Minggu, 22 Jul 2018
radarsemarang
icon featured
Features
Jejak Kampung Bustaman

Tradisi Nikahi Tetangga, Olah MCK Jadi Biogas

Selasa, 06 Mar 2018 09:01 | editor : Ida Nor Layla

Gule kambing kini menjadi kuliner khas Kampung Bustaman.

GULE BUSTAMAN : Gule kambing kini menjadi kuliner khas Kampung Bustaman. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG-Seorang ulama Kiai Bustam yang 'membangun' Kampung Bustaman, masih punya hubungan darah dengan pelukis ternama asal Kota Semarang, Raden Saleh Syarief Bustaman. Berdasarkan catatan sejarah menyebutkan bahwa pelukis fenomenal Indonesia Raden Saleh lahir di Kampung Bustaman, Semarang, merupakan putra dari Husein bin Alwi bin Awal bin Yahya, sedangkan ibunya berdarah ningrat Jawa-Arab dari kakeknya, Abdullah Muhammad Bustaman atau dikenal Kiai Ngabei Kerta Basa atau Kiai Bustaman.

Dalam perkembangannya, Kampung Bustaman justru tidak moncer karena sisi regili atau seni, tapi kulinernya. Kampung Bustaman, Kelurahan Purwondinatan, Kecamatan Semarang Tengah bisa dibilang permukiman yang cukup terkenal. Meski belum banyak yang tahu persis lokasinya, setidaknya mereka tahu kuliner khas dari kampung tersebut, yakni gule Bustaman.

Bagi yang penasaran ingin bertandang ke Kampung Bustaman, bisa datang ke Jalan MT Haryono. Kampungnya berada di kiri jalan, setelah belokan Jalan Petudungan. Harus melaju pelan karena agak sulit menemukan. Pasalnya, gangnya sangat sempit. Bahkan tidak bisa dilewati kendaraan roda empat.

Ketua RW 3, Kelurahan Purwondinatan, Kecamatan Semarang Tengah, Wahyuno

Ketua RW 3, Kelurahan Purwondinatan, Kecamatan Semarang Tengah, Wahyuno (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Jika kesulitan menemukan gang Kampung Bustaman dari Jalan MT Haryono, bisa lewat jalur lain. Yakni lewat Jalan Pekojan. Ketika sampai di jembatan batas antara Pekojan dan Pecinan, ada belokan ke kiri, persis di sebelah sungai. Telusuri saja jalan itu, ketika ada pertigaan, ambil jalan kiri. Nah, gang Kampung Bustaman berada di paling pojok sebelum Jalan MT Haryono.

Bagi kebanyakan orang, Kampung Bustaman bisa jadi memunculkan kesan permukiman kumuh. Jalan dari paving, nyaris tak pernah bersih. Begitu juga selokannya. Di dalam kampung pun sarat dengan aroma kambing karena di sana memang jadi pusat jagal kambing untuk diolah menjadi gule atau tongseng.

Rumah warga yang rata-rata 'mungil' berjejer berhimpitan. Setiap rumah pun kebanyakan tidak punya pelataran karena ukurannya yang sempit. Ada juga beberapa lengkong kecil yang lebarnya persis satu kendaraan roda dua.

Saking sempitnya, kampung tersebut seolah padat penduduk. Pemandangan anak-anak berlarian sliwar-sliwer, sudah hal lumrah. Dan menariknya, tidak sedikit tetangga rumah yang menjadi saudara karena hubungan pernikahan. Kalau orang Semarang bilang, peknggo (ngepek tonggo) atau menikahi tetangga sendiri.

Meski begitu, ada sisi yang menarik di kampung tersebut selain gulenya. Salah satunya biogas yang berasal dari WC umum yang terletak di belakang masjid. Warga setempat sengaja buang air besar di WC umum tersebut demi meningkatkan produksi biogas. Biogas itu disalurkan ke rumah-rumah untuk menyalakan kompor. Karena itu, jangan heran jika gas melon atau elpiji di sana tidak begitu laris.

Tokoh kampung, Hari Bustaman menjelaskan, warga setempat coba mengembangkan Kampung Bustaman lebih moncer. Setidaknya untuk mendongkrak agar wilayah tersebut tidak hanya dikenal sebagai kampung kumuh padat penduduk di tengah pusat kota.

Salah satunya dengan mengembangkan tradisi Kiai Bustam. Dengan memanfaatkan nama besar Raden Saleh Syarif Bustaman, mengorbitkan nama Kampung Bustaman bisa lebih mudah.

Beberapa tahun lalu, lahir gagasan dari Hari Bustaman untuk memunculkan kembali kebiasaan Kiai Bustam memandikan cucunya di sumur sebelah musala. Tradisi pendiri kampung itu pun digali dan dikemas menjadi eventt.

"Judul Gebyuran Bustaman. Digunakan untuk mempermudah ingatan masyarakat tentang tradisi yang selanjutnya menjadi acara tahunan setiap Bulan Ramadan. Tepatnya digelar Hari Minggu menjelang Idul Fitri," terangnya.

Seluruh warga menyiapkan air dari sumur berumur ratusan tahun peninggalan Kiai Bustam untuk gebyuran. Awalnya, alat untuk gebyur dari gayung, ciduk, semprotan dari pompa air, bahkan langsung dari ember. Dalam perjalanannya alat-alat digantikan dengan plastik pembungkus untuk wadah air. Untuk menambah semarak, air itu diberi warna-warni agar punya variasi.

Seluruh warga kampung terlibat dalam acara gebyuran. Begitu selesai salat Ashar, dimulai dengan ritual sesepuh kampung memandikan salah seorang balita, setalah selesai, maka seluruh warga saling melempar air berwarna dalam kemasan plastik.

Ribuan kantong plastik yang sudah disiapkan warga sebwlumnya digunakan dalam acara saling lempar. Bahkan, air dari ember dan bak musholla juga dikuras digunakan untuk perang air. Tidak pandang status dan usia. Semua yg berada dalam area kampung tidak boleh marah kalau dilempar air. Tidak hanya warga. Masyarakat penonton dan para jurnalis yang meliput acara juga terlibat saling lempar air.

"Setelah gebyuran, warga kembali dikumpulkan untuk menyantap nasi gudangan bersama. Dalam filosofi yang digali, gebyuran merupakan bersih diri memasuki bulan puasa. Sedang makan nasi gudangan adalah rasa syukur dengan hasil yang dinikmati bersama," paparnya.

Setelah warga Semarang mulai tertarik dengan prosesi Gebyuran Bustaman, muncul muncul event Tengok Bustaman dari gagasan kelompok Hysteria, 2015 silam. Kegiatan seni yang diadakan di kampung ini berkonten grafiti, mural, kolase, kriya, pentas seni dan sejenisnya.

"Dari pemicu ini timbul improvisasi warga, kembali menggali tradisi dengan acara Karnival Koplo. Semua warga diharuskan mencoreng wajah menyambut tamu kampung," terangnya.

Kemudian acara Kuliner Petengan. Aktivitas bursa kuliner tradisi disuguhkan dalam suasana alamai tempo dulu. Semua aliran listrik dipadamkan. Penerangnya menggunakan lampu sentir yg menebar di aeluruh sudut kampung. "Suasananya klasik mengingatkan kampung tempo dulu," imbuhnya.

Ketika ditanya mengenai hubungan Kiai Bustam yang berlatar belakang religi, Raden Saleh yang menyandang predikat pelukis, dan tidak ada hubungannya dengan sebutan kampung jagal kambing atau kuliner khas gule Bustaman, Hari Bustaman mulai menceritakan runtutannya.

"Gule Bustaman dengan Kiai Bustam tidak ada hubungannya. Kiai Bustam adalah trah yang ada kaitannya dengan Raden Saleh Syarief Bustaman. Sedang gule Bustaman adalah olahan daging kambing warisan juragan kambing, jauh eranya setelah Kiai Bustam," paparnya.

Dijelaskan, sejak zaman merdeka, setelah ekonomi bangkit dari penjajahan Jepang, Bustaman dikenal sebagai tempat jagal kambing. Karena usaha yang menjanjikan, muncul juragan-juragan yang bergerak mengembangkan daging kambing menjadi usaha. Karena sudah dikenal menjadi tujuan konsumen daging kambing, tidak heran Bustaman menjadi sentra produksi daging kambing di Kota Semarang pada zamannya.

Adalah Hajah Klenteng, istri Haji Ikrom, salah satu dari sekian juragan kambing yang punya gagasan mengolah gule. Sebenarnya, menu gule sudah ada dan menjadi hidangan orang-orang kampung. Oleh Hajan Klenteng, olahan gule coba dipasarkan. Ide itu hasil pengembangan ketika daging kambing dagangannya kadang sisa, tidak habis terjual.

Gerai gule semula ditempatkan di teras rumah pinggur jalan Petudungan, wilayah Pecinan yang letaknya bersebelahan dengan lorong kampung. Gule kambing olahan itu ternyata digemari pembeli. Usaha itu berkembang. Karena laris banyak permintaan, beberapa juragan tergerak ikut berusaha mengolah gule.

Gule tidak hanya dipasarkan di beberapa tempat, untuk menjemput bola penggemarnya di radius yg lebih jauh, maka dibentuklah armada pemasaran keliling. Usaha keliling itu ternyata berhasil, maka didatangkanlah para urban dari Kudus. Dengan angkring khas-nya, berkembanglah gule "ideran" blusukan ke segala penjuru kota.

Sampai tiga generasi, para penjual gule asal Kudus ini melanjutkan usaha pendahulunya. Modifikasi angkring pun berinovaai. Yang semula dipikul, sekarang menjadi gerobag dorong. Tapi ciri angkringnya tetap dipertahankan nangkring di atas gerobag.

Karena perkembangan penduduk makin padat, penggemar gule semakin banyak. Timbul hasrat warga Bustaman mulai tersentuh ikut berusaha menjual gule kambing yang sebenarnya warisan miliknya. "Nebeng popularitas, orang luar yg ikut menjual gule menggunakan Bustaman sebagai ikon komoditas usahanya," bebernya.

Ada yang unik dari usaha ini. Di salah satu warung gule yg terkenal di Semarang, dari pemasok daging, pengolah, penyaji hampir 'wong' Bustaman. Namun ketika salah seorang pemasak gule mendirikan usaha dengan menu yang sama, tidak sesukses juragannya yang sebenarnya masakannya juga.

"Popularitas gule Bustaman tidak hanya menjadi ikon kampung, namun sudah meluas menjadi salah satu menu andalan destinasi wisata kuliner Semarang. Gule kambing, identik dengan gule Bustaman," tandasnya.

Mengenai keturunan asli Kiai Bustam, justru sudah tidak tinggal di Kampung Bustaman. Semuanya sudah menyebar. Kabarnya, selain berpencar di beberapa derah di Pulau Jawa, masih ada di bilangan Kota Semarang.

Sementara itu, meski tidak ada bukti otentik, Ketua RW 3, Wahyuno, mengungkapkan masih ada sejumlah situs peninggalan Kiai Bustaman hingga saat ini masih bisa dilihat di Kampung Bustaman. Di antaranya adalah sebuah langgar atau Musala Bustaman, saat ini diberi nama Musala Al Barokah. “Dulunya, terbuat dari kayu dan sebagian tembok. Namun sekarang telah dibangun menggunakan material modern,” kata warga setempat yang juga Ketua RW 3, Wahyuno, ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (3/3) kemarin.

Selain itu, tepatnya di samping musala, terdapat sebuah sumur tua. Sumur tua tersebut oleh warga setempat dipercaya sebagai jejak peninggalan Kiai Bustaman sang perintis kampung. “Sumur dengan kedalaman kurang lebih 8 meter itu untuk mengisi kulah (tempat menampung air wudhu) menggunakan timbo. Dulu juga terdapat keranda untuk mengusung jenazah,” katanya.

Selain itu, terdapat dua rumah tua. Namun pernah habis dilalap si jago merah pada 1961 silam. Salah satu bangunan yang masih utuh dari jilatan api adalah musala dan sumur. “Hingga sekarang, sumur tersebut masih aktif digunakan warga. Bahkan tidak pernah kering. Kurang lebih sejak tiga tahun silam, warga dipelopori oleh Pak Hari bersama Komunitas Hysteria Semarang, Adin dan kawan-kawan, menghidupkan tradisi lama, yakni tradisi gebyuran tahunan setiap menjelang puasa Ramadan. Selain itu, ada tradisi Tengok Bustaman,” kata Wahyuno.

Tradisi gebyuran, lanjutnya, warga sekampung berkumpul saling menggebyur menggunakan air sumur tersebut. “Tidak hanya warga setempat, siapa saja yang datang di kampung tersebut dilempar air. Biasanya setelah salat Asar, kurang lebih dua jam sebelum maghrib menjelang puasa Ramadan. Tak peduli lurah, camat, atau siapa saja yang datang, digebyur menggunakan air sumur. Itu telah menjadi tradisi,” katanya.

Asal muasal tradisi tersebut, kata Wahyuno, berdasarkan cerita turun temurun, merupakan kebiasaan Kiai Bustaman menggebyur cucu-cucunya menjelang puasa. “Istilahnya orang Jawa ‘gebyur’ itu ngresiki (bersuci), badan dan hati harus bersih menjelang bulan puasa,” katanya.

Bahkan aktivis dari mancanegara kerap menyaksikan tradisi gebyuran Bustaman. Di antaranya India, Korea, Jepang, Jerman dan lain-lain. “Kampung Bustaman dikenal hingga mancanegara tak terlepas dari peran pendampingan yang dilakukan Komunitas Hysteria Semarang,” katanya.

Ingin Terkenal Seperti Warteg dan Masakan Padang

Penjual gule kambing Bustaman, Semarang, Rodliyah, mengaku dirinya merupakan generasi kelima dari keluarganya. Wanita enam anak tersebut mengungkapkan dari cerita leluhurnya, kali pertama kakeknya adalah jagal hewan di Kampung Bustaman, tepatnya sekitar tahun 1956.

Namun sesekali keluarganya di masa itu bersedia membuatkan gule, apabila ada pesanan saja dari warga. Kemudian perlahan-lahan diwariskan kepadanya sekitar 1965, usahanya berangsur meningkat dan semakin fokus membuat pesanan gule kambing. Hingga sekarang, usahanya sudah diteruskan tiga anaknya, berbisnis gule kambing.

Di kampung Bustaman, ia tergolong saksi sejarah eksistensi Kampung Bustaman. Sebab mayoritas wanita seusianya yang kelahiran 1951, kebanyakan sudah meninggal dunia.

Terkait sejarah kuliner gule kambing, diketahuinya, Kampung Bustaman semula adalah tempat jagal hewan kambing. Kemudian berkembang menjadi Rumah Pemotongan Hewan (RPH). Di masa itu, kebanyakan warga Bustaman menjual daging kambing. Sehingag mengundang banyak pelancong dari luar kota atau istilahnya boroh. Mereka dari Kudus, Jepara, Purwodadi, dan Solo.

Kala itu, lanjut Rodliyah, warga Bustaman tidak bersedia menjual gule. Justru para boroh tersebut yang membeli daging di wilayahnya dan memasaknya menjadi gule untuk dijual. Namun setelah tahu prospeknya bagus, berangsur-angsur bergeser, warga Bustaman asli mulai bersedia membuat gule untuk dijual.

Seingatnya, cikal bakalnya berawal dari zaman Lurah Taman Winangun (sekarang Purwodinatan, red), H Marzuki. Kemudian berkembang dan diikuti oleh dua orang jagal di masa itu yakni, Ibrahim dan H Ihrom.

Namun semakin menggeliat dan dikenal publik, setelah dieksplore oleh Komunitas Hysteria Semarang, tepatnya sekitar delapan tahun lalu. Kini, tuturnya, masyarakat luas semakin banyak mengenal Kampung Bustaman. Akhirnya semakin banyak warga Bustaman yang membuka usaha gule kambing. Bahkan banyak warga di luar Kampung Bustaman yang membuka warung gule menggunakan nama Bustaman, karena bahan bakunya memang diperoleh di kampung tersebut. “Sekarang sudah mulai banyak warga Bustaman yang membuat gule kambing,” kata Rodliyah saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di Kampung Bustaman, Jumat (2/3/2018).

Generasi keenam penerus Rodliyah, Yulia Ulfa, menambahkan, setelah dieksplore oleh Komunitas Hysteria Semarang, sekarang rutin digelar festival kuliner tahunan yakni, Kuliner Petengan dan Tengok Bustaman.

Wanita dua anak kelahiran 1970 ini mengaku turut membuka usaha gule kambing di daerah Damaran Semarang. Menu yang disuguhkan ada juga tongseng, ungkep kuah dan kentel, sate, bistik dan tengkleng. Warungnya juga menerima aqiqoh maupun katheringan. “Dalam sehari, saya jual paling sekitar 3-4 kilogram ditambah kepala kambing. Berbeda dengan tukang jagal sehari bisa 50 ekor kambing, tapi semua tergantung pemesanan,” imbuhnya.

Dikatakannya, dikampung tersebut, sudah ada yang jualan gule kambing mulai pukul 05.30 pagi hingga 23.00 malam, dengan konsep jualan secara rollingan. Namun demikian, hingga saat ini, warga Bustaman yang berjualan gule kambing hanya ada 20 orang. Sedangkan penjual daging mentah, hanya ada 5 orang. “Boroh itu bukan orang sini, cuma mencari nafkah disini. Jualannya menggunakan nama Bustaman, karena bahan bakunya dari Bustaman,” sebutnya.

Baginya, jualan Gule Bustaman sangat prospektif. Apalagi kampungnya pernah didatangi tamu dari luar negeri, termasuk dari Jepang. Ia menyebutkan, di kampung tersebut dalam 1 hari perputaran uang bisa mencapai Rp 5 juta.

Yulia juga sangat membuka diri, apabila ada investor ingin mengajak franchise atas usahanya tersebut. Ia sudah memiliki angan-angan usaha gule Bustaman tersebut dibuat seperti Warteg dan masakan Padang. Hanya saja, semua itu terkendala permodalan. 

Ia juga mengaku, sekalipun sama-sama menjual gule Bustaman, masing-masing memiliki resep berbeda. Lain tangan, maka lain pula rasanya. Hanya saja, namanya tetap sama. “Biasanya ada tambahan bumbu rahasia, disini (Kampung Bustaman, red) yang datang beli resep juga ada, tapi kembanyakan dari luar Jawa,” ungkapnya.

Untuk membuat gule kambing, diakuinya hanya butuh hitungan jam, namun semua tetap tergantung daging yang akan dimasak. Di Kampung Bustaman, setiap harinya seperti pasar, karena ada warung prasmanan dengan harga Rp 10 ribu sudah bisa makan dan minum. 

“Warga mengistilahkan, tidak usah masak, tetap bisa makan. Karena sudah ada yang jualan dengan harga murah. Sekarang kuliner sudah banyak, tapi disini gulenya memiliki ciri khas tidak pakai santan, melainkan memakai kuah khusus,” sebutnya.

(sm/mim/amu/amh/jks/ida/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia