Oemar Bakri Dulu dan Sekarang

172

RADARSEMARANG.ID, SEJAK kecil saya ingin menjadi guru. Belajar di sekolah keguruan. Tidak tanggung-tanggung. Sepuluh tahun belajar menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Setiap kali bangsa Indonesia memperingati Hari Guru seperti beberapa waktu lalu, saya ikut terharu. Kalau sampai sekarang tidak menjadi guru, itu semata-mata takdir Allah.

Saya bukan hanya belajar secara formal menjadi guru. Juga berpraktik. Menjadi guru sukarela. Mula-mula di musala. Membelajari anak-anak membaca Alquran dan pelajaran agama lainnya. Ketika peserta didiknya semakin banyak, kelas dipecah. Di satu musala itu ada tiga kelas. Gurunya cuma dua. Kalau pelajarannya membaca bersama-sama, kelas yang lain terpengaruh.

Kondisi itu tidak mengurangi semangat guru, peserta didik, dan orang tua. Murid membayar uang syahriyah (bulanan). Guru mendapat honor dari dana itu. Tentu tidak banyak. Meski demikian, murid semakin bertambah. Akhirnya bisa mendirikan sekolah. Atas dana swadaya masyarakat. Mula-mula hanya tiga kelas. Kemudian menjadi enam.

Sekolah yang semula ibtidaiyah (setara SD) berkembang menjadi tsanawiyah juga (setara SMP). Bahkan, yang semula hanya diniyah (sekolah agama) menjadi tsanawiyah umum. Kepala sekolahnya saya. Selama sepuluh tahun. Saya baru melepaskan jabatan itu justru ketika mendapat bantuan dari pemerintah.

Meski honornya tidak bisa dibilang imbalan karena kecilnya, saya bangga. Bangga menjadi guru. Niat waktu itu memang bukan berharap mendapat honor. Tetapi, mengabdi. Menyumbangkan ilmu. Kalau bisa, kelak masuk surga bersama muridnya.

Dulu, di mata saya dan kebanyakan orang di desa, guru adalah lambang orang terhormat. Martabatnya tinggi. Mereka bekerja dengan hati. Tanpa pamrih. Siang-malam. Penghasilannya sedikit. Oleh Iwan Fals digambarkan sebagai Oemar Bakri. “Oemar Bakri, Oemar Bakri. Empat puluh tahun mengabdi. Jadi guru jujur berbakti memang makan hati,” demikian penggalan lirik lagunya yang amat populer.

Sekarang saya sering prihatin. Terutama ketika mendapati teman guru yang meninggalkan sekolah. Sering ngelencer. Padahal, ekonominya cukup. Punya motor. Bahkan, memiliki mobil. Tidak lagi seperti Oemar Bakri. Lebih prihatin lagi ketika melihat berbagai aksi para guru menuntut perbaikan kesejahteraan.

Memang masih ada ketimpangan antara guru swasta dengan mereka yang menjadi aparatur sipil negara (ASN). Banyak guru swasta yang gajinya kecil. Apalagi di sekolah-sekolah keagamaan. Terutama lagi yang di desa-desa. Ada yang hanya Rp 300 ribu sebulan. Sama dengan uang saku sebagian anak SMA. Wajar sebenarnya, mereka menuntut kesejahteraan. Karena mereka juga bekerja.

Terkadang saya bertanya, apakah mereka tidak ingat niatnya semula yang luhur? Ketika memutuskan menjadi guru, mereka tidak mengharap gaji tinggi. Mereka juga ikhlas.

Memang tidak semua guru sawsta seperti itu. Beberapa waktu lalu saya melihat ketulusan guru-guru raudlatul atfal (setingkat taman kanak-kanak) di Jepara. Mereka menyelenggarakan lomba mewarnai bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Kudus. Pesertanya 10.170 anak. Acara berlangsung sukses. Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) mencatatnya sebagai lomba mewarnai menggunakan media koran dengan peserta terbanyak. Semua atas dana swadaya.

Guru berbeda dengan pegawai lainnya. Tidak sama dengan pekerja. Mereka berbuat karena hati nurani. Memprihatinkan apabila tidak dihormati. Memprihatinkan pula apabila kelewat minta diberi hati. (hq@jawapos.co.id)