Senin, 23 Jul 2018
radarsemarang
icon featured
Radar Semarang

Uang Rp 8 Juta Asli Dibelikan Rp 30 Juta Palsu

Edarkan Uang Palsu, Dua Sopir Masuk Penjara

Jumat, 13 Apr 2018 19:02 | editor : M Rizal Kurniawan

GELAR PERKARA :   Kapolres Demak AKBP Maesa Soegriwo didampingi Kasatreskrim AKP Tri Agung menunjukkan barang bukti uang palsu (upal) dalam gelar perkara, kemarin.

GELAR PERKARA : Kapolres Demak AKBP Maesa Soegriwo didampingi Kasatreskrim AKP Tri Agung menunjukkan barang bukti uang palsu (upal) dalam gelar perkara, kemarin.

RADARSEMARANG.ID - Hutang yang melilit membuat Sutiyono alias Pak Haji, 49, warga Desa Mijen, Kecamatan Mijen, nekat hendak menyebarkan uang palsu (upal) di masyarakat. Sebelum uang itu didistribusikan untuk mengelabuhi, aparat kepolisian keburu menangkapnya bersama dengan barang bukti (BB) upal tersebut.

Kini, tersangka mendekam di jeruji besi Mapolres Demak ditemani tersangka lain, yaitu Adihin, 39, warga Jalan Kebon Mangga, Kelurahan Cipulir, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Dalam kasus ini, polisi mengamankan BB berupa 606 lembar uang rupiah pecahan Rp 50 ribu emisi tahun 2015 yang diduga palsu.

Kapolres Demak AKBP Maesa Soegriwo mengatakan, sebelum kedua tersangka dibekuk, masyarakat telah melaporkan bahwa mereka telah mencoba membeli barang disebuah warung pada siang hari. Mendapati laporan warga ini, petugas kemudian melakukan penyelidikan intensif dan berhasil melacak para pelaku.

“Setelah didapatkan titik terang, kita menangkap Sutiyono lalu dikembangkan lagi dan menangkap Adihin, tersangka lainnya. Keduanya sama sama bekerja sebagai sopir,” ujar Kapolres.

Kasatreskrim AKP Tri Agung menambahkan, uang palsu yang diedarkan tersangka jika dipegang terasa kasar dengan cetakan tidak jelas. Selain itu, terdapat kesamaan pada nomer seri uang tersebut. Dengan ciri seperti itu, uang yang diedarkan tersangka terbukti palsu.

“Uang palsu kita jadikan barang bukti untuk pendalaman lagi,”ujarnya.

Kedua tersangka dikenai pasal 36 ayat 2, 3 juncto pasal 26 ayat 2, 3 UU RI Nomor 7 Tahun 2011 tentang mata uang dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. Saat dimintai keterangan, tersangka Sutoyono mengaku, ia mendapatkan uang palsu itu dari Adihin. Sedangkan, Adihin memperoleh pasokan uang palsu dari seseorang berinisial KW yang kini masih dalam pengejaran petugas. Adihin sendiri mendapat uang palsu dari KW dengan cara membeli Rp 30.300.000 palsu dengan uang asli sebesar Rp 8 juta. Selanjutnya, setelah Adihin mengirimkan ke Sutiyono, tersangka lalu memecahkan uang tersebut dengan cara membelanjakan barang. Ini supaya dapat pengembalian uang asli.

“Uang untuk melunasi hutang uang menumpuk,”ungkap Sutiyono. Dari adanya uang palsu ini, Sutiyono baru membelanjakannya disejumlah warung diwilayah Kecamatan Mijen. “Saya lakukan awal bulan April ini untuk melunasi hutang,”kata Sutiyono yang setiap hari bekerja sebagai sopir ini.

(sm/hib/zal/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia