alexametrics

Cium Nisan Habib Ahmad Alatas Pengganti Cium Tangan

Jejak-Jejak Para Wali Allah

Rekomendasi

Menarik

RADARSEMARANG.ID – Para peziarah sangat menghormati makam Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alatas. Beberapa peziarah mengekspresikan kecintaannya terhadap ulama besar tersebut dengan berbagai macam cara. Ada yang duduk bersila dan menunduk seolah sedang menghadap sang habib, ada yang memanjatkan doa seraya memegang nisan, sampai ada yang menciumi nisan.

Berbagai macam tindak laku tersebut wartawan koran ini dapati di makam Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alatas, Sapuro, Pekalongan, Minggu malam (2/5/2021). Waktu itu belum terlalu malam. Masih pukul 20.30. Tadarus masih bergema dari pengeras suara Al Iman, musala dekat makam.

Area parkir kompleks Makam Sapuro cukup luas. Pada bulan tertentu, penuh bus-bus peziarah. Tapi tidak pada Minggu malam itu. Relatif sepi. Namun di area makam sudah ada beberapa orang peziarah. Tidak lebih dari 20 orang. Ada yang mengelompok. Ada yang berpencar-pencar. Ada yang di teras area makam. Ada yang benar-benar di depan makam.

“Jam segini masih sepi. Nanti agak malam akan ramai. Apalagi ini malam ganjil (malam 21 Ramadan). Biasanya ramai,” kata salah seorang warga.

Kata dia, juru kunci makam Habib Ahmad sedang sakit dan belum bisa ditemui. Alhasil wartawan koran ini tak bisa berbincang dengannya. “Monggo kalau mau foto. Tapi jangan di dalam makam. Karena biasanya tidak diizinkan. Dari teras saja,” sarannya.

Wartawan koran ini mendekat ke area makam. Ikut duduk dan bertawasul bersama salah satu kelompok peziarah. Mereka tampak khusyuk.

Dari sekian peziarah, ada dua orang yang menyita perhatian wartawan koran ini. Ia adalah Turmudi dan Darsiah. Sepasang suami-istri ini berasal dari Comal, Kabupaten Pemalang. Sengaja berziarah ke makam Habib Ahmad malam itu untuk berdoa.

Hanya mereka berdualah yang bersila tepat di depan makam Habib Ahmad. Awalnya, tak beda dengan peziarah lain, mereka duduk bersila menunduk dan menengadahkan tangan. Sambil memanjatkan doa.

Ketika selesai, mereka agak maju. Mengusap-usap nisan makam Sang Habib. Lalu menciuminya. Bergantian. “Itu bentuk saya menghormati beliau. Andai saja beliau masih hidup, ingin sekali saya mencium tangan beliau. Karena sudah wafat, ya hanya bisa mencium nisannya,” kata Turmudi.

Itu bukan kali pertama Turmudi dan Darsiah ziarah ke makam Habib Ahmad. Ia sudah sering. Sejak mereka mulai membuka warung di Comal. “Sebelumnya kan saya tinggal di Petungkriyono. Itu agak jauh kalau ke sini. Kalau dari Comal masih relatif dekat kami tempuh ke sini,” ucap Turmudi.

Turmudi dan istrinya pulang. Wartawan koran ini kembali ke area makam. Jumlah peziarah berangsur bertambah. Ada rombongan ibu-ibu satu angkot. Mereka menggelar tikar di dekat makam. Bertawasul.

Di salah satu sudut, ada dua pemuda khusyuk membaca surat  Al-Qadr (Lailatul Qadar). Berulang-ulang. Peziarah tak hanya ramai di makam Habib Ahmad. Tetapi juga di makam-makam umum. “Yang di makam umum itu biasanya ziarah ke makam orang tua mereka. Nanti setelah itu, biasanya mampir juga ke makam Habib Ahmad,” kata warga yang tengah duduk-duduk di seberang kompleks makam.

Aktif Berdakwah, Ibadah, dan Dzikir

Makam Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alatas, berada di kompleks pemakaman Sapuro Pekalongan yang terletak di Kelurahan Sapuro Kebulen, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan. Sekitar 200 meter dari jalan utama Pekalongan.

Habib Ahmad Alatas merupakan ulama besar yang membawa pengaruh terhadap perkembangan agama Islam di kawasan Pantura Barat. Beliau dilahirkan di Kota Hajren, Hadramaut, Yaman pada tahun 1255 H. Pada masa kecilnya, mendapat didikan agama langsung dari orang tuanya yakni Al-Habib Abdullah bin Thalib Alatas dan Syarifah Zaenah Binti Ahmad AlKaf.

Setelah dirasakan cukup menimba ilmu dari ayahandanya, beliau meneruskan menuntut ilmu kepada para ulama besar di Hadramaut. Setelah ditempa oleh para ulama besar, para Quthb di Hadramaut, keinginan beliau untuk menuntut ilmu seakan tak pernah luntur dan pupus. Hasrat beliau untuk menambah ilmu sedemikian hebat, sehingga beliau 12 tahun menimba ilmu di Kota Makkah.

Beliau kemudian dianjurkan gurunya, As-Sayyid Al-Allamah Ahmad bin Zaini Dahlan, untuk terjun ke masyarakat, mengajarkan ilmu dan berdakwah. Mula-mula beliau berdakwah di pinggiran Kota Makkah selama 7 tahun. Kemudian beliau berkeinginan melanjutkan perjalanan dakwah ke Indonesia diperkirakan sekitar tahun 1295-1300 H. Setibanya di Indonesia, beliau menuju Kota Pekalongan dan menetap di sana.

Di Kota Pekalongan beliau aktif meneruskan kegiatan-kegiatan dakwahnya. Waktu beliau selalu terisi dengan dakwah, ibadah, dzikir kepada Allah dan rajin membaca ayat-ayat suci Alquran. Selain itu, ilmu beliau selalu tampak bercahaya, terpancar melalui akhlak beliau yang mulia. (int/nra/ida)

Tinggalkan Balasan

Terbaru

Populer