Minggu, 22 Jul 2018
radarsemarang
icon featured
Features
Bus-Bus Tuyul Legendaris yang Pernah Berjaya

Bodi Bus ‘Disembelih’ Hingga Jadi Media Iklan Berjalan  

Cover Story

Selasa, 09 Jan 2018 13:12 | editor : Baskoro Septiadi

Bodi armada bus Minas yang sudah rusak ‘disembelih’ lalu dijual ke rosok besi tua.

Bodi armada bus Minas yang sudah rusak ‘disembelih’ lalu dijual ke rosok besi tua. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID - Bus Minas atau Nasima dulu penguasa jalanan. Pada 2000-an, tak sulit menemukan bus warna putih-merah  ini. Namun kini, dari 200 lebih armada Minas, tinggal sekitar 8 yang mengaspal.

Menurut Sardi, selama masih ada sopir yang bersedia menjalankan dan bus-bus tidak ngadat, akan tetap beroperasi. Sementara jika sang sopir menyerah, bus pun tinggal di kandang alias ndongkrok.

Biasanya bus yang sudah tidak beroperasi, bagian-bagian spare part yang masih bisa digunakan diambil untuk ‘dikanibalkan’ kepada bus yang masih bisa jalan. Hal ini terpaksa dilakukan lantaran untuk membeli spare part baru sudah terasa berat, lantaran pendapatan bus yang terus merosot.

”Dengan pendapatan yang minim, tentu tidak mungkin untuk melakukan peremajaan. Kalau yang memang sudah ndak bisa diambil apa-apanya ya bodi bus disembelih. Dijual ke rosok besi tua,” jelas Sardi sambil tersenyum.

Bodi bus malang itu dipotong-potong  lalu dijual kiloan agar tidak memenuhi pool yang saat ini diisi sejumlah armada Minas khusus untuk bus pariwisata.

”Kalau ini nanti dilebur Mas, masuk ke peleburan. Sudah tidak ada yang bisa dimanfaatkan lagi,” ujar Sugi dengan logat Kebumen kental.

Bersama sejumlah temannya, pria inilah yang membeli bangkai bus yang dulu kedatangannya selalu dinantikan pekerja, anak sekolah, dan sejumlah penumpang setia lainnya.

Beberapa bus yang masih bisa berjalan, oleh pengelola dimaksimalkan untuk memperoleh pemasukan. Salah satunya, bus ini dijadikan sebagai media iklan berjalan. Paling banyak, produk furniture yang iklannya sedikit mempercantik wajah bus yang sudah tua. Selain membuat bus terlihat sedikit menarik, pemasangan iklan ini memberikan tambahan pendapatan bagi pengelola.

Kernet bus Barokah Trans, Agus, mengaku, di Terminal Terboyo kini masih ada sekitar 30-an armada bus tuyul yang beroperasi. Bus ¾ yang masih jalan itu melayani rute Boja Kendal, Ambarawa, Mangkang, Penggaron dan Demak. "Rute bus kami Terboyo ke Boja. Sehari paling 3 tangkep atau 3 kali PP,"kata Agus saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di Terminal Terboyo, Sabtu (6/1).

Sopir bus Podang Mas jurusan Terboyo-Mangkang, Budi, mengaku, pendapatan dalam sehari tidak tentu. Jika penumpang ramai, pendapatan kotor mencapai 1 jutaan. Setelah dipotong BBM dan setoran, pendapatan bersihnya sekitar Rp 200 ribuan. “Tapi itu kalau pas bagus penumpangnya. Sehari paling 3 sampai 4 kali PP,"ujarnya. 

Kernet bus Intan Permatasari, Anton, mengatakan, sudah 14 tahun bekerja di jalanan. Pria asal Jepara ini juga pernah menjadi kernet bus Nasima trayek Genuk -Elisabeth.  "Bus Nasima memang melegenda, tapi sekarang sudah surut. Tinggal bus pariwisata,"katanya.

Meski sekarang mudah membeli kendaraan pribadi, salah satu penumpang bus tuyul, Teguh Heryawan, mengaku lebih suka naik bus saat berangkat dan pulang kerja. Sebab, ia memiliki kenangan khusus saat naik bus. Yakni, ia melamar istrinya di dalam bus.

"Waktu itu, kami naik bus Atlas Lintas Sumatera ketika sama-sama ada pelatihan ke Sumatera. Di dalam bus, saya melamar istri saya. Sehingga sampai sekarang, setiap keluar kota, saya suka naik bus daripada pakai mobil sendiri,"ujar pria 47 tahun ini.

(sm/cr4/jks/bas/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia