Minggu, 22 Jul 2018
radarsemarang
icon featured
Features
Lebih Dekat dengan Komunitas Sahabat Tenggang

Sabar Hadapi Anak-Anak yang Terbiasa Bicara Kasar dan Kotor  

Selasa, 02 Jan 2018 11:09 | editor : Baskoro Septiadi

MENGAJAR ANAK-ANAK : Para volunter Komunitas Sahabat Tenggang (KST) Semarang penuh kesabaran memberikan pendidikan tambahan kepada anak-anak di Kampung Tenggang.   

MENGAJAR ANAK-ANAK : Para volunter Komunitas Sahabat Tenggang (KST) Semarang penuh kesabaran memberikan pendidikan tambahan kepada anak-anak di Kampung Tenggang.   (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID - Bekerja senyap namun nyata adalah tagline yang dilakukan Komunitas Sahabat Tenggang Semarang dalam mencerdaskan anak bangsa. Seperti apa?

Kepedulian terhadap anak-anak bangsa, tak harus terlihat oleh publik. Sekalipun tak berlabel organisasi resmi yang berbadan hukum, namun terus mewujudkan aksi nyata dan peduli terhadap nasib generasi muda mendatang. Demikian yang dilakukan Komunitas Sahabat Tenggang (KST) Semarang dalam mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa agar menjadi pribadi yang lebih baik.

Saat wartawan Jawa Pos Radar Semarang berkunjung ke basecamp KST, di Jalan Tenggang RT 05 RW 07 Kelurahan Tambakrejo, Kota Semarang, terlihat anak-anak sedang asyik belajar program RUBI (Rumah Belajar Impian) di ruang sederhana lantai dua. Di dalamnya ada penunjang buku-buku pelajaran dan beberapa fasilitas belajar. Puluhan anak juga terlihat rajin mengikuti pelajaran dengan cara duduk lesehan.

Salah satu anak adalah, Irfan Maulana Febriansyah, siswa kelas 6 SD Karangroto 01, Semarang. Ia salah satu anak yang rutin belajar bersama para volunter. Bahkan ia salah satu anak yang berprestasi dalam mata pelajaran matematika. Pernah menyabet juara pada lomba matematika tingkat SD se-Jateng di Unnes tahun 2016 lalu. “Senang belajar disini. Banyak teman dan ada kakak-kakak pengajar yang sabar dan baik-baik,” kata Irfan.

Ada tiga volunter atau pengajar yang menemani puluhan anak belajar. Antara lain Deviana Masyita, mahasiswi jurusan Administrasi Perkantoran Undip, kemudian Dwi Nurfatma, dan Novita Dwi Lokasari, pelajar kelas 12 SMA Semesta Semarang.

Dwi Nurfatma dan Novita Dwi Lokasari mengaku belum lama menjadi volunter di komunitas tersebut. Namun jiwa sosial keduanya untuk pendidikan perlu diapresiasi. Pasalnya, saat kondisi hujan, tak menghalangi niatnya untuk mengajar anak-anak. Apalagi keduanya nekat naik angkutan kota dari Kecamatan Gunungpati menuju Kelurahan Tambakrejo. Jaraknya tentu tidak dekat, melewati dua sungai besar di Semarang. Yakni Sungai Banjir Kanal Barat (BKB) dan Sungai Banjir Kanal Timur (BKT). “Saya belum lama bergabung menjadi volunter. Saya mulai bergabung dengan anak-anak disini dari browsing internet,” kata Dwi Nurfatma.

KST sendiri digawangi oleh alumni Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Enra Risti, mantan aktifis Forum Indonesia Muda (FIM). Dibentuk pada 30 Desember 2012 lalu, karena rasa prihatin atas beragam permasalahan sosial yang menimpa warga Kampung Tenggang, yang lokasinya tak jauh dari muara laut utara.

“Awal berdirinya, saat FIM hendak mencari daerah di Semarang yang masih terdapat masalah sosial. Akhirnya, ketemu Kampung Tenggang ini. Tapi waktu itu, Enra Risti masih mahasiswi, kemudian dia dan teman-temannya sepakat mendidirkan komunitas ini,” kata Koordinator Bidang Humas KST Semarang, Dhiva Gustav Febyasto kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (1/1/2018) kemarin.

Komunitas yang memiliki basecamp di Jalan Tenggang RT 05 RW 07 Kelurahan Tambakrejo, Kota Semarang, usianya kini sudah genap lima tahun. Hampir tiap tahun melakukan rekrutmen volunter. Untuk kepengurusan tahun 2018 ini, ada 15 volunter, yang terdiri atas para mahasiswa dan pelajar SMA di Kota Semarang.

Fafa panggilan akrab Dhiva Gustav Febyasto mengungkapkan beberapa program belajar yang diberikan komunitasnya terhadap anak-anak di Kampung Tenggang. Di antaranya Rumah Belajar Impian (RUBI), Wisata Edukatif, Kelas Inspirasi, Kelas Komputer, dan perpustakaan Jurmi. Dari sekian program belajar tersebut, wisata edukatif paling diminati anak-anak, karena memberikan pelajaran di dalam ruang. Para pelajar diajak sesekali belajar sambil bermain di sekitar tambak. Ada juga outbond di beberapa tempat. Metode ini dianggap bagus, memberikan pengetahuan tentang alam.

“Tujuan awal program kami adalah untuk berbagi dengan adik-adik tentang pendidikan karakter yang baik . Bagaimana sopan santun yang baik dengan orang yang lebih tua dan lingkungan sekitarnya, ternyata anak-anak suka,” sebut mahasiswa semester tiga jurusan Public Relation (PR) Undip ini.

Dikatakannya, untuk RUBI, memberi wadah bagi anak-anak sebagai tempat belajar dan bermain lebih positif. Hal ini mengurangi kesempatan anak-anak bermain dengan aktivitas yang tidak jelas saat sore hari. Kegiatan rutin belajar dimulai setiap hari Senin dan Jumat pukul 16.00.

Diakuinya, banyak tantangan ketika mengajar anak-anak wilayah tersebut, karena lingkungan sosial yang berbeda dengan wilayah lain. “Banyak remaja putus sekolah dan suka judi. Sedangkan anak-anak suka bicara agak kasar dan kotor disini, makanya butuh kesabaran penuh. Komunitas ini, awalnya dulu dibentuk dan dikelola oleh FIM dan Sahabat Pulau, sama-sama organisasi yang fokus pada permasalahan sosial, terutama masalah pendidikan,” ungkapnya.

Namun demikian, kehadiran KST telah memberikan dampak positif untuk Kampung Tenggang. Selain menjadi lebih ramai karena banyak kegiatan belajar dan bermain anak-anak, juga lebih berwarna dengan kehadiran para volunter. Tak dipungkiri, dengan usia komunitas yang sudah masuk lima tahun, banyak suka duka yang dialami. Di antaranya saat volunter yang datang sedikit, karena sibuk skripsi dan tugas kuliah maupun sekolah. Kemudian volunter datang dan, pergi seperti komunitas pada umumnya. “Sukanya kampung ini jadi lebih ramai, karena sering dibuat kegiatan mahasiswa. Adik-adik disini juga terwadahi untuk belajar dan bermin,” keluhnya.

Dikatakannya total volunter yang sudah bergabung sejak pertama KST berdiri, untuk sekedar membantu mengajar ada sekitar 50 orang. Ia juga mengaku komunitasnya rutin melakukan kampanye via media sosial dengan cara mengajak siapa saja yang memiliki pengetahuan untuk berbagi terhadap anak binaannya. 

Komunitas ini memiliki website, www.sahabattenggangsemarang.org, kemudian twitter: @sahabattenggang, instagram: @sahabattenggangsmg, facebook dengan nama: sahabat tenggang semarang, line: aoe0557.

(sm/jks/bas/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia