Senin, 23 Jul 2018
radarsemarang
icon-featured
Hukum & Kriminal

Wakil Ketua DPR RI Disebut Terima Suap

Dugaan Korupsi Bupati Kebumen Nonaktif

Kamis, 05 Jul 2018 15:05 | editor : Agus Purwahyudi

REHAT: Penuntut Umum KPK, Fitroh Rohcahyanto usai salat dhuhur bersama saksi Mohammad Yahya Fuad (batik cokelat) di Musala Pengadilan Tipikor Semarang.

REHAT: Penuntut Umum KPK, Fitroh Rohcahyanto usai salat dhuhur bersama saksi Mohammad Yahya Fuad (batik cokelat) di Musala Pengadilan Tipikor Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG-Seseorang yang selama ini bertemu di Hotel Gumaya Semarang dalam kasus dugaan suap yang menjerat sejumlah pejabat penting di Kabupaten Kebumen akhirnya terkuak. Orang tersebut diduga adalah Wakil Ketua DPR RI periode 2009-2014, Taufik Kurniawan. Hal itu terungkap dalam sidang pemeriksaan saksi atas terdakwa mantan calon Bupati Kebumen Khayub Muhammad Lutfi di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (4/7).

Sejumlah saksi yang diperiksa kemarin adalah Bupati Kebumen nonaktif Mohammad Yahya Fuad, tim suksesnya Hojin Ansori, serta Budi Suryanto, Ebung, S Adi Sulistyono, dan Miftahudin Ulum. Selain terungkapnya dugaan pemberian sejumlah uang kepada wakil rakyat dapil VII Jateng tersebut, juga terungkap adanya jatah untuk Binlung (Bina Lingkungan), yang isinya adalah unsur pimpinan polres, kejari dan sekda di Kebumen.

“Antara Juni-Juli kondisi jalam di Kebumen banyak jalan rusak, ada tawaran anggaran jalan dari Pak Taufik Kurniawan,  ditawarkan dana Rp 100 miliar untuk bidang jalan, karena memang info itu yang kami cari-cari. Tapi Pak Taufik mengatakan ini tidak gratis, melainkan harus ada suap atau fee 5 persen dari anggaran yang turun, besarannya sekitar Rp 5 miliar,”kata saksi Mohammad Yahya Fuad, di hadapan majelis hakim yang dipimpin, Antonius Wididjantono.

Atas masalah itu, lanjut Yahya Fuad, pihaknya sempat menyesalkan ada tawaran kenapa mesti membayar. Kemudian dengan terpaksa pihaknya memanggil Hojin Ansori dan Ebung untuk menceritakan tawaran tersebut.

Dikatakan saksi pertama, Taufik meminta bagian sepertiganya, namun setelah dilakukan komunikasi Hojin meminta untuk diambil saja.  “Jadi akhirnya diambil 7 persen. Rinciannya, 5 persen untuk pusat,  dan 2 persen lagi untuk Binlung, itu disepakati Hojin. Dua hari kemudian ketemu Khayub (terdakwa, Red), saya sampaikan tawaran itu, bahwa uang fee harus diberikan sebelum anggaran turun, seingat saya anggaran turun sekitar Rp 90-an miliar lebih,”sebutnya.

Selanjutnya, kata Yahya, pihaknya meminta Sekda (Adi Pandoyo) untuk menghubungi Taufik Kurniawan di Hotel Gumaya Semarang. Namun sebelumnya sudah komunikasi dengan Taufik. Setelah fee diberikan, lanjut dia, saat itu Taufik mengatakan kalau uang sudah sampai. Ia juga menyampaikan Binlung memang ada bagian fee-nya, seperti kapolres dan kajari. Hal itu diberikan untuk menjaga supaya daerah tetap kondusif pemerintahannya.

“Saat itu, yang ambil orangnya Pak Taufik namanya Antok. Nama itu bener atau tidak, saya ndak paham.  Waktu itu disebutkan kamar dan nomornya saya oleh Pak Taufik,”ungkapnya saat dicecar jaksa. 

Kesaksian lain disampaikan Hojin Ansori. Terkait pembangunan proyek RSUD Prembun Kebumen, diakuinya, pemenangnya adalah Khayub dengan anggaran Rp 40 miliar. Namun terkait fee, dirinya mengelak. Ia mengaku tidak mengetahui, dengan alasan itu wilayah Barli Halim.

Disebutkannya, sesuai kesepakatan di kediaman Yahya Fuad sebelum dilantik, pembagian APBD oleh Barli Halim dan Zaini Miftah. Kemudian wilayah Pemprov Jateng oleh Arif dan Barli, sedangkan Dana Alokasi Khusus (DAK) wilayah dirinya. Hal itu terkait pengawalan untuk menarik fee proyek.

“Setor Binlung Rp 1,5 miliar, saya disuruh Pak Yahya. Untuk kapolres Rp 250 juta,”ujar Hojin Ansori.

Penuntut Umum (PU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Fitroh Rohcahyanto, di sela istirahat sidang mengaku memang ada bagian untuk kajari, namun nominalnya belum terungkap dalam kesaksian.  Sedangkan untuk kapolres sebesar Rp 250 juta sesuai pengakuan saksi Hojin. Hingga berita ini ditulis, pihak-pihak yang disebut di kesaksian belum bisa dihubungi Jawa Pos Radar Semarang. 

(sm/jks/aro/ap/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia