Minggu, 22 Jul 2018
radarsemarang
icon featured
Radar Semarang

Tak Ada Rapor Merah Indikator Kesehatan

Selasa, 10 Apr 2018 14:38 | editor : Baskoro Septiadi

INDIKATOR MENINGKAT: Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah dr YuliantoPrabowo MKes memberikan paparan pada temu kader dalam rangka penanggulangan masalah kesehatan prioritas bagi kader PKK Kabupaten/Kota se-Jateng.

INDIKATOR MENINGKAT: Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah dr YuliantoPrabowo MKes memberikan paparan pada temu kader dalam rangka penanggulangan masalah kesehatan prioritas bagi kader PKK Kabupaten/Kota se-Jateng. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.ID - Sepanjang 2017, indikator kesehatan di Jawa Tengah meningkat. Bahkan, bisa dikatakan tidak ada rapor merah pada aspek kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, dr Yulianto Prabowo MKes, menyampaikan, ada 50 indikator kesehatan yang dikelompokkan menjadi dua kelompok besar. Yakni, angka kematian dan kesakitan. Sebab, sasaran pembangunan kesehatan adalah menurunkan angka kematian dan kesehatan.

Indikator pada angka kematian, di antaranya angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi, angka kematian balita, angka kematian akibat penyakit menular seperti demam berdarah dengue (DBD), maupun angka kematian akibat penyakit tidak menular.

(IWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Sementara, indikator angka kesakitan antara lain, angka kesakitan tuberculosis, demam berdarah dengue, HIV/AIDS, kusta, hipertensi, kanker, dan sebagainya. “Dari indikator tersebut, pada 2017 sudah tidak ada rapor merah. Artinya, status kesehatan masyarakat Jawa Tengah rata-rata sudah baik,” tegasnya.

Yulianto menunjuk contoh kematian ibu pada 2017 yang berkurang signifikan, dari 602 ibu meninggal (AKI : 111,16 per 100 ribu kelahiran hidup) pada 2016, menjadi 475 ibu yang meninggal (AKI : 88,58 per 100 ribu kelahiran hidup). Penurunan AKI itu sudah melampaui target Sustainable Development Goals (SDG's) yang menargetkan AKI pada angka 90 per 100 ribu kelahiran hidup.

“Keberhasilan itu tak lepas dari gerakan Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng atau 5NG yang dicanangkan pada 2016 lalu, yang pada pelaksanaannya dibantu oleh seluruh masyarakat, termasuk para kader PKK. Pada awalnya, memang nama gerakan itu dikritik banyak orang karena dinilai agak seronok. Orang Jawa cenderung menyebut hamil itu ngandut, bukan meteng. Tapi itu strategi komunikasi supaya bisa membumi,” bebernya.

Ditambahkan, tak hanya kematian ibu yang berkurang, angka kematian bayi (nol sampai satu tahun) pun menurun, dari 9,99 per 1.000 kelahiran hidup (5.485 kasus) pada 2016, menjadi 8,93 per 1.000 kelahiran hidup (4.791 kasus). Angka kematian balita (nol sampai lima tahun) juga menurun signifikan dari 11,80 per 1.000 kelahiran hidup (6.478 kasus) pada 2016, menjadi 10,47 per 1.000 kelahiran hidup (5.616 kasus). “Umur harapan hidup di Jawa Tengah pun terhitung baik, yakni, sebesar 74,02 tahun pada 2017. Jauh lebih tinggi dibandingkan 2013 lalu yang hanya 72,6 tahun,” ungkap Yulianto.

Kendati begitu, pihaknya terus melakukan upaya agar status kesehatan masyarakat terus meningkat, salah satunya perbaikan gizi masyarakat. Bagaimana pun pemenuhan gizi seimbang berdampak pada pertumbuhan fisik dan otak anak. Hal itu juga sejalan dengan program nasional, dalam pencegahan stunting.

Dalam melaksanakan program tersebut, inovasi juga terus dilakukan, khususnya dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya program pemerintah bagi mereka. Dia menunjuk contoh, pemberian tablet tambah darah yang di sejumlah tempat sudah dikemas lebih menarik. Seperti di Kabupaten Sukoharjo yang 50 persen remaja putrinya terdeteksi anemia, pemerintah kabupaten setempat membuat terobosan “pil pintar” untuk remaja putri yang merupakan calon ibu hamil.

Jadi, setiap Jumat siswi SMA diwajibkan minum pil pintar, agar sehat, bugar, dan berprestasi. Ada pula daerah lain yang mengemas menjadi pil cantik bagi ibu hamil, dengan harapan anak yang di kandungnya terlahir cantik atau ganteng, pintar, hebat, dan berprestasi.

“Siapa yang tidak mau anaknya pintar. Pembangunan kesehatan memang tidak ada hasilnya kalau yang hebat cuma teman-teman saya, para dokter, perawat, bidan, analis, atau tenaga kesehatan lainnya, sementara masyarakatnya tidak faham. Tapi kesehatan akan berhasil kalau setiap orang berperilaku sehat,” tegasnya.

Mengingat pentingnya peran aktif masyarakat dalam pembangunan kesehatan, Yulianto bersama jajarannya pun tak lelah untuk terus mensosialisasikan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), yang difokuskan pada gerakan ABCDEF. Yakni, aktivitas fisik, buah dan sayur dikonsumsi setiap hari, cek kesehatan secara berkala, diberikan ASI eksklusif, enyahkan rokok, serta fokus untuk pencegahan dan penanggulangan stunting.

“Lima kegiatan utama Germas Jawa Tengah 2018  dalam upaya pencegahan stunting, yaitu konsumsi tablet tambah darah, fortifikasi zat besi dalam makanan, pemberian ASI eksklusif, pencegahan kecacingan, serta mengonsumsi garam beryodium,” tandas Yulianto.  

(sm/ric/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia