Jumat, 20 Jul 2018
radarsemarang
icon featured
Features
Umrah Backpacker Kini Jadi Tren

Lebih Fleksibel, City Tour Anti-Mainstream

Senin, 09 Apr 2018 21:48 | editor : Ida Nor Layla

TAK ADA KENDALA : Jamaah umrah backpacker dan reguler melakukan foto bareng 13 November 2017 silam.

TAK ADA KENDALA : Jamaah umrah backpacker dan reguler melakukan foto bareng 13 November 2017 silam. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG-Umrah dengan cara backpacking kian diminati. Mulai muncul sejak tahun 2010-an, kini umrah dengan biaya relatif miring ini telah menarik minat banyak orang, utamanya mereka yang memiliki jiwa muda ataupun jiwa traveler.

Terdapat dua jenis umrah backpacker. Pertama, murni backpacker, dalam artian tidak menggunakan biro umrah. Untuk yang satu ini, sudah ada komunitasnya. Sementara itu, terdapat pula umrah backpacker dengan jasa biro umrah atau travel agent. Dalam hal ini, biro umrah bertugas membuatkan visa. Umrah backpacker dengan biro ini, oleh sebagian orang masih dianggap bukan sebagai backpacker-an dalam artian sebenarnya.

Mengenai harga, umrah backpacker memang relatif lebih murah. Yakni sekitar 17 juta-an rupiah. Harga yang lebih murah kerap membuat banyak kalangan mempertanyakan kesahihan umrah yang mulanya menyasar anak muda ini. Bukan tanpa alasan. Sebab, Kementrian Agama (Kemenag) pernah mengeluarkan pernyataan bahwa masyarakat perlu meragukan umrah berbiaya di bawah Rp 20 juta. Terlebih paska munculnya sejumlah kasus biro perjalanan umrah berbiaya murah dan ujung-ujungnya bermasalah. 

Ketua Amphuri Jateng-DIJ, Endro Dwi Cahyono.

Ketua Amphuri Jateng-DIJ, Endro Dwi Cahyono. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Najla Annisa, supervisor admin dan marketing Hasanah Tour &Travel Perwakilan Semarang menjelaskan, biaya umrah backpacker bisa lebih murah karena ada sejumlah pos biaya yang ditekan. Salah satunya, biaya makan dan hotel.

”Untuk umrah backpacker memang tidak mendapatkan makan. Justru ini yang membuat asyik, karena mereka bisa menjelajah makanan di sana. Tidak terikat waktu dan bisa makan dengan siapa saja,” jelas Najla kepada Jawa Pos Radar Semarang.

”Dari biro juga tidak memberikan koper. Tapi untuk batik, buku perjalanan, id card, itu kami kasih. Kami juga kasih bonus untuk yang laki-laki pakaian ihram dan yang perempuan mukena,” imbuhnya.

Meskipun kesan backpacker adalah kemana-mana mandiri, namun selama menjalankan ibadah umrah, jamaah tetap disediakan pemandu, ustadz pembimbing, muthowif serta tour leader. Dengan demikian, para jamaah umrah backpacker tidak perlu khawatir terkendala bahasa. 

Najla menceritakan, awalnya umrah backpacker memang ditujukan untuk memfasilitasi generasi muda. Harapannya, anak muda bisa menjalankan ibadah umrah dengan harga lebih murah. Semakin ke sini, umrah backpacker juga diminati oleh kalangan berumur. Namun tetap dengan jiwa muda. Bahkan, ada pula yang mengajak satu keluarga untuk ibadah backpacker-an ini.

”Selain murah, rute city tour-nya berbeda dengan umrah yang reguler. Tempat-tempat yang sebelumnya tidak masuk list daftar perjalanan, dengan umrah backpacker bisa dikunjungi,” jelasnya.

Di tour dan travel tempat ia bekerja, pemberangkatan umrah Rp 17 juta dimulai dari Kuala Lumpur, Malaysia. Biaya menuju Kuala Lumpur, ia katakan, menjadi tanggungan para jamaah. Tapi bukan traveler kalau tidak punya cara. Meskipun demikian, ada pula jamaah yang meminta diberangkatkan bersamaan. Agen, dalam hal ini, tetap mencarikan tiket untuk permintaan seperti ini.

Dijelaskan Najla, persiapan yang perlu dilakukan ketika hendak mengikuti umrah backpacker dengan biro di antaranya persiapan fisik. Sebab, terkadang hotel yang disediakan relatif sedikit jauh. Jamaah umrah backpacker, dikatakan olehnya,  mendapat hotel rata-rata bintang 3 yang diisi 4 orang setiap kamarnya dengan jarak antara 500-800 meter. 

Untuk persiapan lain, ia katakan, adalah persiapan financial. Sebab, untuk makan, para jamaah harus menaggung sendiri biayanya. Terlebih ketika hendak membeli oleh-oleh. ”Persiapkan juga ilmu agama tentang umrah. Serta yang terpenting persiapan hati dan jiwa,” ungkapnya.

Jelajahi Makanan Khas

Indah Prima Sari, 38, warga Semarang, salah satu jamaah umrah backpacker saat itu mendapat informasi dari teman yang memiliki agen tour and travel umrah dan haji plus. Seketika itu, ia langsung tertarik. Bukan hanya karena harganya yang murah, namun dengan beberapa hal yang menurutnya merupakan kelebihan.

Dengan backpacker, ia memiliki waktu yang fleksibel. Lebih-lebih ia memiliki banyak waktu untuk menjelajah tempat tujuan di sela waktu ibadah. Kelebihan ini, salah satunya ia manfaatkan untuk menjajal satu per satu kuliner khas Arab. ”Yang saya ingat sempat menjajal nasi lemak saat di Malaysia, kemudian saat di Arab nyobain kebab, ayam Al Baik khas sana,” jelas Indah.

Pengalaman seperti ini yang tidak akan ia dapatkan ketika ia mengikuti umrah reguler. Sebab, melalui umrah reguler jadwal makan dan menu hidangan sudah diatur. Bahkan jika telat, sudah pasti akan melewatkan waktu makan. ”Sedikit agak susah sih untuk yang nggak terbiasa dengan masakan sana. Karena agak asam rasanya. Susahnya, harga makanan khas Indonesia memang lebih mahal. Untuk tempatnya, mudah ditemukan,” bebernya.

Masalah makanan, sebenarnya bukan menjadi persoalan. Karena, tidak jarang juga ada bagi-bagi makanan di Masjidil Haram. Terlebih, untuk mendapatkan air minum di sana juga gratis. Selain itu, lanjutnya, bersama jamaah lain dirinya bisa memilih makanan dengan harga murah serta disajikan dalam porsi besar. Sehingga, satu porsi ala Arab dapat ia santap bersama dua atau tiga orang temannya. ”Jadi malah bisa lebih irit dan bisa fokus ibadah," ujarnya sembari tertawa.

Selain wisata kuliner, Indah dan jamaah lain juga mendapat kelebihan berupa tambahan city tour. Jika biasanya dengan agen umrah reguler sudah ditentukan, melalui umrah backpacker ia mengaku bisa berkunjung ke tempat-tempat anti mainstream. Tempat-tempat yang tidak dijangkau oleh umrah reguler.

”Biasanya seperti tempat belanja sudah ditentukan. Untuk umrah backpacker selain yang ditentukan biro itu, kita bisa ke tempat-tempat yang kita rasa menarik untuk dikunjungi, termasuk pasar pasar tradisional,” ujarnya menceritakan.

"Waktu itu, kami sempat mengunjungi Masjid Quba, Makam Baqi, makam para sahabat dan istri nabi, terus ke Jabal Uhud dan Jabal Tsur. Kami bisa kesana sendiri, tentu seizin muthowif. Waktu itu ditawarkan juga untuk diantar,” imbuhnya.  

Sama halnya seperti umrah regular, ia bersama jamaah lain menjalankan ibadah selama 11-12 hari. Hanya saja, sejumlah keperluan, ia harus mengurus sendiri. Seperti pembuatan paspor, biaya suntik meningitis dan pemeriksaan kesehatan. Sementara itu, untuk visa ditanggung oleh biro perjalanan. 

”Kalau perjalanannya, kemarin itu dari Ahmad Yani singgah ke Kuala Lumpur satu malam. Kemudian dari sana, perjalanan ke Jeddah. Kemudian menuju ke Makkah melakukan umrah pertama,” ujarnya menceritakan.

”Sekitar 5-6 hari di Makkah. Selama di Makkah, rombongan backpacker didampingi mutawif dan pembimbing sampai pulang,” imbuhnya.

Selama menjalani umrah, ia jelaskan, jamaah backpacker tidak menemui kendala berarti. Termasuk dalam hal bahasa. Jikalau kepepet, mereka akan menggunakan bahasa tubuh untuk berkomunikasi dengan orang lain. ”Tapi tidak begitu menjadi kendala, karena jamaah Indonesia adalah jamaah yang terbesar, sehingga buku-buku banyak yang menggunakan bahasa Indonesia. Ketika mendengarkan ceramah Jumat, kami juga bisa men-translate melalui radio,” ungkapnya. 

”Pokoknya MasyaAllah, luar biasa. Sudah bisa berangkat umrah walaupun dengan budget minimal. Insyaallah kalau fisiknya masih mampu mau berangkat lagi,” pungkasnya. 

Umrah Backpacker Rawan Diselewengkan

MARAKNYA program umrah murah yang ditawarkan biro umrah memang sangat menggiurkan. Baru-baru ini beberapa biro umrah di Jawa Tengah memiliki program unik, yakni umrah backpacker dengan harga yang sangat murah hanya pada kisaran Rp 17 jutaan. Sejatinya program ini menyasar kalangan muda yang ingin melakukan ibadah umrah dengan gaya anak muda pula, yakni menginap di hotel yang murah sampai mencari makan sendiri.

Ibadah umrah backpacker sedang trend saat ini. Sayangnya memiliki risiko tinggi dan rawan diselewengkan. Bahkan, patut diwaspadai kalau ada modus ikut rombongan umrah, namun sesampainya di Timur Tengah memisahkan diri dari rombongan, kemudian tinggal dan bekerja di Timur Tengah.

“Sangat rawan diselewengkan, jika pengawasannya lemah. Nanti yang kena malah biro umrah itu sendiri. Misalnya kalau jamaah itu menghilang atau tidak pulang ke Indonesia,” kata Ketua Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umroh Republik Indonesia (Amphuri) Jateng-DIJ, Endro Dwi Cahyono.

Ia menerangkan jika aturan dari Kementrian Agama (Kemenag), standar biaya umrah telah ditetapkan di angka Rp 20 jutaan. Hal tersebut untuk menjaga kualitas, pelayanan dan kepastian berangkat. “Jika ada yang di bawah itu, dikhawatirkan tidak diberangkatkan, walaupun penyelenggaranya biro umrah resmi,” jelasnya.

Menurut Endro, umrah backpacker yang banyak ditawarkan tersebut dinilai mengesampingkan keamanan jamaah umrah. Pasalnya dari segi makanan dan penginapan akan ditekan dengan harga yang murah. Padahal untuk mengeluarkan visa umrah, tidaklah sembarangan. Harus ada proses yang panjang dari Indonesia, maskapai penerbangan, dan Kerajaan Arab Saudi. “Kembali lagi individu nggak bisa mengajukan mandiri, namun kadang ada oknum biro umrah nakal yang bermain. Bisa jadi, dikatakan ilegal,” ungkapnya khawatir.

Wewenang mengeluarkan visa umrah dan memberangkatkan calon jamaah umrah oleh biro umrah dikeluarkan oleh penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU) yang terdaftar di Kemenag. “Lewat jalur ini aman, sistem informasinya juga ada di Kemenag,” paparnya.

Sipatuh atau sistem informasi pengawasan terpadu umrah dan haji khusus ini, akan memperketat pengawasan pelayanan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) atau biro travel kepada jamaah. “Dari sistem itu, calon jamaah akan tahu dan Kemenag bisa memantau semua program yang diluncurkan oleh PPIU. Nah temasuk umrah backpacker ini bisa dipantau berangkatnya berapa, naik pesawat apa, hotelnya dimana. Ini tujuannya untuk meminimalisasi penipuan,” paparnya.

Sejatinya biro umrah atau PPIU, lanjut Endro, harus mendampingi semua jamaah umrah yang berangkat. Mulai dari transportasi, penginapan hingga makanan. Dengan biaya murah itu sendiri, dirinya meminta masyarakat untuk waspada dan pemerintah bisa meningkatkan pengawasan terhadap biro umrah yang menyediakan program murah, di bawah ketentuan standar minimal biaya yang telah dikeluarkan dari Kemenag. “Kalau infonya cari makan sendiri, namanya kan ucul dewe-dewe, malah bahaya. Bisa jadi hanya modus untuk menjadi TKI ke Timur Tengah, kayak program backpacker ini,” tegasnya.

Disinggung apakah sudah ada anggota Amphuri yang memiliki program umrah backpacker, Endro menjawab jika sampai saat ini belum ada yang memiliki program tersebut. “Setahu saya nggak ada, risikonya besar kalau sampai ngga pulang dan malah menjadi buruh migran di Timur Tengah,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Haji dan Umrah Kanwil Kemenag Jateng, KH Solikhin, justru mengaku baru mendengar dan baru adanya umrah backpacker saat wartawan koran ini melakukan konfirmasi. Setahunya, umrah hanya melalui biro umrah atau travel agent. “Yang diberi wewenang menyelenggarakan ibadah umrah adalah pemerintah dan masyarakat. Namun selama ini, pemerintah atau Kemenag belum melaksanakan, hanya menyelenggarakan haji. Umrah memang diserahkan ke masyarakat dalam hal ini biro umrah,” tuturnya. 

(sm/cr4/den/mim/ida/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia