Senin, 23 Jul 2018
radarsemarang
icon featured
Untukmu Guruku
Dwi Astutik

Perjuangan Guru di Sekolah Pinggiran

Selasa, 06 Mar 2018 10:38 | editor : Ida Nor Layla

Guru PKn SMP Negeri 2 Wedung Demak, Dwi Astutik

Guru PKn SMP Negeri 2 Wedung Demak, Dwi Astutik (DOKUMEN PRIBADI)

MENJADI beban bagi seorang guru, apabila selama mengajar di sekolah tempat guru tersebut bertugas, tidak satu pun menunjukkan prestasi yang membanggakan.  Tidak bisa dipungkiri bahwa prestasi sekolah dilahirkan oleh guru  dan peserta didik yang hebat. Guru yang menjadi agen perubahan  seharusnya memiliki semangat yang tangguh dan hebat. Guru yang hebat tentu akan melakukan pendidikan atau pengajaran yang baik, dalam  arti menggunakan cara – cara baik, sesuai perkembangan zaman. Oleh karena itu, guru harus selalu belajar untuk membantu menyiapkan generasi  penerus bangsa  yang berprestasi dan berkualitas.

Akar permasalahanya   adalah bagaimana kita bisa menjadi guru yang hebat di sekolah pinggiran? Karena tidak bisa dipungkiri bahwa menjadi guru di sekolah pinggiran banyak sekali rintangan  dan tantangan yang harus dihadapi. Mulai dari sumber daya manusianya, guru, input peserta didik yang memiliki pengetahuan kurang, kurang motivasi dalam belajar, lingkungan keluarga dan sosial  yang tidak mendukung,  sarana prasarana yang terbatas, managemen sekolah yang kurang bagus, belum lagi masalah keuangan. Guru sebagai agen pembaharuan janganlah patah semangat, untuk memberikan yang terbaik bagi sekolah tempat kita mengajar dan mendidik. Guru yang bersemangat dan hebat setidaknya dapat mengupayakan hal yang terbaik.

Hal pertama adalah totalitas dalam mengajar. Banyak guru yang pelit perhatian terhadap peserta didik. Beberapa guru, apalagi kalau guru honorer yang memang gajinya sedikit. Perhatian terhadap pesertaa didiknya sengaja tidak dioptimalkan, misalnya memberi soal atau mencatat, kemudian ditinggal keruang guru untuk ngopi dan merokok bersama guru lainya, masuk kelas dilambat-lambatkan. Kalau kebiasaan itu terus berlanjut, peserta didik akan jenuh dan mulai malas untuk belajar. Akhirnya mereka keluar kelas untuk bermain atau ke kantin. Guru hebat tidak seperti itu, seharusnya mereka ikhlas menyediakan waktunya untuk membantu peserta didik. Tanpa atau ada pengawasan dari pimpinan, tentunya kita harus berupaya untuk melaksanakan tugas dengan baik. Tentunya pemberian contoh yang baik dan ketegasan dari pimpinan juga sangat penting.

Kedua, guru memiliki kelembutan dan kasih sayang  dalam ketegasan. Kadang kala kita mendapati peserta didik yang sulit untuk mematuhi   tatatertib sekolah, misalnya tidak berpakaian rapi, dan tidak lengkap, menggedor pintu kelas saat melewati kelas lain ataupun izin ke wc kemudian tidak kembali lagi. Apalagi di kelas yang gurunya cuek, walaupun peserta didiknya ramai dan gaduh ,dibiarkan saja.

Kalau ini dibiarkan berlarut –larut tentu akan mengganggu kelas yang lain. Belajarlah untuk bersikap tegas dan lembut.. Jika sering tidak tegas soal peraturan, maka siswa akan merasa menang dan menguasai kelas. Guru juga jangan cuma bisa tegas dan sering marah sedangkan memberi pujian dan penghargaan saja sulit. Jadikan tegas dan bersahabat sebagai motto kita sebagai guru.

Ketiga, seorang guru hendaknya memahamkan materi terhadap peserta didiknya. Guru yang baik akan berupaya menjelaskan materi sejelas-jelasnya kepada peserta didiknya. Oleh karena itu diperlukan kreatifitas guru untuk menciptakan gaya, metode dan  teknik pembelajaran yang membuat peserta didik semangat dan antusius sekaligus menyenangkan baginya. Sehingga perserta didik akan mudah menerima dan cepat paham terhadap materi yang kita sajikan. Sebaliknya jangan menyuguhkan pembelajaran dengan cara mencatat dari waktu ke waktu, yang menyebabkan peserta didik jadi bosan.

Keempat, guru harus bisa menjadi contoh bagi peserta didiknya.Kita menghukum peserta didik yang merokok, tetapi gurunya sendiri dengan santainyaa merokok dihadapaan peserta didiknya ataau bahkan menyuruh peserta didiknya untuk membelikan rokok. Kita mengingatkan peserta didik untuk rapi tetapi mungkin gurunya tidak rapi. Peserta didik akan cenderung meniru apa yang kita lakukan dibanding dengan apa yang kita katakan. Kelima, guru mampu mengevaluasi kemampuan peserta didiknya. Salah satu keberhasilan mengajar guru apabila peserta didiknya berprestasi dengan nilai yang memuaskan. Oleh karena itu guru haruslah memberikan evaluasi yang benar-benar akurat, artinya nilai kejujuran dan sportivitas peserta didik tidak diragukan. Guru tidak asal memberikan tugas dan ulangan tetapi tidak pernah dikoreksi. Atau sebaliknya peserta didik tidak mempersiapkan dalam menghadapi tugas dan ulangan. Karena banyak buku paket atau catatan yang ditinggal dilaci belajar mereka. Oleh karena itu, kadang harus mengecek buku paket mapel yang di tinggal di laci meja kelas mereka. Keenam, guru dapat memberikan pelayanan yang prima. Memang untuk menjadi guru yang mempunyai semangat  dan hebat di sekolah pinggiran seperti itu tidaklah semudah membalik tangan. Tetapi setidaknya kita memiliki usaha untuk menghasilkan peserta didik yang berkualaitas. Guru hebat, tidak menyerah dan terus berpikir bagaimana caranya agar mampu mengatasi permasalahan yang ada. Jangan segan untuk mengunjungi rumah peserta  didik atau bersilaturahim dengan orangtuanya, mencari tahu inti permasalahan siswa dan meminta dukungan orangtuanya. Jadi kita selalu siap untuk melayani peserta didik di sekolah maupun luar sekolah.

Namun jangan melupakan bahwa keberhasilan mengajar dan mendidik peserta didik tidaklah saja tergantung seberapa pintarnya kita, akan tetapi seberapa percaya Allah akan usaha yang kita lakukan lebih maksimal. Yakinlah hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha. Guru PKn SMP Negeri 2 Wedung Demak. as3.

(sm/aro/ida/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia