Senin, 23 Jul 2018
radarsemarang
icon-featured
Hukum & Kriminal

Polisi dan Paranormal Gadungan Sikat Rp 320 Juta

Rabu, 11 Jul 2018 13:21 | editor : Agus Purwahyudi

TIDAK AKUR: Tersangka M Ali Nurudin dan Sodikun saat gelar perkara di Mapolda Jateng, kemarin.

TIDAK AKUR: Tersangka M Ali Nurudin dan Sodikun saat gelar perkara di Mapolda Jateng, kemarin. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG - Dua pelaku sindikat penipuan bermodus menjanjikan bisa meloloskan dalam seleksi anggota Polri berhasil diringkus aparat Subdit 3 Jatanras Direskrimum Polda Jateng. Dalam melancarkan aksinya, kedua pelaku masing-masing mengaku sebagai anggota Polri bertugas di Markas Besar (Mabes) di Jakarta, dan seorang paranormal.

 Seorang pelaku yang ditangkap adalah M Ali Nurudin alias AN, 43, warga Jalan Pramuka Sari III Kelurahan Rawasari, Kecamatan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Ia berperan sebagai anggota Mabes Polri dan setiap bepergian selalu pamer dengan senjata api (senpi) jenis pistol yang dimilikinya. 


Pelaku lainnya Sodikun alias S, 58, warga Kudu, Kecamatan Genuk, Semarang. Ia bertugas mencari korban dengan mengaku sebagai paranormal yang bisa membantu melancarkan korban dalam proses seleksi masuk menjadi anggota polisi. Keduanya ditangkap di Semarang, Senin (9/7) lalu.

Sedangkan korban adalah JP, warga Purwokerto, mengalami kerugian sebesar Rp 320 juta. Kronologis terjadinya tindak pidana penipuan ini berawal saat anak JP berinisial FMC, mengikuti seleksi Bintara Polri 2018. Namun FMC gugur alias tidak lolos seleksi tahap awal pemeriksaan kesehatan pada Mei 2018 lalu.

"Karena anaknya gagal, orangtua korban berupaya mencari orang yang bisa membantu. Hingga akhirnya kenal dengan S (Sodikun) yang dikenal sebagai paranormal. Korban mengenal S  dari mulut ke mulut. Saat itu, S menyanggupi bisa membantu mengurus anak korban mengikuti tes masuk Polri sampai akhir dengan syarat menyiapkan uang Rp 350 juta," ungkap Kasubdit 3 Jatanras Direskrimum Polda Jateng, AKBP Yulian Perdana, di Mapolda Jateng, Selasa (10/9).

Meski tidak memiliki uang sejumlah itu, orangtua korban yang berkeinginan anaknya jadi anggota Polri berupaya mencari uang untuk memenuhi persyaratan dari paranormal tersebut. Hingga akhirnya uang tersebut berhasil mengumpulkan yang ratusan juta dan langsung diserahkan kepada Sodikun secara tunai.

"Korban JP mengatakan tidak punya uang sebesar Rp 350 juta, tapi diupayakan dan memberi uang kepada S sebesar Rp 320 juta, penyerahan uang pada bulan Mei sebelum puasa secara cash di rumah S di Semarang," jelasnya.

Orangtua korban juga diajak oleh Sodikun bertemu AN di Boyolali dengan bermaksud untuk meyakinkan bahwa relasinya adalah orang yang memiliki jabatan, bekerja sebagai anggota Mabes Polri di Jakarta. Bahkan, AN sendiri juga sering menenteng senjata api untuk meyakinkan korbannya bahwa dia seorang aparat.

Namun seiring berjalannya waktu, setelah menerima uang dari korban terjadi perselisihan antara Sodikun dan AN terkait pembagian hasil yang tidak sesuai kesepakatan. Bahkan, Sodikun mengaku sempat diancam AN akan ditembak menggunakan pistol, hingga akhirnya mendatangi Mapolda Jateng untuk melaporkan perbuatan rekannya tersebut pada Senin (9/7) pagi lalu.

"Tapi, dia (S) ini juga tidak jujur, dia bilang diancam oleh orang Mabes. Memang awalnya S ini selalu mengaku sebagai korban, setelah kita proses dan dilakukan penyelidikan ternyata ada rangkaian kejahatan penipuan. Jadi, pengungkapan kasus ini berawal dari si dukun yang mengaku diancam oleh orang yang mengaku dari Mabes ini," bebernya.

Dari sini, anggota Jantanras Subdit 3 Direskrimum Polda Jateng langsung melakukan penyelidikan dan pengejaran terhadap AN. Hingga akhirnya AN berhasil ditangkap tanpa ada perlawanan.

"Dia ini mau kabur ke Jakarta. Setelah kita telusuri, ternyata yang bersangkutan bukan orang Mabes, pekerjaannya juga tidak jelas. Kita juga menyita sebuah pistol yang ternyata airsoft gun, sejumlah uang dan ATM, uang di rekening segera kita cek," ujarnya.

Petugas juga telah mendatangi tempat tinggal Sodikun untuk melakukan pengecekan dan penggeledahan. Dari sini ditemukan sejumlah barang bukti, termasuk cek pembayaran dan data-data jadwal proses seleksi serta percakapan kasus penipuan yang dilakukan Sodikun terhadap korban.

"Dari paranormal ini sudah kita sita sebuah kendaraan motor Kawasaki Ninja, dan sertifikat tanah. Jadi, uang yang ada di S ini ada sekitar Rp 220 juta, berupa tanah dan motor. Termasuk senjata airsoft gun (AN) masih kita cek, apakah berizin atau tidak," tegasnya.

Saat ini, kedua pelaku telah ditahan di Mapolda Jateng guna dilakukan penyelidikan dan pengembangan adanya pelaku lain yang terlibat. Pada kasus ini, pelaku akan dijerat pasal 378 KUHP terkait tindak pidana penipuan.

Pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mudah terpancing dengan bujuk rayu oleh orang-orang tidak bertanggung jawab yang mengaku bisa meloloskan menjadi anggota Polri. Karena untuk bisa masuk menjadi anggota Polri tidak dipungut biaya alias gratis.

"Kita mengingatkan kepada masyarakat, masuk menjadi anggota kepolisian itu clear and cleen, transparan, tidak ada sogok-sogokan. Jadi, orang yang masuk polisi adalah murni kemampuan usahanya sendiri, bukan karena titipan sogokan dan lain sebagainya," tegasnya.
Pelaku AN mengakui kenal dengan Sodikun baru sekitar 3 bulan lalu yang awalnya melalui telepon untuk menyerahkan data-data korban. Alasan melakukan kejahatan ini hanya untung-untungan saja.

"Kalu saya tidak urusan dengan uang  sama Pak Sodikun. Saya gambling, untung-untungan saja. Kalau lulus untung saya, saya baru ditransfer Rp 38 juta, janjinya mau dikasih Rp 170 juta, tapi belum menerima," bebernya.

Sodikun mengakui selain C, juga pernah mendapat uang dari dua korban lainnya. Namun, pihaknya berdalih telah mengembalikan uang tersebut. Bahkan dia juga mengaku telah memberikan uang hasil kejahatan tersebut kepada paranormal AN mencapai artusan jutaan rupiah. "Sudah saya berikan ke dia (AN) Rp 130 juta," katanya. 

(sm/mha/aro/ap/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia