Sering Diomeli Mertua, Suami Ditinggalkan

425
ILUSTRASI: YOGI/JAWA POS RADAR SEMARANG
ILUSTRASI: YOGI/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.ID,- Menikah harusnya bisa menyatukan dua pemikiran. Namun sifat egois menjadi alasan biduk rumah tangga ambyar. Begitulah nasib Lady Sandi yang memilih pisah lantaran tak satu pemikiran dengan suaminya, John Dori. Sebab, Lady kerap diomeli mertuannya. Sedangkan John tak pernah membelanya.

Sebelum menikah keduanya memang sering beda pendapat, terkadang berselisih paham. Bertengkar pun sering terjadi. Mulai dari hal kecil yang dibesar-besarkan hingga masalah serius yang harus melibatkan kelaurga. Terkadang baik terkadang buruk. Sayangnya, sifat egois kedua belah pihak sama-sama besar, jadi tak ada yang mengalah salah satu.

Begitupun ketika menjalani kehidupan rumah tangga. Dilihat dari segi usia, keduanya tidak terpaut jauh. Namun sudah cukup umur, bahkan dikatakan telat karena saat menikah keduanya sudah menginjak kepala tiga.

Masalah datang silih berganti. Bukan masalah ekonomi saja, namun sosial juga menjadi pemicu retaknya rumah tangga yang telah dibangun tujuh tahun ini. Anaknya pun sudah besar, sudah mengerti mana yang baik dan buruk.

Pertengkaran serius dimulai ketika Lady dimarahi oleh mertuanya karena membiarkan sang anak main air hujan. Akibatnya, si anak jatuh sakit. Sebagai ibu, Lady tentu sedih. Bukan tidak melarang, hanya saja anaknya yang bandel memang susah diatur.

“Perkaranya sih dimulai dari situ, anakku memang sedikit nakal tapi ya bagaimana lagi namanya juga anak kecil,” katanya.

Biasanya, Lady memilih diam ketika mertuanya ngomel. Kali ini, ia berani membantah dengan kalimat yang dinilai sedikit kasar. Ia mengatakan bahwa ini urusan keluargaku, tidak perlu ikut campur. Tentu saja mertuanya merasa dihina. Akibatnya, keduanya tidak lagi dekat. Menantu dan mertua tak harmonis.

“Seharusnya itu kalau memberi nasihat dengan cara halus, ini ibu selalu kasar. Saya selama ini sudah mencoba untuk diam, tapi lama-lama siapa yang tahan,” ujarnya.

Lady sendiri ketika melaporkan kejadian itu kepada suaminya, ditanggapi dingin suaminya. Karena John sendiri sebenarnya juga sudah tahu bagaimana galaknya ibu kandungnya. Sebagai anak, ia hanya bisa diam, karena tidak mau menambah masalah. Ia tidak berani melawan orang tuanya.

“Mas John juga terlalu diam, pas tak kasih laporan malah ganti aku yang dimarahi. Aku kan butuh perlindungan juga,” katanya.

Sisi egois terkadang muncul dari keduanya. Kesibukan Lady sebagai guru sudah menguras tenaga, ditambah dengan kegiatan rumah yang tak kunjung selesai. Terkadang Lady sembarangan istirahat, namun bagi John itu dinilai tidak baik. Ia pun sama capeknya.

Juga ketika keduanya tidak bisa menuruti keinginan sang buah hati. Pernah ketika jadwal anak rekreasi sekolah yang butuh didampingi orang tua. John dan Lady sama-sama sibuk dengan pekerjaannya hingga tidak bisa menemani. Sontak, mertua Lady marah-marah karena ia harus direpotkan dalam urusan kepentingan anak.

Tak ada yang mau mengalah, keduanya menyadari hal itu, sama-sama ingin mementingkan diri sendiri. Namun bukannya diperbaiki malah semakin menjadi. Lady tak mau lagi menjadi bahan amarah ibu mertuanya. Lady juga tak mau lagi terus-terusan tidak sejalan dengan pemikiran suaminya. “Buat apa kalau sudah tidak bisa lagi disatukan, capek seperti ini terus,” keluhnya. (ifa/aro)





Tinggalkan Balasan