Senin, 23 Jul 2018
radarsemarang
icon featured
Ekonomi

Relaksasi LTV Untungkan Generasi Milenial

Senin, 09 Jul 2018 14:20 | editor : Agus Purwahyudi

MENGGEMBIRAKAN : Rencana BI mengeluarkan kebijakan relaksasi LTV guna percepatan penjualan property akan mendongkrak penjualan di Jateng yang selama ini lesu.

MENGGEMBIRAKAN : Rencana BI mengeluarkan kebijakan relaksasi LTV guna percepatan penjualan property akan mendongkrak penjualan di Jateng yang selama ini lesu. (DOKUMEN JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG–Kebijakan relaksasi LTV (Loan to Value) dinilai menguntungkan para generasi milenial maupun perorangan yang berbisnis jual beli rumah. Hal tersebut diharapkan dapat menggairahkan pasar properti.

Kepala Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Jawa Tengah Bidang Promosi, Humas & Publikasi, Dibya K Hidayat mengatakan bahwa Bank Indonesia (BI) berencana mengeluarkan kebijakan relaksasi LTV guna percepatan penjualan di sektor properti.

“Kebijakan tersebut memperbolehkan pengembang maupun perbankan memberikan uang muka nol persen. Bila benar ditetapkan, maka ini merupakan kabar baik,” ujarnya, kemarin.

Bagi pengembang, adanya kebijakan tersebut tentu akan mendongkrak penjualan yang beberapa tahun belakangan cukup lesu. Begitu juga bagi calon pembeli, khususnya para generasi milenial ataupun mereka yang berbisnis jual beli rumah.

“Anak-anak muda ini biasanya memiliki cukup penghasilan, tapi belum memiliki cukup tabungan untuk DP rumah. Ditambah lagi dengan adanya biaya asuransi dan lain-lain, ini semakin menambah uang pertama yang dikeluarkan untuk beli rumah cukup besar. Kalau DP diturunkan, bisa sampai nol persen, maka akan semakin memudahkan, terlebih karena usia muda biasanya asuransi semakin murah,” bebernya.

Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Jawa Tengah, Prijanto menambahkan, untuk persentase dalam mendongkrak penjualan, pihaknya masih belum dapat memperkirakan. Karena relaksasi LTV merupakan salah satu bagian untuk percepatan, sedangkan aspek-aspek lain seperti bunga dan lain-lain juga perlu diperhitungkan.

“Di kota-kota besar seperti Jakarta memang akan sangat terasa, karena di sana cukup banyak perusahaan maupun perorangan yang berbisnis jual beli rumah. Sedangkan di Jateng rata-rata end user yang beli untuk ditempati, karena itu akan lebih mengena bagi para kaum muda,” ujarnya. 

(sm/dna/ida/ap/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia