Senin, 23 Jul 2018
radarsemarang
icon-featured
Radar Semarang

Orangtua Bingung Daftarkan Anaknya

PPDB Online Tingkat SMP

Senin, 09 Jul 2018 18:39 | editor : Agus Purwahyudi

Orangtua Bingung Daftarkan Anaknya

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Orang tua calon siswa di SMP N 44 Semarang tampak kebingungan untuk mendaftarkan anaknya, pada hari pertama Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Online tingkat SMP, Sabtu (7/7). Bahkan, banyak orang tua datang ke sekolah, untuk meminta bantuan input data.

Aman, 45, mengaku bahwa dirinya tidak mengetahui tentang sistem pendaftaran online. “Kulo dereng ngertos carane daftar online. Kulo kinten tasih kados daftar tahun-tahun wingi (Saya belum tahu caranya daftar online. Saya kira masih seperti mendaftar tahun-tahun kemarin, red),” ujarnya. Selain Aman, terdapat 20 pendaftar yang datang ke SMPN 44 Semarang sengaja meminta bantuan pihak sekolah mendaftarkan anaknya.

Adalah Nur Khasanah, 40, guru di SMPN 44 Semarang sejak pukul 8.00 pagi telah berada di sekolah. Meskipun hari libur, Nur Khasanah ditemani anaknya membantu orang tua calon siswa yang kebingungan. Ia menjelaskan, orang tua calon siswa yang mendaftar belum paham mengenai cara mendaftar melalui online. “Meskipun sudah ada informasi tahapan-tahapan untuk mendaftar, tapi nyuwun sewu orang-orang disini masih belum paham. Soalnya yang mendaftar kebanyakan masyarakat pedesaan, ” kata Nur Khasanah.

Ia juga mengungkapkan bahwa masyarakat masih ada yang beranggapan harus mendaftarkan anaknya pada hari pertama pendaftaran sehingga banyak yang mendatangi sekolah. “Sebenarnya mendaftar gak harus hari ini. Bisa nanti malam sampai hari Senin besok. Tapi namanya orang tua, pasti khawatir anaknya belum mendaftar,” ujar Nur Khasanah. 

Selain itu, kendala pendaftaran online di SMPN 44 Semarang adalah jaringan internet yang kurang mendukung. Akibatnya, Nur Khasanah kesulitan membantu memasukkan data calon peserta didik baru.

Demikian halnya dengan Yulianto, warga Mangunharjo yang sengaja datang ke SMP N 28 Semarang, ingin mencari informasi terkait PPDB. "Kalau dulu pakai sistem rayon, nah ini pakai zonasi. Jadi agak bingung, karena belum tahu zonasi dan akan nyabang dimana selain di SMP N 28 Semarang," katanya, Sabtu (7/7) siang.

Sementara di situs ppd.semarangkota.go.id, dari 44 sekolah di Semarang secara keseluruhan memiliki rombongan belajar (Rombel) sebanyak 350 kelas dengan daya tampung awal sekitar 11.200 siswa. Namun untuk daya tampung PPDB hanya 11.138 siswa, karena ada 62 siswa yang tinggal kelas. Untuk verifikasi data pendaftar dilakukan Selasa (9/7) dan Rabu (10/7), sementara pengumuman dilakukan pada Kamis (11/7) mendatang.

Sedangkan panitia PPDB di sekolah swasta, yakni SMP Sultan Agung 01 Semarang juga dibuka. “Kami sudah membuka pendaftaran mulai Januari hingga pengumuman sekolah negeri,” terang Trubus Purnama, selaku PP Kurikulum.

Hingga Sabtu (7/7), jumlah pendaftar di sekolah tersebut sebanyak 125 anak. Sedangkan sekolah tersebut menerima 128 anak yang dibagi menjadi empat rombel (rombongan belajar). Sistem zonasi yang diterapkan pemerintah tidak berdampak bagi sekolah tersebut. “Karena sekolah swasta, kami tidak mengenal zona,” imbuhnya.

Demikian halnya dengan SMP Walisongo 01 yang barumembukapendaftaranmulaiJumat (11/5). Hinggasaatini, panitia PPDB barumengeluarkan 47 formulirpendaftaran.Sedangkankuota yang ditargetkanyayasansebanyak 120 dibagimenjadiempatrombel.

Sementara itu, terkait PPDB tingkat SMP, anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo memprediksi tidak akan ada kendala ataupun komplain dari orang tua siswa. Pasalnya di tingkat SMP, biaya sekolah ditanggung pemerintah dan tidak ada kuota untuk warga miskin. "Tidak ada masalah menurut saya, apalagi ribut-ribut SKTM," jelasnya.

Ia juga memastikan jika setiap sekolah tidak akan kekurangan kuota siswa. Meski ada pengurangan sebanyak 4 siswa pada masing-masing rombel setiap sekolah. "Tadinya satu rombongan belajar 36 siswa, tahun ini menjadi 32 siswa. Jadi kalau ada 10 rombel, ya ada penyusutan 40 siswa," tuturnya.

Meski ada pengurangan, lanjut Anang hal tersebut tidak akan berpengaruh dan bisa dimanfaatkan sekolah swasta untuk mendapatkan murid. Komisi D pun saat ini sedang mewacanakan penganggaran pendamping bantuan operasional sekolah (BOS) untuk sekolah swasta. "Intinya bagaimana pendidikan ini tidak memberatkan masyarakat," tambahnya.

Dirinya mengaku saat ini Komisi D sedang menyoroti beberapa sekolah SD yang kekurangan siswa, dengan mempertimbangkan penggabungan sekolah atau merger.  “Sekolah yang kekurangan siswa ini faktor geografis dan demografisnya, bisa jadi memang tidak ada anak usia sekolah karena program KB dari pemerintah berhasil,” ucapnya.

Untuk melakukan merger, lanjut politisi Partai Golkar ini, harus ada kajian yang mendalam dan komperhensif. Selain itu juga mempertimbangkan jarak rumah siswa dengan sekolah. Ia mencontohkan di Kecamatan Gunung pati, ada beberapa sekolah yang kouta siswanya tidak terpenuhi. “Melalui kajian ini bisa diketahui bagaimana kebutuhannya, disini Disdik harus lebih selektif dalam pemberian izin pendirian sekolah baru,” tutupnya. 

(sm/den/ida/ap/JPR)

Alur Cerita Berita

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia