Senin, 23 Jul 2018
radarsemarang
icon featured
Features
Melongkok Kedai Kopi Tengah Kampung

Sulap Garasi Jadi Tempat Tongkrong Asyik

Senin, 09 Apr 2018 21:31 | editor : Ida Nor Layla

HENING : Kedai Kopi yang menawarkan suasana perkampungan yang hening jauh dari ingar bingar metropolitan, meski di tengah Kota Semarang.

HENING : Kedai Kopi yang menawarkan suasana perkampungan yang hening jauh dari ingar bingar metropolitan, meski di tengah Kota Semarang. (DOKUMEN TULUS KOPI)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG-Demam kopi tampaknya tidak pernah berakhir. Kedai kopi terus bermunculan dengan konsep yang beraneka ragam. Berbeda dari kedai kopi yang selalu berpusat di keramaian, kedai ini justru hadir di tengah perkampungan padat. Seperti apa?

Memang sedikit susah ditemukan, bagi mereka yang baru pertama kali datang. Sebab, kedai kopi ini berada di antara bangunan rumah yang cukup padat, tepatnya di bilangan Kradenan Baru 1, Kelurahan Bendan Dhuwur, Kota Semarang. Justru itu menjadi daya tarik kedai ini. Menawarkan suasana yang berbeda. 

Di tempat ini, tidak akan ditemukan sofa mewah. Beberapa kursi, hanya dibuat dari kayu palet yang dimodifikasi. Namun memperlihatkan kesan seninya. Meskipun terbilang tidak mewah, nyatanya tempat ini bisa dibilang nyaman. Terlebih dengan barista yang ramah. Reza, pemilik tempat ini memang ingin membuat pengunjung berasa di rumah sendiri. Atau dengan kata lain, seperti berkunjung ke rumah teman sendiri. 

Ya, tidak hanya memesan dan menikmati saja, di kedai ini pengunjung dapat berinteraksi hingga berdiskusi mengenai jenis, karakter dan juga teknik pembuatan kopi. Akan ada banyak obrolan, layaknya dengan teman dekat.

Reza memang seorang pecinta kopi. Ia berkeinginan memasyarakatkan kopi dengan cara yang bermasyarakat. Keinginan inilah yang pada akhirnya membawanya memutuskan untuk menyulap garasi rumahnya menjadi kedai nyaman untuk menikmati kopi bagi pecinta kopi dan belajar kopi untuk mereka yang ingin memulai mengenal kopi. 

”Di Semarang, kopi dengan konsep rumahan memang jarang. Baru ini sepertinya yang saya ketahui,” jelas Afrian sahabat Reza yang juga penggemar Tulus Kopi.

”Memang ini garasi awalnya. Soalnya kalau sedang tutup tempat ini juga dipakai untuk parkir mobil,” timpalnya.

Meskipun dengan konsep rumahan, kedai ini menjual beraneka macam biji kopi. Mulai dari dalam hingga luar negeri. Bahkan, yang mungkin hampir susah dipercaya, harga kopi di kedai ini terbilang murah dibanding kedai kopi lainnya. Padahal, metode dan alat yang digunakan tidak berbeda dengan tempat lain. 

”Di sini, under 15K sudah bisa menikmati kopi dengan manual brew. Saya rasa lebih murah daripada tempat lain. Meski demikian, kualitas kopi dan rasa tidak kalah dengan yang lain,” ujar pria yang akrab disapa Rian ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Rian menambahkan, tidak hanya menikmati dan diskusi mengenai kopi, di tempat ini pengunjung juga bisa belajar membuat kopi secara langsung. ”Kalau pas lagi nggak ramai, bisa sih pengunjung sekalian belajar membuat kopi,” ujar Rian. 

Konsep rumahan yang sederhana ini menarik perhatian Lia, salah satu pengunjung kedai. Ia mengaku merasa nyaman menikmati kopi di kedai yang berada di tengah kampung. ”Sepertinya di perumahan. Jadi suasananya hening, tapi sesekali ada suara aktivitas warga yang berpadu dengan musik-musik di sini. Jadinya lucu,” ujarnya sembari tersenyum. 

Kanan kiri dari kedai ini memang langsung berbatasan dengan rumah. Bahkan jalan menuju tempat ini tidak lebih dari dua meter. 

(sm/cr4/ida/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia