Relakan Suami Jatuh ke Pelukan Pelakor

358

RADARSEMARANG.ID-Perempuan mana yang mau dipoligami? Alih-alih untuk ibadah malah membawa musibah. Begitulah yang dialami Lady Sandy. Setelah menjalin hubungan rumah tangga selama 12 tahun, John Dory, suaminya, tega menduakan. Ia terpikat dengan rekan bisnisnya yang cantik, Pretty. Tak mampu memilih antara istrinya atau gendakan-nya, John akhirnya menikahi Pretty diam-diam tanpa sepengetahuan Lady.

Karena jarang pulang dan tingkahnya sedikit berbeda dengan sebelumnya, Lady menaruh kecurigaan terhadap John. Bahkan uang belanjanya pun berkurang. Dan benar saja, John telah memiliki istri kedua yang dinikah secara agama alias nikah siri. Lady kaget bukan kepalang. Ia bingung harus menerima madunya atau harus meninggalkan suaminya. Di satu sisi ia sangat menyayangi John.Ia juga tak mau anaknya sedih karena harus berpisah dengan sang ayah. “Kaget banget gak nyangka Mas John tega nikah lagi tanpa izin,” katanya sedih.

Pretty merupakan klien John. Kedunya kerap bertemu lantaran sering menjalin kerja sama. Selain wajahnya yang ayu, kulitnya juga putih mulus. Pretty janda ting-ting. Tentu saja dia butuh kasih sayang. Lagipula John juga bukan orang yang pandai menahan godaan. Ia dengan mudah kepincut Pretty.

Perebut laki orang alias pelakor pantas disandang Pretty. Nyatanya, tanpa basa-basi, ia mau menikah siri dengan John. Memang, ia masih muda dan lebih cantik dari Lady.
Beberapa orang menyebut alasan menjadi pelakor adalah lebih mapan dan lebih menggoda. Mungkin hal itulah yang dilihat Pretty dalam diri John. Sebagai seorang pengusaha yang lumayan sukses, John tentu memiliki kehidupan yang berkecukupan, bahkan lebih. Selain itu, John juga memiliki pesona yang mampu memikat, nyatanya Pretty terpikat.

“Di luar sana kan banyak laki-laki yang nganggur dan single juga. Kenapa harus dengan suami yang sudah beristri. Sebagai perempuan apa dia tidak merasa sakit hati,” ujarnya.
Ingin hidup nyaman tanpa bayang-bayang istri muda suaminya, ia bersikeras ingin lepas dari John. Karena setiap harinya ia selalu menangis mengingat kejadian yang menimpanya. Ia tertusuk dari belakang. Lady juga malu dengan tetangga dan saudara-saudranya. Sama sekali tidak ada bayangan bahwa John akan berbuat demikian.

Pretty juga tak berani muncul di hadapan Lady. Tak ingin sakit hati, ia tak mau mencari tahu lebih dalam tentang Pretty. Untuk itu, ia memilih jalan perceraian. Segala risiko seperti harus membesarkan anaknya sendirian, menjadi gunjingan tetangga sudah ia pikirkan dengan matang. Ia sudah membulatkan tekad menempuh jalan ini. Baginya, lebih baik sendiri daripada harus berbagi hati. (ifa/aro)

Tinggalkan Balasan