Senin, 23 Jul 2018
radarsemarang
icon featured
Features

Dua Sisi Mata Uang Eceng Gondok dengan Pembangunan Ekonomi Lokal

Senin, 09 Jul 2018 19:18 | editor : Agus Purwahyudi

Oleh : Rita Dwi Hatnani

Oleh : Rita Dwi Hatnani

RADARSEMARANG.ID - Danau Rawa Pening terletak di Kabupaten Semarang Jawa Tengah dengan luas kawasan sebesar 2.500 hektare. Danau ini merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat dan populasi yang mendiami kawasan tersebut. Akan tetapi, nasibnya kali ini menjadi perhatian bagi banyak pihak, sejak aktivitas manusia di kawasan Danau Rawa Pening melebihi ambang batas sehingga terjadi banyak ketidakstabilan pada kawasan danau. Yang menjadi perhatian saat ini adalah jumlah tumbuhan eceng gondok di danau yang melebihi batas permukaan kawasan. Akibatnya terjadi ketidakstabilan ekosistem dan penurunan kualitas lingkungan di kawasan Danau Rawa Pening.

Eceng gondok atau dengan mana latin eichhornis crassipes adalah satu jenis tumbuhan yang berasal dari Brazil. Tumbuhan perairan dari sungai Amazon ini dibawa seorang ilmuan berkebangsaan Jerman yang awalnya dikembangkan hanya sebagai sarana penelitian dan keindahan bunganya yang unik. Akan tetapi di balik bentuknya yang unik, ternyata tumbuhan ini sekarang menjadi satu masalah di kawasan perairan Danau Rawa Pening.

Banyaknya jumlah eceng gondok di Danau Rawa Pening telah menimbulkan kerugian pada lingkungan. Tanaman yang jumlahnya melebihi batas ini cukup banyak mengambil kandungan zat penting dalam perairan. Jumlahnya yang terlalu banyak juga mempengaruhi kestabilan oksigen sehingga jumlah ikan yang hidup di dalam danau kekurangan oksigen. Akibatnya, ikan tak dapat berkembang biak dengan baik, secara jumlah maupun ukuran. Akibat lanjutannya, nelayan lokal yang mencari penghasilan dari lingkungan danau kesulitan mendapatkan ikan.

Tempat rekreasi dan bangunan rumah tangga di kawasan sekitar danau memberi andil dalam tumbuh dan berkembangnya eceng gondok dengan pesat. Kandungan kimia dari detergen memberikan andil dalam perkembangbiakan eceng gondok yang tidak terkendali. Kondisi ini diperparah oleh tindakan manusia yang mengunjungi kawasan danau dengan sengaja atau tidak sengaja membuang sisa makanan ke danau. Zat lain masuk dan mendorong pertumbuhan eceng gondok.

Dalam jangka panjang, eceng gondok yang berkembang pesat akan mengakibatkan pengeringan pada kawasan danau dan terjadi sendimentasi. Danau akan menjadi dangkal dan ikan beserta mikrobiologi yang hidup di dalamnya menjadi berkurang atau punah.

Tentunya kondisi ini perlu mendapatkan perhatian serius dari semua pihak. Belakangan, berbagai ilmuwan, pemerhati lingkungan swadaya masyarakat dan pemerintah secara sadar mulai melakukan pengelolaan lingkungan bagi kawasan Danau Rawa Pening. Hal demikian tentunya perlu diimbangi pemahaman yang baik dari semua elemen terkait kestabilan lingkungan yang perlu dikelola bagi kawasan Rawa Pening.

Saat ini, proses pengurangan jumlah eceng gondok yang ada di kawasan dikendalikan secara manual yakni memotong batangnya untuk dikelola menjadi produk kerajinan usaha kecil atau mikro bagi masyarakat sekitar danau. Akan tetapi kondisi itu sebetulnya tidak memberi arti yang signifikan bagi berkurangnya jumlah eceng gondok di permukaan kawasan Danau Rawa Pening. Hal tersebut dikarenakan jenis tumbuhan ini memiliki usia pertumbuhan dan perkembangbiakan yang sangat cepat.

Upaya yang saat ini dilakukan oleh masyarakat hanya bersifat pengalihan keadaan. Kekurangan pasokan ikan pada kawasan menjadikan masyarakat memutar otak untuk mencukupi kebutuhan dengan mengambil aktivitas lain yakni membuat kerajinan dari batang eceng gondok untuk dibentuk menjadi tas, serat dan juga bentuk multiguna lainnya.

Namun kendala yang saat ini dihadapi masyarakat adlaah pasar yang kurang meminati hasil produk tersebut. Jangkauan pasar juga belum bisa menembus mancanegara sehingga produksi yang dihasilkan masyarakat tidak berdampak pesat terhadap hasil penjualan produk berbahan dasar batang eceng gondok tersebut. Hal ini tentunya berdampak langsung pada keberadaan ekonomi dan sosial masyarakat.

Beberapa sumber kajian dan penelitian ekonomi terkait produksi dan pasar kerajinan eceng gondok menyatakan, hasilnya sama dengan produksi lain. Kemudian skala penjualan pada kelas menengah ke bawah menjadikan produk ini kurang diminati oleh pasar.

Beberapa pameran produk kreatif yang menjual berbagai hasil kerajinan sering diselenggarakan, tetapi tidak berdampak signifikan terhadap penjualan maupun permintaan pasar. Pemerintah, perusahaan besar dan masyarakat perlu mendukung dalam pengembangan potensi ekonomi lokal ini. Pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan terkait dukungannya pada proses penjualan. Perusahaan besar ikut mengembangkan ekonomi lokal dengan membantu permodalan. Sementara masyarakat bisa memberikan dukungan sosial dengan menggunakan produk lokal berbahan eceng gondok. Dukungan ini akan mendorong kebrlanjutan bisnis usaha kecil menengah kerajinan lokal.

Konsep lingkungan dalam mengelola satu kawasan perlu melibatkan semua pihak. Saat ini perlunya sumbangsih berbagai pakar dari segi keilmuan untuk mengkaji aspek yang dapat dilakukan guna menghambat pertumbuhan eceng gondok. Perlu sebuah upaya bersama melalui kebijakan pengelolaan kawasan lintas dinas atau lintas regulator dalam mengeluarkan sebuah tindakan dan keputusan bersama untuk mengurangi jumlah sebaran eceng gondok di kawasan danau. Kemudian mendorong pertumbuhan ekonomi lokal masyakat yang diupayakan melalui program pemerintah. Selain itu, adanya peran aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan merupakan satu faktor yang penting. Seperti tidak mendirikan keramba pada kawasan Danau Rawa Pening. Sebab, selama ini sisa pakan ikan menjadi stimulan aktif pada pertumbuhan eceng gondok.

Pengelolaan kawasan Danau Rawa Pening butuh satu strategi lokal yang terintegrasi di mana setiap elemen perlu mengeluarkan gagasan dan mendukung ketercapaian strategi nasional. Adapun keberlanjutan pengelolaan Rawa Pening ini adalah tindakan aplikatif dari kebijakan, kearifan lokal dan konsistensi dalam mewujudkan pengelolaan kawasan Rawa Pening yang lestari dan berkelanjutan. 

(sm/ap/ap/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia