Jalan Pagi, Hari Ibu, dan Doa Polisi

357

RADARSEMARANG.ID, Hari Minggu (22/12) kemarin, ketika bangsa Indonesia mulai memperingati Hari Ibu, saya berjalan-jalan di Alun-Alun Kudus. Ketika itu anak ragil saya juga memperingatinya. Tidak sekadar mengucapkan Selamat Hari Ibu, tetapi berdoa di pusara ibunya di Sidoarjo, Jatim. Gambarnya dikirim lewat WA. Saya mengamini.

Entah terpengaruh gambar itu, langkah kaki saya terbawa ke makam Kaliputu Kudus. Tidak sengaja. Menyusuri jalan setapak depan makam. Saat pulang dari Simpang 7. Berangkatnya juga berjalan kaki. Dari kantor Radar Kudus di Jalan Lingkar Utara 17. Alhasil, total perjalanan 11.852 langkah, 2 jam 5 menit, 7,85 kilometer. Menghabiskan energi 465,1 kcal.

Pukul 05.30 kemarin, suasana Simpang 7 Kudus sudah sangat ramai. Kebetulan car free day. Sepanjang putaran alun-alun dipenuhi manusia. Lebih-lebih Jalan A. Yani yang diperuntukkan jualan makanan dan aneka barang lainnya. Sepengamatan saya, sebagian besar kaum hawa. Termasuk ibu-ibu. Saya terbawa ke jalan itu. Membuntuti keponakan. Membeli makanan.

Jujur, saya malah tidak suka berjalan-jalan di lokasi car free day. Termasuk di Simpang Lima Semarang dan Sidoarjo, Jatim, tempat domisili saya dalam KTP. Terlalu banyak orang. Gerakan menjadi tidak bebas. Lokasi car free day lebih cocok menjadi arena rekreasi.

Belakangan, nyaris setiap hari saya berjalan-jalan pagi. Tidak sekadar menyehatkan badan. Tetapi, mencari pelajaran. Belajar dari apa saja yang ada, dan terjadi sepanjang perjalanan. Minggu lalu (16/12) ketika berjalan-jalan di Simpang 7 Kudus ada pelajaran menarik. Dari sekelompok polisi yang sedang apel pagi.

Ketika itu saya sudah berjalan beberapa putaran. Di depan Masjid Agung terdengar sayup-sayup bacaan asmaul husna. Itulah nama-nama Allah seperti yang tersebut dalam surat Toha ayat 8. “Lahu alasma’u alhusna (bagi-Nya nama-nama yang baik).” Biasanya dibaca kaum muslim dalam rangkaian ibadah di masjid, musala, sekolah, atau majelis keagamaan.
Bacaan asmaul husna yang saya dengar tersebut berasal dari sekelompok polisi lalu lintas. Mereka apel, berbaris di ujung timur laut alun-alun. Bagi saya itu tidak biasa. Saya mendekat untuk memastikan. Benar. “Al-rahman, Al-rahim, Al-malik, Al-quddus, Al-salam, Al-mukmin, Al-muhaimin…” dan seterusnya. Hati saya ambyar. Sampai-sampai bibir saya tergerak mengikuti anggota korp baju coklat yang akan bertugas di jalanan.

Saya terharu melihat polisi di jalan membaca asmaul husna. Hati saya bergumam, pasti tindakannya lurus. Orang yang menghayati bacaan asmaul husna merasa selalu diperhatikan Allah. “Ya sami’ (wahai Tuhan Yang Maha Mendengar, ya bashir (wahai Tuhan Yang Maha Melihat).” Mereka merasa dikontrol langsung oleh Tuhan.

Polisi adalah aparat yang memiliki kekuasaan. Tidak ada yang berani melawan. Saya sendiri keder setiap kali berhubungan dengan mereka. Apalagi ketika dicegat di jalanan. Meski tidak melanggar, takut juga. Tetapi, sekuat apapun, kekuasaannya tidak bisa melebihi Tuhan (Al-malik, yang maha kuasa). Mereka menyadari. Polisi juga manusia. Sama seperti kita.

Apa yang dilakukan polisi di Kudus tersebut tidak lepas dari tuntunan pimpinannya. Kapolda Jateng Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel adalah polisi yang sangat religius. Di mana-mana beliau selalu menempatkan diri sebagai hamba Tuhan. Itu bukan hanya perlu ditiru anak buahnya. Tetapi, oleh kita, seluruh umat manusia. Di mana pun kita wajib mendekatkan diri pada Tuhan dan selalu memohon kepadanya.

Dalam beberapa literatur keagamaan disebutkan, asmaul husna memiliki kekuatan yang langsung berhubungan dengan Tuhan. Orang-orang Islam disuruh berdoa dengan menyebut nama-nama tersebut (Lihat Alquran surat Al-a’raf 180).
Untuk mengenang jasa kaum ibu yang kasih-sayangnya sepanjang masa kita doakan agar mereka dikasihani dan disayang Tuhan. Ya Rahman, Ya Rahim. (hq@jawapos.co.id)