Minggu, 22 Jul 2018
radarsemarang
icon featured
Ekonomi

Harga Bawang Bikin Galau

Kamis, 04 Jan 2018 11:05 | editor : M Rizal Kurniawan

MERUGI : Petani memanen bawang merah di lahan pertanian yang kebanjiran.

MERUGI : Petani memanen bawang merah di lahan pertanian yang kebanjiran. (wahib pribadi/jawa pos radar semarang)

RADARSEMARANG.ID- Harga bawang di tingkat petani saat panen raya hingga kini masih belum stabil. Meski ada kenaikan dibandingkan awal panen raya beberapa waktu lalu, namun harga sekarang yang mencapai antara Rp 10 ribu hingga Rp 11 ribu perkilogram masih belum dapat menguntungkan petani. Bahkan, petani masih mengalami kerugian dan sulit balik modal.

Anggota Komisi B DPRD Demak, H Farodli menegaskan bahwa petani baru bisa memperoleh keuntungan jika harga bawang minimal di kisaran Rp 14 ribu sampai Rp 15 ribu perkilogram di tingkat petani. Namun, jika masih di bawah angka harga tersebut, petani masih terbilang rugi.

“Harga bawang merah saat ini memang sudah membaik. Namun, belum stabil sepenuhnya. Awal panen harga hancur-hancuran Rp 3 ribu sampai Rp 4 ribu perkilogram. Kemudian naik menjadi Rp 6 ribu sampai Rp 8 ribu perkilogram. Sekarang naik lagi menjadi Rp 10 ribu hingga Rp 11 ribu perkilogram,” ujarnya, kemarin.

Naiknya harga bawang merah ini, kata Farodli, terbantu oleh cuaca yang cerah serta makin berkurangnya panen raya di daerah lain. Farodli menambahkan, untuk menanam bawang merah dibutuhkan anggaran atau modal untuk biaya pembibitan sekitar 8 kuintal dengan harga sekitar Rp 16 juta. Kemudian, untuk biaya perawatan termasuk upah tenaga dan pembelian obat-obatan pestisida serta pupuk mencapai Rp 10 juta. Karena itu, modal awal untuk menanam bawang merah setidaknya dibutuhkan dana sebesar Rp 26 juta untuk satu bahu.

Jika dalam kondisi normal, pendapatan petani satu bahu bisa memperoleh pemasukan sebesar Rp 35 juta sampai Rp 42 juta. Namun, jika harga anjlok seperti sebelumnya pendapatan petani ikut terpuruk. “Kalau saat panen harga anjlok Rp 24 juta misalnya, petani masih rugi dan tidak kembali modalnya,” kata Ketua DPD PAN Demak ini.  

Karena itu, Komisi B berharap, Pemkab Demak melalui instansi terkait dapat membantu petani bawang merah memperlancar jaringan pemasaran produk pertanian tersebut. “Biasanya, kalau yang membeli itu pedagang dari luar daerah, petani masih untung. Sebab, mereka membeli bawangnya sekaligus daunnya agar lebih awet. Tapi, kalau pembelinya tengkulak lokal, petani justru rugi,” kata dia.

(sm/hib/zal/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia