Senin, 23 Jul 2018
radarsemarang
icon featured
Features
Menilik Tren Kedai Kopi di Kota Atlas

Tawarkan Ruang Gengsi, Lahirkan Pula Musisi

Jumat, 13 Apr 2018 12:00 | editor : M Rizal Kurniawan

RACIK RASA : Seorang Barista di Kafe Atoz saat melakukan aktivitas meracik kopi.

RACIK RASA : Seorang Barista di Kafe Atoz saat melakukan aktivitas meracik kopi. (istimewa)

Tren Kedai Kopi menjadi ruang ekspresi anak muda di tengah sibuknya Kota Lumpia. Tak hanya tempat nongkrong, tetapi juga menjadi ruang ekspresi, gaya hidup urban, ruang gengsi, hingga melahirkan sejumlah musisi. Seperti apa?

PERKEMBANGAN zaman membuat suasana perkotaan lebih berwarna. Tak hanya pusat bisnis berbasis perbelanjaan maupun perkantoran, tetapi juga terbentuk ruang-ruang santai macam kedai atau kafe.

Kurun waktu sepuluh tahun terakhir, berkembang pesat tren kedai kopi di Kota Semarang. Kedai-kedai unik didesain santai dan menyediakan berbagai fasilitas dengan sasaran pasar anak muda.

Tak hanya asyik untuk nongkrong. Tetapi kedai-kedai tersebut juga menjadi gaya hidup, ruang gengsi, bahkan sejumlah musisi lahir dari panggung kedai kopi. Desain dan konsep kedai kopi modern ini, terus mengalami evolusi dan inovasi.

Demi menciptakan kasta lebih tinggi, kedai kopi tak segan menyajikan berbagai varian kopi dari berbagai daerah nusantara dengan teknologi pengolahan modern. Mulai dari kopi Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua.  

Sebut saja Knk Koffee Resources dan Kafe Lost In Coffee di Jalan Dewi Sartika Raya Semarang. Selain menjadi tempat nongkrong kawula muda, tempat tersebut menjadi semacam laboratorium kopi untuk edukasi.

Tak kurang 25 jenis kopi yang berasal dari Sabang sampai Merauke dalam bentuk biji. Di tempat tersebut dilakukan proses pengolahan menggunakan peralatan mesin penggilingan khusus yang disebut proses roasting. Ini menjadi sebuah proses penting dalam dunia kopi dan belum banyak diketahui oleh penikmat kopi biasa.

Ada banyak hal menarik dalam proses ini, mulai dari level pemanggangan, pengaturan suhu panas, yang akan menghasilkan beraneka ragam varian rasa kopi. “Tren kedai kopi di Kota Semarang muncul kurang lebih sejak kisaran 2003 silam. Tren ini berkembang pesat dan banyak digemari oleh anak muda. Di era awal tumbuhnya kedai kopi, muncul Kafe Buket dan Brux The Bistro di Jalan Ngesrep Timur Tembalang,” kata pengamat dan ahli kopi, Bayu Zundapp, belum lama ini.

Kala itu, kedai Buket itu menyajikan suasana berkelas, dengan konsep kopi dan musik jazz. Konser musik jazz minimalis menjadi daya tarik pengunjung. Setelah itu ada Kafe Brux The Bistro di Jalan Rinjani yang menyerupai restoran kecil. Kedai ini lebih banyak dikunjungi oleh kalangan ekonomi menengah ke atas.

“Pada 2004, muncul Kafe Our's yang cukup fenomenal yakni di daerah Tanah Putih. Kafe ini mengusung konsep kopi dan musik jazz. Berbagai komunitas musik kerap berkumpul di kafe tersebut. Bahkan komunitas Jazz Ngisoringin, lahir dari panggung kafe ini,” katanya.

Kala itu, panggung musiknya berada di bawah pohon beringin. Atas hal itulah tercetus nama komunitas Jazz Ngisoringin. Komunitas ini cukup besar hingga mengorganisir konser akbar Jazz di Semarang, dengan tajuk ''Loenpia Jazz''. Tidak hanya itu, duo musisi Endah n Rhesa di awal kariernya tak terlepas dari aktivitas panggung kafe ini. Kedai kopi tidak hanya sekadar tempat ngopi belaka, tetapi juga ruang ekspresi.

“Di Sampangan ada Kedai T'buko. Konsepnya menyediakan kopi dan koleksi buku. Ini menjadi inovasi, kedai kopi tak hanya menjadi tempat nongkrong, tetapi juga menjadi tempat berkumpul sekaligus ruang-ruang kreativitas anak muda,” katanya.  

Tetapi dalam perkembangannya, Kafe Our's dan T'buko terpaksa tutup entah sebab apa. Bukan berarti tidak berkembang, sejumlah kedai kopi kian menjamur dengan berbagai konsep berbeda. “Termasuk munculnya distributor biji kopi dan kebutuhan kafe seperti KNK Koffee Resources, Jalan Dewi Sartika Raya,” katanya.

Kisaran 2009, muncul Kafe Peacock di Jalan S Parman. Kedai Peacock ini memiliki konsep secara khusus coffee shop. Pramusaji hadir dengan busana dan gaya khusus, yang dikenal sebagai Barista. Kedai Peacock Semarang didirikan setelah kehadirannya di Jogjakarta. “Di kafe ini, pengunjung hanya khusus menikmati kopi. Tidak ada menu lain kecuali makanan ringan sebagai pelengkap,” katanya.

Termasuk, perkembangan Kedai Blue Lotus di Jalan Ahmad Yaniyang didirikan oleh Hardjono Tjandra. Ia mengklaim sebagai kedai dengan pemrosesan kopi micro-roaster pertama di Kota Semarang. “Mulai 2010 hingga sekarang telah merebak bisnis berbasis kedai kopi. Mereka melengkapi alat teknologi untuk berkompetisi membuat kopi,” katanya.

Tidak hanya belajar pengetahuan tentang kopi, tetapi juga bisa belajar proses pembuatan hingga kombinasi rasa. “Termasuk masuknya tradisi masyarakat yakni kopi lelet juga mewarnai perkembangan kedai kopi di Semarang,” katanya.

Bahkan di Semarang ada seorang Barista, bernama Evani Jesslyn yang mengikuti kompetisi tingkat dunia The Barista Farmer Talent Show - Barista & Farmer. Sebuah acara bergengsi yang dihelat Specialty Coffee Association of Europe (SCAE), sebuah asosiasi kopi Eropa yang diakui dunia barista.

(sm/amu/zal/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia