Jumat, 20 Jul 2018
radarsemarang
icon featured
Radar Semarang

Aksi Kamisan Semarang Tuntut Penyelesaian Kasus HAM

Kamis, 04 Jan 2018 18:07 | editor : Pratono

MELAWAN LUPA : Aktivis Aksi Kamisan Semarang menggelar aksi unjuk rasa menuntut penyelesaian kasus pelanggaran HAM di depan kantor Gubernur Jawa Tengah, Kamis (4/1/2018).

MELAWAN LUPA : Aktivis Aksi Kamisan Semarang menggelar aksi unjuk rasa menuntut penyelesaian kasus pelanggaran HAM di depan kantor Gubernur Jawa Tengah, Kamis (4/1/2018). (Pratono/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID—Puluhan orang kembali menggelar Aksi Kamisan di depan kantor Gubernur Jawa Tengah, Kamis (4/1/2018) sore. Dalam aksi unjuk rasa yang rutin digelar setiap Kamis ini, mereka kembali mengingatkan pemerintah terkait banyaknya kasus dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang belum terselesaikan.

KREATIF : Aksi penggalangan dana Aksi Kamisan Semarang dengan menyablon kaos.

KREATIF : Aksi penggalangan dana Aksi Kamisan Semarang dengan menyablon kaos. (Pratono/Jawa Pos Radar Semarang)

Juru Bicara Aksi Kamisan Semarang Samuel Bona Rajagukguk mengatakan, penegakan supremasi hukum hanya slogan. Hukum kini tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Ia juga mengingatkan, kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu dan sekarang, banyak yang tidak terselesaikan. Seperti peristiwa Trisakti, pembunuhan Marsinah, pembunuhan wartawan Udin, Tanjung Priok, pembantaian massal 1965, peristiwa 27 Juli 1996, Santa Cruz, penculikan aktivis demokrasi 1997/1998, penembakan misterius, DOM Aceh, pelanggaran HAM dan demokrasi bagi Papua dan lainnya.

“Tidak adanya itikad baik oleh penguasa semakin menguatkan bahwa rezim sekarang tidak berpihak pada agenda reformasi,” jelas Samuel.

Aksi-aksi represif juga masih terjadi di mana-mana. Seperti perampasan hak atas tanah petani di Kulonprogo dengan cara kekerasan, pengeroyokan terhadap pengacara LBH Jakarta oleh Satpol PP dan polisi, intimidasi terhadap petani Surokontowetan, pemukulan terhadap ibu-ibu warga Kendeng yang memperjuangkan hak atas lingkungannya. Kemudian pemberangusan kebebasan berekspresi, intimidasi pada mahasiswa Papua, dan masih banyak yang lainnya.

(sm/ton/ton/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia