Minggu, 22 Jul 2018
radarsemarang
icon featured
Features
Menelusuri Praktik Pasang Behel di Tukang Gigi

Pasang Behel Cukup Lima Menit, Tarif Rp 500 Ribu

Senin, 29 Jan 2018 12:09 | editor : Ida Nor Layla

Salah satu tempat praktik tukang gigi  yang juga melayani pemasangan behel.

TERANG-TERANGAN: Salah satu tempat praktik tukang gigi yang juga melayani pemasangan behel. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID-Tukang gigi maupun salon yang membuka layanan pemasangan behel atau kawat gigi semakin marak. Meski UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran melarang praktik ini dengan ancaman sanksi yang cukup berat, namun hal itu tak membuat pelaku bisnis ini jera. Kenapa?

Tulisan “Pasang Gigi & Behel” terpampang jelas di kaca  depan tempat praktik Fahmi Dental di bilangan Jalan Letjen Suprapto, Sidomulyo, Ungaran Timur. Tempat ini melayani jasa pemasangan gigi palsu, pemasangan behel, dan penggantian karet behel pada gigi.

 

Fahmi, 20, pemilik usaha ini mengungkapkan, jika praktik pemasangan gigi dan behel tersebut baru dibuka pada Oktober 2017 lalu. Pembukaan tempat praktik tersebut juga atas bantuan saudaranya, Dias, yang juga membuka praktik serupa di Kota Semarang. “Di sini saya hanya menjalankan usaha dari om saya yang juga buka di Kota Semarang,” ujar Fahmi kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (28/1).

Dikatakannya, sejak dibuka pada Oktober 2017 lalu, pengunjung sebagian besar yang datang meminta pemasangan gigi palsu. Usia pasien bervariasi, mulai 40 hingga 50 tahun. Untuk harga yang dipatok setiap pemasangan satu gigi palsu hanya Rp 100 ribu. “Dipasang langsung di sini (tempat praktik),” katanya.

Ia mengakui, kemampuannya dalam memasang gigi palsu didapat dari saudaranya bukan dari dunia akademis. “Diajari om saya (Diaz).  Kemampuannya diperoleh dari orangtuanya dulu turun-temurun,” ujar pria asli Madura ini.

Untuk pemasangan behel, ia patok harga Rp 500 ribu. Selama ini, belum ada pemasangan behel yang datang ke tempat praktiknya itu. Hanya saja, banyak pemakai behel yang datang untuk minta diganti karet di behel mereka.

Pemakai behel yang datang sebagian besar perempuan berusia 20 hingga 32 tahun. “Mereka juga sebenarnya langganan dari salon saat pasang behel, dan merasa tidak puas makanya datang ke sini,” tuturnya.

Tukang gigi lainnya, Nisap Riadi. Pria kelahiran Pamekasan, 22 April 1979 ini telah hampir 25 tahun menjadi tukang gigi. “Saya bekerja menjadi tukang gigi sejak 1993 di Jakarta. Sekitar 2.000 pindah ke sini,” kata pria yang membuka praktik di Ngaliyan ini.

Selama menjadi tukang gigi, Bendahara DPW Serikat Tukang Gigi Indonesia (STGI) Jateng ini mengaku pernah beberapa kali mendapat komplain dari pelanggannya terkait pemasangan gigi palsu. “Komplain pasti pernah. Karena gigi palsu ciptaan manusia, itu menjadi hal yang wajar,” katanya.

Diakui, selain memasang gigi palsu, dirinya juga melayani pemasangan behel. Bahkan untuk layanan ini, dirinya hanya membutuhkan waktu 5 menit.“Behel itu mudah, cukup 5 menit. Bahkan anak saya yang berumur 18 tahun bisa melakukannya,” katanya mantap.

Saat ditanya jika layanan pemasangan gigi dan behel sesuai UU hanya bisa dilakukan oleh dokter gigi, ia tidak bisa menerimanya dengan lapang dada. Menurut dia, tukang gigi telah lama ada sejak zaman dulu. Ketika zaman Presiden Soeharto masih terlihat gaung eksistensinya. Namun diakui saat ini banyak tantangan yang harus dilalui untuk tetap bisa praktik melayani pasien.  “Apabila pemerintah dapat menjamin kehidupan kami setiap hari, kami tak akan mempermasalahkan. Hampir enam tahun lalu kami telah melayangkan surat, namun tidak ada respons baik hingga sekarang. Kami ini membutuhkan pembinaan, bukan dibinasakan,” keluhnya.

Tukang gigi Ahmad, 49, mengaku sudah menekuni pekerjaannya itu sejak 1993 di Jakarta. Ia pindah ke Semarang pada 2000. “Awalnya saya ikut saudara yang lebih senior sampai bertahun-tahun,” akunya.

Ahmad mengatakan, kalau tempat praktiknya saat ini di Ngaliyan sudah mendapat izin dari Serikat Tukang Gigi Indonesia (STGI). Mengenai pemasangan kawat gigi atau behel, Ahmad mengakui layanan itu harusnya ditangani oleh dokter spesialis ortodontik. Tapi, berhubung pemasangan behel sangat mudah, ia pun membuka praktik ini juga. “Saya cuma 5 menit pasang behel,”katanya

Bagas (bukan nama sebenarnya), menjadi tukang gigi setelah beberapa tahun jadi asisten orang yang ahli pemasangan gigi. Saat itu, ia mengamati, meniru dan mempraktikkan pemasangan gigi menggunakan gigi palsu. “Setelah itu saya mulai buka praktik sendiri,” ujar pemuda asal Jember yang membuka praktik di Simongan, Semarang Barat ini.

Di Semarang, ia memiliki perkumpulan tukang gigi. Kebanyakan anggotanya berasal dari Jember dan Madura. Tarif di tempatnya sangat terjangkau. Untuk pemasangan satu gigi dibandrol mulai Rp 100 ribu.

Bagas juga terkadang menerima layanan pasang kawat gigi. Kebanyakan anak SMP dan SMA.

Ia mengakui, sekarang banyak orang yang menjadi tukang gigi dan pasang kawat gigi. Bahkan banyak salon yang sekarang ikut membuka layanan pasang kawat gigi.  "Ada juga yang membuka praktik gigi di kos-kosan. Mereka hanya menerima panggilan,” katanya.

Penelusuran Jawa Pos Radar Semarang, tukang gigi yang praktik di Kota Semarang rata-rata masih ada hubungan saudara. Pemilik Ihsan Dental di Jalan Gajah Raya Semarang, Nuril Ihsan, 35, mengaku juga memiliki kakak yang membuka usaha serupa. Nuril sendiri sudah  praktik selama 6 tahun dan tercatat di Persatuan Tukang Gigi Indonesia (PTGI).

“Saya punya keahlian awalnya ikut Mas Gufron, kakak saya yang buka praktik di Kaligawe selama 4 sampai 5 bulan, selanjutnya belajar secara otodidak dan buka sendiri sampai sekarang,” akunya.

Diakui, anggota PTGI sebelumnya rutin melakukan pertemuan sebulan sekali setiap sebelum tanggal 10. Namun sejak setahun ini mulai vakum.

Nuril juga mengakui, sang kakak sempat bekerja sama dengan dokter untuk membuatkan gigi palsu. “Saat saya masih ikut kakak, saya pernah membuatkan gigi pesanan dokter tersebut,”katanya.

Dikatakan, anggota PTGI bukan menjual produk, tetapi menjual jasa untuk pemasangan gigi palsu dan juga pemasangan behel. Tetapi untuk kasus tertentu yang susah dilakukan, pihaknya tetap mengarahkan pelanggan ke dokter gigi.

Tak hanya di Kota Semarang, praktik tukang gigi juga marak di Demak. Salah satunya Siarno, warga Dukuh Genting, Desa Sedo, Kecamatan Demak Kota.

Siarno menuturkan,  ia membuka layanan pasang gigi palsu, pangur dan menambal gigi rusak atau bolong sejak puluhan tahun lalu.  Namun Siarno mengaku tidak bisa memasang behel atau sejenisnya.

Untuk memasang gigi, lanjut dia, biayanya hanya Rp 30 ribu atau seikhlasnya. Ia mengaku belum pernah dikomplain dokter. Terkait aturan perundang-undangan yang melarang tukang gigi, secara terus terang ia tidak mengetahuinya. “Dulu memang pernah sekali ada sosialisasi, tapi saya tidak sampai lokasi karena tidak tahu tempatnya,”akunya polos.

Seorang mahasiswi di Semarang sebut saja Permata mengaku pernah memasang behel di salah satu tempat praktik pasang behel di Semarang. Saat itu, pemasangan behel dilakukan karena ada gangguan pada gigi atasnya, sekaligus untuk merapikan. Pada 2015, ia pasang behel seharga Rp 500 ribu hanya untuk bagian atas saja. Harga ini dinilainya cukup mahal dibanding saat ini yang bisa dijangkau dengan harga separohnya.

Permata mengatakan, behel yang dikenakannya memiliki umur dua tahun. Artinya, setelah dua tahun pemasangan, behel yang dikenakan harus dilepas. ”Waktu itu, saya pasang di Ra##a Behel di daerah Semarang atas. Tapi sekarang sepertinya sudah tutup. Saya juga sudah jarang ke sana, karena sudah saya lepas,” jelasnya sembari menceritakan di tempat itu, ia juga menjalani perawatan rutin setiap bulannya.

Seorang admin akun Instagram yang menawarkan jasa pasang behel gigi di Semarang menyebutkan, harga pasang behel gigi berkisar antara Rp 350 ribu hingga Rp 2,5 juta, termasuk biaya perawatan. Bisa dibilang biaya ini cukup murah. Sebab, diceritakan olehnya, pemasangan di tempatnya tidak memerlukan rontgen, sehingga dapat memangkas biaya.

Ia berkisah, tidak sedikit pasien yang memasang behel di tempat ia kerja. Kebanyakan adalah mahasiswa. Tidak hanya perempuan, namun juga laki-laki. Bahkan kata dia, ada pula pasien anak-anak yang ditangani oleh pemasang behel yang bukan spesialis ortodonti ini.

Untuk meyakinkan calon pelanggannya, admin biasanya menunjukkan hasil dari pengerjaan di tempat ini. ”Hasil-hasilnya bisa dilihat di Instagram kita kak. Untuk alamatnya nanti bisa saya kirim melalui WhatsApp,” kata dia saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang.

Diceritakan oleh admin tersebut, dirinya adalah admin kedua di tempat pemasangan behel ini. Ia memperkirakan, tempat pasang behel ini sudah beroperasi sejak 8 tahunan yang lalu. ”Sudah sangat lama, jadi memang bisa dipercaya,” ia mencoba meyakinkan.

Saat Jawa Pos Radar Semarang mencoba mendatangi lokasi pemasangan behel ini, tidak tampak plang penanda layaknya tempat praktik spesialis ortodontis. Tempat praktik ini bercat warna cerah dengan logo kartun usaha yang tertempel di sejumlah jendela, lengkap dengan nomor kontak yang bisa dihubungi.

Seorang pelanggan tukang gigi dari Krapyak, Kusuma, mengaku lebih memilih tukang gigi karena selain harganya terjangkau, hasilnya juga bagus.“Di tukang gigi plus pemasangan, saya hanya bayar Rp 300 ribu,” katanya.

Perawatan Paling Aman ke Spesialis Ortodontis

Maraknya penggunaan kawat gigi atau behel, rupanya tukang gigi pun ikut meraup untung dengan membuka jasa pemasangan behel. Selain itu, masyarakat kini banyak yang memilih untuk menggunakan jasa tukang gigi meskipun memiliki risiko yang tidak mereka ketahui.

Ketua Ikatan Ortodontis Indonesia (Ikorti) Jateng-DI Jogjakarta, drg Sri Suparwitri SU SpOrt (K) menyayangkan maraknya tukang gigi yang kini melakukan praktik melewati batas keilmuan. Menurutnya, baik pemasangan gigi maupun behel tidak boleh sembarangan dan memerlukan berbagai pertimbangan serta alat yang mumpuni.

“Dokter gigi saja tidak mungkin melakukan sendiri pemasangan gigi ataupun behel, karena itu sudah ada keilmuannya atau spesialisasinya lagi yang pendidikannya ditempuh paling tidak 3 tahun,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (28/1).

Dokter yang akrab dengan sapaan dr Loki ini mengatakan, jika memang pasien ingin melakukan pemasangan kawat gigi, disarankan untuk dilakukan oleh dokter gigi spesialis Ortodonsia. Untuk bisa mendapatkan titel ini, lanjutnya, seorang dokter gigi harus mengambil spesialis dengan belajar minimal 3,5 tahun untuk mengetahui seluk beluk maloklusi (hubungan antara gigi atas bawah dan kiri kanan, Red).

Bandingkan dengan seorang ahli gigi yang tidak diketahui dengan pasti darimana ia mendapatkan keterampilan memasang kawat gigi. Tentu jauh berbeda. Ia menegaskan bahwa ilmu orto bukanlah ilmu sederhana. Banyak hal kompleks yang harus dipahami, tidak asal memasang gigi atau behel semata.

“Dokter gigi spesialis ortodontis harus melakukan analisis dahulu terhadap gigi pasien, sehingga mampu memahami kasus. Selanjutnya melakukan perawatan perencanaan, melakukan pemasangan kawat, menguasai cara perawatan hingga mempertahankan hasil,” jelasnya.

Terkait dengan penindaklanjutan, pihaknya mengaku terus menggencarkan melalui pengabdian masyarakat, khususnya dilakukan oleh para mahasiswa, baik yang sedang menjalani pendidikan kedokteran maupun spesialisasi. Menurutnya, dengan cara itu, akan lebih mudah untuk mengedukasi langsung masyarakat.

Pasalnya, menindak langsung tukang gigi/behel tidak mudah. Bahkan, terkadang baru dapat dilakukan jika sudah ada korban atau pasien yang melapor. Hal itu lantaran pihak-pihak yang membawahi dan memberikan izin tidak satu pintu dan melibatkan banyak pihak. “Tukang gigi itu kan yang ngasih kewenangan dari Dinas Perdagangan, bukan kami. Makanya susah, bisa ditindak kalau ada yang lapor atau ada korban,” imbuhnya.

Sri mengharapkan kepada masyarakat supaya lebih memperhatikan pemilihan pelayanan terhadap penanganan bagi giginya. Sebab, gigi memiliki ha-hal yang kompleks dan dapat membahayakan diri jika penanganannya dilakukan oleh bukan yang mendalami bidangnya.

“Dokter gigi untuk melakukan tindakan juga akan mengobservasi terlebih dahulu, mencari tahu di jaringan-jaringan gigi tersebut apakah ada kelainan lainnya. Misalnya jika di gigi bagian belakang, itu banyak jaringan yang terhubung dengan bagian vital lain,” tandasnya.

Sulit Menindak, Karena Tak Ada Laporan Korban

PRAKTIK tukang gigi dan jasa pemasangan behel di Semarang seakan tidak ada matinya. Selain di offline, mereka juga menawarkan jasa secara online di media sosial. Entah karena tren atau harganya yang murah, sehingga keberadaan mereka menjadi alternatif pilihan masyarakat.

Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Cabang Semarang, Dr drg Diyah Fatmasari MDSc mengatakan, jika jasa tukang gigi atau salon yang menyediakan layanan pemasangan behel atau veneer (gigi kelinci) memang sudah berlangsung cukup lama. “Pada tahun 2016, kami pernah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Semarang dan pihak kepolisian dengan memberikan pengaduan adanya salon ilegal tersebut,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sayangnya, tindakan ilegal tersebut belum bisa ditertibkan, karena pihak kepolisian tidak bisa melakukan tindakan lantaran tidak ada laporan dari masyarakat yang menjadi korban. Ia menilai adanya UU Praktik Kedokteran Nomor 29 Tahun 2004 dibuat adalah untuk melindungi pasien, karena pemasangannya harus dilakukan oleh profesional. “Sebenarnya sudah sering sekali disosialisasikan, namun mungkin kurang gencar, sehingga belum dipahami masyarakat,”jelasnya.

Aturan lainnya adalah pasal 78 tentang praktik kedokteran yang menyebutkan, setiap orang yang dengan sengaja menggunakan alat, metode atau cara lain  dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang menimbulkan kesan  seolah-olah yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi yang telah memiliki  surat tanda registrasi dokter atau surat tanda registrasi dokter gigi atau surat izin  praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 ayat (2) dipidana dengan pidana  penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp 150 juta.

“Selain itu sesuai dengan peraturan Menkes RI Nomor 39 Tahun 2014, menyebutkan jika tukang gigi di daerah terkait izin dan pembinaannya dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota,”ucapnya.

Sementara pada pasal 6 di peraturan dari Menkes tersebut menjelaskan jika pekerjaan tukang gigi adalah membuat gigi tiruan atau penuh lepasan yang terbuat dari heat cuirng acrylic dan tidak boleh menutupi sisa akar gigi. Jika ada pasisen yang datang dengan sisa akar, maka harus dikonsultasikan ke dokter ggi untuk mencabut akar yang sisa.

“Namun banyak juga tukang gigi nakal yang nekat, sehingga menyebabkan peradangan pada gusi. Terlebih dalam memasang behel pun tidak boleh sembarangan dan harus hati-hati, harus dibersihkan pula karang gigi dan plak yang ada,” tambah drg Belinda Chandra Hapsari yang merupakan anggota admin @korban tukang gigi.

Disinggung terkait masih eksisnya tukang gigi dan jasa pemasangan behel ilegal dipicu karena mahalnya perawatan gigi dan pemasangan behel oleh ahlinya, Diyah mengklaim masyarakat saat ini bisa mendapatkan jaminan atau subsidi dari BPJS Kesehatan, sehingga bisa mendapatkan subsidi ataupun bahkan gratis. “Bisa menggunakan BPJS atau jaminan kesehatan,” tuturnya.

Karena banyaknya risiko memasang gigi atau behel ilegal, sambung Diyah, perlu adanya pemberian edukasi secara kontinyu kepada masyarakat tentang kesehatan gigi oleh PDGI ataupun Ikorti. “Harapannya tentu tidak ada korban lagi yang jatuh akibat praktik ilegal ini,” harapnya.

Ketua Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) Kota Semarang, Ngargono mengatakan jika masalah tersebut memang sangat rumit. Di satu sisi terkait aturan memang dilarang, namun di sisi lain pasar sangat membutuhkan jasa tersebut. "Mungkin pertimbangannya lebih murah, karena ke dokter spesialis biayanya cukup mahal," katanya.

Ia menerangkan, karena biaya yang murah terkadang masyarakat lebih memilih datang ke penyedia jasa pemasangan behel atau gigi palsu tanpa mempertimbangkan aspek keamanan dan perizinan."Di sini pemerintah harus berperan, bukan merekomendasikan atau memberi solusi. Bisa saja mereka ini digandeng untuk meningkatkan kualitas," tuturnya.

Terkait tuntutan dari PDGI untuk menutup usaha ilegal tersebur, Ngargono mengaku hal tersebut wajar. Namun tetap harus mempertimbangkan daya beli masyarakat khususnya menengah ke bawah. "Bisa jadi tuntutan tersebut terjadi karena persaingan, namun harus dicari muaranya mengapa masyarakat masih membutuhkan jasa tersebut," katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, Yulianto Prabowo, mengatakan, tukang gigi apalagi masyarakat umum tidak boleh membuka praktik memasang bahel. Khusus tukang gigi sudah ada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 39 Tahun 2014 tentang pembinaan, pengawasan dan perizinan, pekerjaan tukang gigi. "Kalau berbicara tukang gigi harus tunduk pada aturan tersebut. Ya tidak boleh melanggarnya," tegasnya.

Ia menambahkan, jika tukang gigi melanggar, maka sanksinya merupakan kewenangan dari pihak kabupaten/kota setempat.

Hal senada diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Widoyono, mengatakan sesuai kompetensi dan kewenangan bahwa pemasangan behel tidak boleh dilakukan oleh seseorang yang tidak memiliki kompetensi sebagai dokter gigi. “Berarti hanya boleh dilakukan oleh dokter gigi,” katanya.

Pihaknya akan melakukan pembinaan terhadap semua tukang gigi yang tergabung dalam Serikat Tukang Gigi Indonesia (STGI). “Kewenangan tukang gigi adalah membuat dan memasang gigi palsu dari bahan akrilik. Tidak termasuk memasang behel,” tegasnya. 

(sm/ewb/hib/hid/cr4/tsa/den/fth/amu/ida/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia