Senin, 23 Jul 2018
radarsemarang
icon featured
Radar Semarang

Pengadaan Buku Perpustakaan Kurang Maksimal

Senin, 09 Jul 2018 19:05 | editor : Agus Purwahyudi

HENING : Suasana Perpustakaan Daerah (Perpusda) Jawa Tengah di Jalan Sriwijaya, Jumat (6/7) pagi.

HENING : Suasana Perpustakaan Daerah (Perpusda) Jawa Tengah di Jalan Sriwijaya, Jumat (6/7) pagi. (SULISTIONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG—Di tengah suasana hening ruang baca Perpustakaan Daerah (Perpusda) Provinsi Jawa Tengah, Raditya, 20, mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di Kota Semarang, tampak bersungut-sungut. Ia tampak galau, ketika usahanya untuk mendapatkan buku sebagai bahan referensi penelitiannya, tidak ada di Perpusda yang berlokasi di Jalan Sriwijaya itu.

“Nggak ada mas, kata petugasnya tadi, belum punya buku yang saya maksud. Padahal, penting sekali tambahan bahan penelitian,” ungkap Raditya yang saat itu datang bersama dua temannya.

Kondisi serupa juga dialami Neny Ratnaningsih. Ia tengah mencari buku untuk bahan referensi tugas akhir kuliahnya. Neny terpaksa gigit jari, karena buku referensi yang hendak dipinjamnya, tidak dimiliki Perpusda. “Terpaksa cari yang (isinya) mirip, karena tidak ada di sini,” tutur mahasiswi asal Pati itu.

Tidak up to date–nya buku bacaan di Perpusda, ditanggapi oleh Plt Kepala Perpustakaan Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sri Lestari Handayani. Untuk mendapatkan buku terbaru yang diinginkan pengunjung perpustakaan, pihaknya baru bisa memenuhinya setahun kemudian, menunggu anggaran pengadaan tahun berikutnya.

“Ini yang menjadi kendala kami, karena harus melalui anggaran dan lelang. Kami tidak bisa membeli dengan cepat buku yang dicari pengunjung,” ungkap Sri Lestari.

Sri menambahkan, terbatasnya anggaran pengadaan pembelian buku baru, juga membuat pihaknya tidak bisa menyajikan buku-buku dengan maksimal. Pada 2018 ini, misalnya, Perpusda mendapat anggaran sebesar Rp 1,5 miliar. Jumlah sebesar itu tidak mencukupi untuk membeli buku-buku yang diharapkan.

“Kami dibatasi untuk setiap pembelian satu buku maksimal Rp 45 ribu. Padahal, kami tahu buku-buku bagus, harganya sudah di atas seratus ribu rupiah,” kata Sri Lestari. 

Pembatasan juga membuat pihak rekanan pengadaan buku kesulitan memperoleh buku yang diinginkan. Kondisi ini memaksa Perpusda melakukan pengadaan buku seadanya. “Ya, kalau ada istilah, sing penting ono, ya seperti itu kondisinya. Kuantitas yang penting terpenuhi dengan anggaran sebesar itu,” pungkas Sri Lestari. 

(sm/ap/ap/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia