedih. Ternyata hidup ini tidak gampang. Banyak yang stagnan. Status saya, misalnya, tetap jomblo. Artinya, selama setahun tidak berubah (hehehe). Harta juga sama dibanding tahun sebelumnya. Sikap juga setali tiga uang. Masih sering marah bila mendapati karyawan yang begitu-begitu saja. Aneh.

Di makam Sunan Drajat, Lamongan, saya tersadar. Salah satu ajaran beliau adalah, meper hardaning pancadriya. Artinya, senantiasa meneken gejolak nafsu duniawi. Saya lantas bersyukur.

Hidup tidak ringan. Apalagi kalau dibebani tanggung jawab. Ada 120 karyawan yang menggantungkan penghidupan di perusahaan. Kalau rata-rata mereka sekeluarga berempat, berarti 480 orang. Belum lagi orang-orang dalam usaha terkait. Mereka harus disejahterakan seperti yang diajarkan Sunan Drajat. Memangun resep tyasing sesama (selalu membuat senang hati orang lain).

Berat. Tetapi, menjadi ringan setelah ingat pesan Mbah Sunan. “Laksitaning subrata lan nyipto marang pringga bayaning lampah (dalam upaya menggapai cita-cita luhur jangan menghiraukan halangan dan rintangan).”

Untuk bisa berbuat banyak perlu sehat. Sebulan terakhir sudah berusaha. Setiap pagi melakukan gerakan SPG alias sing penting gerak. Yang sering menyusuri jalan. Setengah sampai satu jam. Setelah itu baru makan buah. Kebanyakan buah naga atau pisang. Ini percobaan. Hasilnya baru diukur 5 Januari depan. Sasarannya kolesterol, asam urat, dan gula darah. Olah raga SPG itu akan saya laksanakan rutin di 2020. Inilah yang namanya proyeksi. Harus bisa diukur hasilnya.

Bagi saya hidup tidak boleh berhenti. Begitu juga hanya menjalani apa yang selama ini terjadi. Tidak baik mengalir begitu saja yang akhirnya berhenti juga. Hidup harus terus menebar mimpi. Kalau perlu janji. Itu akan menjadi penggerak dalam bertindak. Saya terus meyakini, semua itu berasal dari hati. Keinginan yang kuat untuk terus berbenah diri.

Setiap berganti tahun harus ada perubahan. Mesti ada perbaikan. Ukurannya, harus lebih baik dari sebelumnya. Beberapa tahun terakhir teman-teman di perusahaan, baik Radar Kudus maupun Radar Semarang, menetapkannya sebagai tagline. Dikobarkan setiap rapat akbar akhir tahun menyambut tahun baru. Be Better, Be Greater (Lebih baik dan lebih besar). Alhamdulillah selalu tercapai.

Berubah itu gampang diucapkan. Tetapi sulit dilakukan. Beberapa waktu lalu saya meminta agar seluruh karyawan menulis 10 perubahan yang bakal dilakukan tahun 2020. Sebagian besar ogah-ogahan. Setelah dipaksa, kebanyakan menulis tekad-tekad normatif. Padahal yang dimaui adalah perubahan nyata. Sekecil apapun. Perubahan itulah yang memungkinkan terjadinya perbaikan.

Jangankan melakukan perubahan, menetapkanya saja sudah sulit. Seorang karyawan, misalnya, menetapkan perubahan dengan kalimat, “Tahun 2020 ingin belajar lebih baik.” Karyawan lain mengatakan, lebih disiplin. Ada juga yang menuliskan, selalu rapi dalam berpenampilan. Semua itu saya anggap normatif. Ukurannya tidak jelas.

Yang diperlukan agar hidup ini lebih baik adalah perubahan nyata. Misalnya, setiap hari selama setengah jam membaca buku. Soal kedisiplinan, setiap pagi berangkat pukul 07.00. Mengenai penampilan, setiap hari mengenakan hem ke kantor. Mengenai kerapihan, sebelum pulang kerja merapikan seluruh barang di meja. Semua itu bisa diukur oleh diri sendiri maupun orang lain.

Mari kita songsong tahun 2020 dengan tekad dan perubahan nyata. (hq@jawapos.co.id)