Upaya Menyejahterakan Keluarga melalui Program Humanity Parenting Class – ACT

295

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Ketidakharmonisan keluarga yang berujung gugatan perceraian menunjukkan tren yang selalu menanjak dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Pengadilan Agama Kelas I A Kota Semarang, Ibu kota Jawa Tengah ini menduduki peringkat ketiga dengan kasus gugatan cerai tertinggi setelah Cilacap dan Brebes.

Aksi Cepat Tanggap (ACT) sebagai lembaga kemanusiaan merespon hal tersebut, salahsatunya dengan menginisiasi program Humanity Parenting Class yang digelar pada Ahad, di outlet Rabbani, Semarang (3/8).

“Berdasarkan data kami, erat kaitannya antara faktor ekonomi dengan tingginya angka perceraian, terang Giyanto selaku Head of Partnership ACT Jawa Tengah. Lanjutnya, “Ditambah dengan minimnya pemahaman peran suami-istri dalam berumah tangga berimplikasi pada buruknya metode mendidik anak.”

Program parenting class ini diakui Giyanto akan sejalan dengan program pengentasan kemiskinan yang dilakukan ACT. “Alhamdulillah di Jawa Tengah, ACT sudah memiliki desa binaan tersebar di 14 kecamatan yang akan kita fasilitasi agar mereka sejahtera secara ekonomi, selain itu kita juga akan mengedukasi masyarakat melalui program Humanity Parenting Class agar terangkat pula moralitas masyarakatnya” tutur Giyanto.

Semantara itu, Darosy Endah Hyoscyamina, selaku pemateri dalam Humanity Parenting Class meyakini bahwa negara yang sejahtera dimulai dari harmonisnya keluarga. “Keluarga adalah fondasi yang paling utama, saya yakin di dalam keluarga yang baik, akan melahirkan masyarakat yang baik, masyarakat yang baik budi pekerti dan akhlaknya akan menjadikan Indonesia jauh lebih baik,” jelasnya.

Dosen yang akrab dipanggil Bunda Darosy itu berharap kedepan para orang tua wajib mengerti ilmu parenting. “Kerap kita dengar istilah anak yang durhaka kepada orangtua, kalau dilihat lebih dalam banyak juga kasus orang tua yang durhaka terhadap anaknya.”

Bunda Darosy mencontohkan, “Misalnya saja, orangtua memberikan makanan, pakaian yang tidak sesuai syariat itu sudah bagian dari kedurhakaan orangtua kepada anaknya. Kalau cara untuk mendapatkannya tidak benar, maka semua hasilnya juga tidak benar,” imbuhnya.

Para peserta Humanity Parenting Class terlihat antusias mulai dari orangtua sampai anak muda, salah satunya adalah Rihadatul Aisy (22). “Tertarik ikut Parenting Class meski masih single. Karena nantinya juga akan menikah dan punya anak, untuk belajar mendidik anak juga harus di mulai dari sebelum menikah. Jadi kedepan sudah punya bekal cara mendidik anak yang ngga mudah, dengan karakteristik anak yang berbeda-beda otomatis cara menasihati dan mendidiknya juga berbeda,” pungkasnya. (act/web/ap)