alexametrics


Makam Sultan Fatah Sering Jadi Jujukan Pejabat dan Calon Kepala Daerah

Jejak-Jejak Para Wali Allah

Rekomendasi

Menarik

RADARSEMARANG.ID – Puasa Ramadan tidak menyurutkan para pencinta wisata religi untuk berziarah ke makam Sultan Fatah di belakang Masjid Agung Demak. Meski demikian, seiring berlangsungnya pandemi Covid-19, jumlah peziarah tidak seperti hari hari biasa. Peziarah lebih banyak warga lokal. Rata-rata berkisar 50-an orang tiap hari.

Ketua Takmir Masjid Agung Demak KH Abdullah Syifa menuturkan, peziarah saat hari biasa sebelum pandemi bisa mencapai 130 ribu orang tiap bulan. “Sekarang turun 50 persen. Apalagi, ketika puasa Ramadan seperti ini,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang. Menurutnya, makam tetap dibuka. Dengan demikian, peziarah tetap bisa masuk berziarah. “Yang penting taat protokol kesehatan (prokes),” katanya.

Menurutnya, tetap dibukanya makam Sultan Fatah bagi peziarah menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan takmir masjid. “Kita tetap melayani peziarah. Apalagi, kita juga banyak kegiatan lain selama Ramadan ini,” jelasnya didampingi KH Mahali, pengurus lainnya.

Selain ada kegiatan takjil, juga ada pengajian sore jelang buka puasa. Kemudian tarawih dengan bacaan ayat Alquran satu juz hingga khatam di tarawih terakhir bulan puasa. Adapula kegiatan Nuzulul Quran dan salat tasbih pada malam malam ganjil. “Kegiatan yang ada itu tiada lain untuk menyemarakkan puasa Ramadan,” ujar Syifa.

Selain peziarah umum, pada hari hari tertentu takmir juga melayani peziarah dengan tamu khusus atau pejabat tinggi negara termasuk presiden maupun menteri. Belum lama ini misalnya, Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Wahyu Sakti Trenggono dan sejumlah pejabat lain menyempatkan ziarah di sela kunjungan kerja ke Demak. Selama ini, banyak pejabat lain yang berziarah ke makam Sultan Fatah. Saat pilkada, para calon kepala daerah juga selalu menyempatkan berziarah ke Makam Sultan Fatah untuk ngalap berkah Waliyullah tersebut.

Masjid Agung Demak dan serambi masjid hadiah dari Majapahit menjadi pusat Kasultanan Demak Bintoro di bawah kepemimpinan Sultan Fatah. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Berjasa Himpun Undang-undang Hukum Islam

Dalam sejarahnya, Sultan Fatah masih keturunan Raja Majapahit Brawijaya V dengan ibu dari negeri Champa, atau sekarang dikenal sebagai Vietnam. Versi lain, ayah Sultan Fatah adalah Brawijaya V dengan ibu seorang putri China dari Gresik. Berdasarkan catatan buku Poestoko Darah Agoeng yang bersumber dari sejarah kraton, bahwa Sultan Fatah adalah anak Kertabumi Prabu Brawijaya V yang ke-13. Anak Brawijaya tercatat ada 100 orang.

Raden Fatah diperkirakan lahir pada 1448 M dan wafat pada usia 70 tahun pada Senin Legi malam Selasa Pahing 13 Jumadil Akhir 924 H/1518 M dan dimakamkan di sebelah utara Masjid Agung Demak. Selama menjadi sultan, Raden Fatah memiliki visi pengembangan Islam dalam kasultanan. Diantaranya, menjadikan Masjid Agung Demak sebagai pusat pemerintahan serta menata bidang hukum. Dengan menggunakan kekuasaannya sebagai sultan dan raja Islam pertama di Jawa, ia berupaya menghimpun undang undang yang bersumber dari hukum Islam. Undang undang yang dibuat berdasar Alquran dan hadis. Adapun, Sultan Fatah dan Majelis Walisongo bertindak selaku penegak hukum fikih syariat. Dengan demikian, secara umum Kasultanan Demak Bintoro memberlakukan syariat Islam dalam menyelesaikan berbagai persoalan di wilayah kekuasaannya ketika itu. (hib/ton)

 

Tinggalkan Balasan

Terbaru

Populer